Di titik inilah muncul pertanyaan penting, apakah Reformasi 98 telah selesai, atau justru sedang mengalami redefinisi besar-besaran melalui perubahan framing global terhadap Indonesia?
Oleh: Safriady, Pemerhati Isu Strategis & Doktor Ilmu Komunikasi Unpad
DUA puluh delapan tahun setelah tumbangnya rezim Orde Baru melalui gelombang Reformasi Indonesia 1998, Indonesia justru memasuki fase yang paradoksal. Reformasi yang dahulu lahir sebagai simbol perlawanan terhadap otoritarianisme, kini perlahan berubah menjadi arena perebutan narasi, label politik, dan framing global yang jauh lebih kompleks dibanding era 1998 itu sendiri.
Di tengah situasi tersebut, nama Prabowo Subianto menjadi salah satu titik paling menarik untuk dibaca. Bukan semata karena ia kini memimpin Indonesia, melainkan karena ia adalah figur yang sejak awal berdiri di persimpangan sejarah Reformasi. Ia pernah diposisikan sebagai simbol masa lalu, tetapi kini justru menjadi pemegang mandat masa depan. Di titik inilah muncul pertanyaan penting, apakah Reformasi 98 telah selesai, atau justru sedang mengalami redefinisi besar-besaran melalui perubahan framing global terhadap Indonesia?
Pada 1998, dunia internasional memandang Indonesia melalui satu bingkai besar demokratisasi. Krisis moneter Asia menghancurkan ekonomi nasional, legitimasi politik runtuh, dan gerakan mahasiswa menjelma menjadi kekuatan moral yang memaksa perubahan. Saat itu, framing global terhadap Indonesia sangat jelas. Indonesia dianggap harus keluar dari otoritarianisme menuju demokrasi liberal, keterbukaan pasar, supremasi sipil, dan reformasi institusi keamanan.
Framing itu tidak lahir dalam ruang hampa. Pasca runtuhnya Perang Dingin, dunia memang bergerak menuju dominasi narasi demokrasi liberal Barat. Banyak negara berkembang dipaksa mengikuti standar baru tata kelola global yaitu transparansi, hak asasi manusia, liberalisasi ekonomi, dan restrukturisasi militer. Indonesia menjadi salah satu laboratorium besar perubahan tersebut.
Dalam konteks itu, figur Prabowo ketika itu ditempatkan dalam posisi antagonistik terhadap semangat Reformasi. Ia menjadi bagian dari simbol transisi keras antara Orde Baru dan era baru Indonesia. Selama bertahun-tahun, framing internasional terhadap dirinya cenderung identik dengan isu masa lalu, pelanggaran HAM, dan bayang-bayang militerisme.
Namun sejarah sering kali tidak bergerak lurus. Dua dekade kemudian, lanskap geopolitik dunia berubah drastis. Dunia tidak lagi hanya berbicara soal demokrasi, tetapi juga stabilitas, ketahanan pangan, keamanan energi, perang teknologi, rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok, hingga ancaman cognitive warfare dan disinformasi digital. Dalam situasi global seperti ini, banyak negara mulai meninggalkan romantisme demokrasi prosedural dan kembali menekankan kepemimpinan kuat serta stabilitas nasional.
Di sinilah framing terhadap Prabowo mengalami perubahan signifikan. Dunia internasional kini tidak lagi hanya membaca Indonesia dari perspektif Reformasi 98, tetapi dari posisi strategis Indonesia dalam percaturan Indo-Pasifik. Indonesia dipandang sebagai kekuatan penyeimbang kawasan, pengendali ALKI, pemain penting ASEAN, sekaligus negara dengan bonus demografi dan sumber daya strategis yang besar.
Akibatnya, pendekatan global terhadap kepemimpinan Indonesia ikut berubah. Stabilitas menjadi kata kunci baru. Dunia bisnis global membutuhkan kepastian investasi. Negara-negara besar membutuhkan Indonesia untuk menjaga keseimbangan kawasan. Bahkan industri pertahanan global melihat Indonesia sebagai pasar sekaligus mitra strategis.
Maka, ketika Prabowo akhirnya memenangkan kontestasi politik nasional dan menjadi presiden, dunia internasional pun menunjukkan sikap yang jauh lebih pragmatis dibanding dua dekade lalu. Framing lama perlahan memudar digantikan framing baru, strong leadership, defense diplomacy, food security, dan geopolitical balancing.
Fenomena ini menunjukkan satu kenyataan penting bahwa politik global tidak pernah benar-benar abadi dalam moralitas, tetapi sangat cair dalam kepentingan. Tokoh yang dahulu diposisikan kontroversial dapat berubah menjadi mitra strategis ketika konstelasi dunia berubah.
Tetapi justru di sinilah tantangan terbesar Indonesia hari ini. Reformasi berisiko kehilangan arah apabila hanya dipahami sebagai kemenangan prosedural demokrasi tanpa kemampuan membangun ketahanan nasional. Sebaliknya, stabilitas juga dapat menjadi jebakan baru apabila dipakai untuk membungkam kritik publik dan menghidupkan kembali feodalisme kekuasaan dalam wajah modern.
Indonesia saat ini hidup di era post-reformasi yang jauh lebih rumit dibanding 1998. Ancaman bukan lagi semata tank di jalanan atau represi fisik negara, tetapi operasi persepsi, manipulasi algoritma, perang informasi, hingga polarisasi sosial yang diproduksi secara digital. Dalam situasi seperti itu, framing global terhadap Indonesia tidak lagi dibentuk hanya oleh media internasional, tetapi juga oleh platform digital, buzzer geopolitik, lembaga think tank global, bahkan artificial intelligence.
Karena itu, pertarungan terbesar Indonesia ke depan bukan sekadar mempertahankan demokrasi, melainkan mempertahankan kedaulatan narasi nasional. Sebab bangsa yang gagal mengendalikan narasinya sendiri akan mudah dikendalikan persepsi global.
Prabowo kini berada dalam posisi historis yang unik. Ia memimpin Indonesia bukan di era transisi Reformasi, melainkan di era turbulensi geopolitik global. Tantangannya bukan hanya menjaga pertumbuhan ekonomi atau stabilitas politik, tetapi memastikan bahwa Indonesia tidak kembali menjadi objek framing kekuatan besar dunia.
Reformasi 98 pada akhirnya bukan sekadar peristiwa sejarah, melainkan proses panjang mencari keseimbangan antara kebebasan dan stabilitas, antara demokrasi dan ketahanan negara, antara kepentingan nasional dan tekanan global.
Pertanyaan besarnya kini bukan lagi apakah Reformasi berhasil atau gagal. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah setelah 28 tahun, siapa sebenarnya yang sedang membingkai arah Indonesia hari ini? Apakah rakyat Indonesia sendiri, atau justru kekuatan global yang terus bermain di balik layar sejarah bangsa?




KOMENTAR ANDA