Kenaikan harga tiket pesawat umrah yang terus melonjak kini menjadi ancaman nyata bagi keberlangsungan bisnis agen perjalanan ibadah. Menanggapi situasi yang semakin tidak menentu bagi para jemaah dan pelaku usaha, Garuda Indonesia menggelar pertemuan krusial dengan 13 asosiasi umrah dan haji di Graha HIMPUH pada Selasa, 19 Mei 2026, untuk mencari titik temu atas beban biaya yang kian memberatkan.
Para pelaku usaha travel kini berada di posisi sulit karena harga tiket yang terus merangkak naik sangat berdampak pada daya beli jemaah. Dalam pertemuan tersebut, pembahasan difokuskan pada upaya mencari relaksasi biaya dari berbagai komponen tiket. Garuda Indonesia pun mendorong pembentukan Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan pihak pemerintah, mulai dari Komisi VIII DPR RI, Kementerian Haji dan Umrah, hingga penyedia bahan bakar, guna menekan beban biaya operasional.
Maskapai beralasan bahwa kenaikan ini tak terhindarkan akibat harga avtur dunia yang fluktuatif tanpa adanya kontrak harga tetap jangka panjang. Selain itu, regulasi jalur penerbangan yang kaku membatasi ruang gerak maskapai untuk menempuh rute transit yang lebih ekonomis. Akibatnya, biaya operasional yang membengkak terpaksa dibebankan kepada harga tiket, yang akhirnya langsung dirasakan oleh konsumen dan agen perjalanan.
Situasi dilematis ini membuat operasional penerbangan umrah berada di titik nadir. Pihak maskapai mengakui bahwa kondisi saat ini memaksa mereka mengambil langkah yang tidak populer. “Pilihan yang dihadapi maskapai saat ini sama-sama berat: tetap terbang namun merugi atau menghentikan penerbangan seperti yang dilakukan beberapa maskapai asing,” ungkap perwakilan maskapai dalam forum tersebut.
Bagi agen perjalanan, penghentian penerbangan oleh maskapai asing menjadi kekhawatiran tersendiri yang bisa melumpuhkan layanan umrah. Oleh karena itu, kolaborasi antara maskapai, pemerintah, dan pelaku industri menjadi harga mati agar keberangkatan jemaah tetap terjaga di tengah badai kenaikan biaya operasional yang mencekik ini
Pertemuan tersebut ditutup dengan komitmen untuk mencari solusi jangka panjang yang tidak hanya menyelamatkan operasional maskapai, tetapi juga melindungi kepentingan jemaah. Semua pihak berharap agar pemerintah dapat segera memberikan intervensi kebijakan agar biaya perjalanan ibadah ke Tanah Suci tetap terjangkau dan tidak terus-menerus terganggu oleh gejolak harga energi global.




KOMENTAR ANDA