post image
Aktivis Reformasi 1998 asal Bandung, Khalid Zabidi
KOMENTAR

Menghadapi situasi geopolitik global yang penuh ketidakpastian, seruan untuk memperkuat persatuan domestik kembali digaungkan oleh elemen warga sipil. Aktivis Reformasi 1998 asal Bandung, Khalid Zabidi, menegaskan bahwa soliditas seluruh elemen bangsa merupakan syarat mutlak agar Indonesia tidak sekadar bertahan, melainkan mampu melompat menjadi negara maju di tengah dinamika pancaroba dunia saat ini.

Pernyataan ini membawa ingatan publik pada memori kolektif peristiwa Mei 1998. Pada masa itu, gerakan mahasiswa dan aktivis—termasuk di Bandung—menjadi motor penggerak tumbangnya rezim Orde Baru guna menuntut demokratisasi, supremasi hukum, dan perbaikan hajat hidup orang banyak yang hancur akibat krisis moneter. Kini, setelah hampir tiga dekade bergulir, semangat perubahan tersebut dinilai harus bertransformasi menjadi energi persatuan nasional guna menghadapi tantangan zaman yang berbeda.

Menurut Khalid, posisi geopolitik Indonesia saat ini menuntut kecakapan diplomatik yang tinggi. Ia mengutip filosofi politik luar negeri klasik Indonesia dengan menyatakan bahwa bangsa ini harus mampu "mendayung di antara dua karang." 

Strategi bebas-aktif tersebut dinilai sangat relevan agar Indonesia tidak terjebak dalam polarisasi kekuatan besar dunia, sekaligus tetap kokoh mengamankan kepentingan nasionalnya di jalur perdagangan global.

Dalam konseptualisasi tersebut, Khalid menilai Presiden Prabowo Subianto sebagai sosok nakhoda yang tepat untuk memimpin lambung kapal Indonesia mengarungi ombak global. Kepemimpinan yang kuat dan berlatar belakang strategis dianggap menjadi modal krusial untuk menjaga stabilitas makro sekaligus mengeksekusi kebijakan taktis di tingkat akar rumput secara tegas.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa arah pembangunan di bawah kepemimpinan saat ini harus bertumpu pada prinsip kemandirian sejati atau berdikari (berdiri di atas kaki sendiri). Penguatan sektor domestik dan kedaulatan pangan maupun energi dinilai menjadi tameng utama dalam melindungi kedaulatan negara dari intervensi serta guncangan pasar internasional.

Menutup pandangannya, aktivis lintas generasi ini menyatakan bahwa cita-cita murni Reformasi 1998—yaitu kesejahteraan yang berkeadilan—hanya bisa dicapai melalui program-program strategis yang berorientasi langsung pada kerakyatan. Ia berharap pemerintah konsisten menggulirkan kebijakan yang berfokus pada pengentasan kemiskinan ekstrem dan peningkatan taraf hidup, sehingga kemajuan ekonomi dapat dirasakan secara merata oleh seluruh rakyat Indonesia.


Reformasi 98, Prabowo, dan Framing Global

Sebelumnya

KOMRAD 98: Reformasi Tumbuhkan Demokrasi, Kuatkan Oligarki

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Nasional