post image
Ilustrasi aksi "No Kings" menentang Donald Trump dan kebijakannya.
KOMENTAR

Di banyak tempat, massa membawa replika mahkota retak. Di tempat lain, mereka membawa peti mati karton bertuliskan satu kata: “King.” 

Oleh: Muhammad Joni,  Ketua Masyarakat Konstitusi Indonesia (MKI).

SABTU siang, 28 Maret 2026. Udara masih dingin di Minneapolis, tetapi jalan-jalan di sekitar Capitol telah penuh sejak pagi. Ada veteran perang dengan jaket lusuh, ibu muda mendorong stroller, mahasiswa, buruh, guru, pensiunan, pastor, aktivis, dan anak-anak kecil yang belum sepenuhnya mengerti mengapa orang dewasa di sekeliling mereka meneriakkan kalimat yang sama.

“No Kings! No Kings!”

Di New York, massa memenuhi Fifth Avenue. Di Washington, ribuan orang berdiri di depan Lincoln Memorial. 

Di Los Angeles, mereka berbaris di sepanjang Sunset Boulevard. Di Chicago, orang-orang memenuhi Grant Park. 

Di Houston, Dallas, Phoenix, Atlanta, Seattle, Boston, Philadelphia, Detroit, Portland, hingga Honolulu, aksi yang sama muncul dengan wajah berbeda tetapi pesan yang sama.

Bahkan di Texas, Ohio, Montana, Alabama, dan negara bagian konservatif yang selama ini identik dengan patriotisme dan ketertiban, orang-orang juga turun ke jalan. 

Di Vermont dan Maine, aksi berlangsung di kota-kota kecil. Di Alaska, demonstrasi digelar di tengah udara dingin. 

Di Wyoming, massa tidak besar, tetapi poster-poster yang diangkat berbunyi sama: “No Kings.”

Dalam satu hari, lebih dari 3.300 aksi berlangsung di seluruh 50 negara bagian. Diperkirakan sekitar delapan juta orang terlibat: di jalan, taman kota, kampus, depan balai kota, hingga sekitar gedung parlemen negara bagian. Ia menjadi salah satu mobilisasi sipil terbesar dalam sejarah Amerika modern.

Poster-poster itu sederhana, tetapi tajam:

“We the People, Not the King.”

“Democracy, Not Monarchy.”

“The Constitution Has No Throne.”

Di banyak tempat, massa membawa replika mahkota retak. Di tempat lain, mereka membawa peti mati karton bertuliskan satu kata: “King.” 

Seorang perempuan tua di Pennsylvania memegang papan kecil: “Ayah saya melawan raja-raja di Eropa. Saya tidak akan berlutut kepada satu pun di sini.”

Tidak ada satu partai, satu organisasi, atau satu tokoh yang sepenuhnya menguasai aksi itu. Yang bergerak seperti arus bawah tanah yang tiba-tiba muncul serentak. 

Orang-orang datang karena merasa ada sesuatu yang berubah di Amerika: kekuasaan terasa terlalu personal, terlalu besar, dan terlalu dekat dengan bayangan seorang raja.

Banyak orang mengira mereka sedang memprotes satu presiden. Sesungguhnya tidak. Yang mereka tolak adalah gagasan bahwa seorang pemimpin hanya dan hanya boleh berdiri jika:  di atas hukum, di atas konstitusi, dan di atas rakyat.

Di Amerika, ketakutan terhadap raja bukanlah hal baru. Negara itu lahir dari pemberontakan terhadap monarki. Para pendirinya percaya bahwa seorang pemimpin yang terlalu kuat, terlalu lama dipuja, dan terlalu sedikit dibatasi, cepat atau lambat akan berubah menjadi raja dengan nama baru.

Karena itu, ketika jutaan orang turun ke jalan pekan lalu, mereka tidak sekadar membawa kemarahan. Mereka membawa ingatan sejarah. Mereka ingin mengingatkan bahwa konstitusi Amerika tidak mengenal singgasana.

Untuk pertama kalinya sejak lama, dari pesisir timur sampai barat, dari negara bagian merah hingga biru, Amerika tampak mengucapkan kalimat yang sama: No King, King is Death.

Tabik.


Perang AS versus Iran Ilusi Kemenangan dan Realitas Eskalasi

Sebelumnya

GREAT Institute: Tiga Prajurit TNI Gugur Terkait Perang Israel dan Iran

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Dunia