"Tidak ada. Beliau yakin suatu saat ada keturunannya yang meneruskan," ujar Taufik.
Agus-lah yang paling punya potensi sebagai penerus. Tapi Agus memilih masuk jurusan teknik nuklir UGM. Setelah jadi sarjana nuklir pun ternyata Agus tidak bisa jauh dari tarekat (tasawuf). Tapi ia pilih tasawuf yang ilmiah –tasawuf modern.
Rupanya dari ayahnyalah Agus memiliki kemampuan ilmu agama. Termasuk dalam hal tarekat. Semua itu baru saya ketahui dua hari lalu ketika saya melayat ke rumahnya di hari keempat kematiannya.
Setelah ia tidak jadi wartawan saya jarang bertemu. Ia juga sibuk dengan dakwahnya. Ia keliling Indonesia. Menulis buku. Bikin rekaman video. Sesekali minta saya menulis kata pengantar untuk buku barunya.
Suatu saat saya mendengar Agus ingin menulis tafsir Quran. Lalu saya menemuinya. Saya tahu ia tidak pernah mengenyam pendidikan di Timur Tengah. Meski tidak wajib tapi itu bisa dianggap kelemahan. Saya tidak mau Agus dikritik orang di soal yang tidak substantif: tidak pernah mendalami Islam di Timur Tengah.
Maka saya anjurkan Agus untuk ke Timur Tengah. Ia menerima saran saya itu. Ia pergi ke Mesir. Ia tinggal di sana meski tidak lama.
Saya ingat Nurcholish Madjid. Begitu hebat pemikiran pembaharuannya dalam Islam. Tapi ada saja yang tidak bisa menerima hanya karena ia tidak bisa membaca kitab kuning –buku-buku klasik yang ditulis dengan huruf Arab tanpa tanda baca.
Akhirnya Agus mulai menulis tafsir Quran. Rupanya ia sudah merasa buku tafsirnya itu akan dipersoalkan. Maka Agus menulis kata pengantar di buku tafsir itu sangat panjang. Yakni di awal buku tafsir juz 1.
Di situ ia menjelaskan perjalanan ilmu tafsir dari masa ke masa. Mulai munculnya kitab tafsir pertama di dunia. Yakni di abad ke-8 –200 tahun setelah Nabi Muhammad meninggal. Anda sudah tahu nama kitab tafsir itu: Tafsir Al Kabir. Penulisnya orang Parsi: Muqatil bin Sulaiman. Pendekatannya: bahasa.
Agus terus menguraikan lahirnya kitab-kitab tafsir terkemuka berikutnya. Sampai ke Tafsir Jalalain –ditulis dua orang bernama Jalal. Semua tafsir itu menggunakan pendekatan yang berbeda. Termasuk ada yang berdasar latar belakang lahirnya satu ayat di dalam Quran.
Yang belum ada: tafsir berdasarkan pendekatan zaman modern. Ia beralasan betapa zaman sudah berubah. Betapa kebutuhan masyarakat sudah sangat berbeda. Betapa generasi millennial perlu tafsir yang bisa menjawab zaman mereka.
Maka Agus tergerak untuk menulis tafsir dengan pendekatan baru: Ulul Albab. Itulah nama karyanya itu: Tafsir Ulul Albab.
Sudah tiga jilid ia selesaikan: juz 1, juz 2, dan juz 3. "Jilid empatnya sudah selesai ditulis. Tapi belum sempat diterbitkan. Masih di dalam komputer beliau," ujar Dina.
Ia sudah menerbitkan lebih 60 buku tasawuf modern. Lalu menerbitkan tafsir modern.
Saat dalam perjalanan dakwahnya, badannya panas. Tubuhnya menggigil. Diobati tidak sembuh. Ia masuk rumah sakit: besannya dokter spesialis di Unair. Bisa tertangani dengan baik.
Kecurigaan umum para dokter jelas: ada virus atau infeksi. Panas dan demam bersumber dari sana. Tapi berbagai pemeriksaan tidak ditemukan virus apa pun. Tidak terjadi infeksi di bagian mana pun.
Ada tambahan keluhan: cegukan. Berkepanjangan. Berhari-hari. Minggu. Bulan. Juga tidak ditemukan penyebabnya. Saya sampai ikut bertanya sampai ke berbagai AI. Jawab AI: ada orang yang cegukan selama 63 tahun. Di Amerika. Tidak apa-apa. Sampai orang itu kawin cerai tiga kali –mungkin istrinya merasa terganggu.
Jawaban AI itu saya forward kepadanya: bisa buat hiburan orang sakit. "Umur saya sekarang 63 tahun," katanya. "Kalau saya harus cegukan selama 63 tahun berarti saya baru akan meninggal di umur 126 tahun," guraunya.
Agus memang suka bergurau. Ia murah senyum. Juga rendah hati –mungkin terbawa tasawufnya itu. Ia tidak mudah menegur orang –apalagi memvonis seseorang.
Istrinya sendiri tidak dipaksa bangun ketika waktu subuh tiba. Ibu rumah tangga perlu istirahat yang cukup. Apalagi dia usaha di bidang makanan dan perkuean. Waktu sang istri bangun kaget. Matahari sudah terbit.
Melihat istrinya bangun Agus baru minta agar dia salat subuh. "Matahari sudah terbit," kata sang istri. "Tidak apa-apa. Salat saja," kata Agus. "Di kawasan lain matahari belum terbit," tambahnya.
Sang istri, Anna Ratnawati, juga bercerita Agus tidak pernah minta dia masuk Islam. Juga tidak pernah memaksa mengajari ngaji Quran.
Mereka kenal saat sama-sama SMP di Malang. Agus ketua OSIS. Anna sekretaris. Anna sangat terkesan dengan kepintaran dan budi pekerti Agus. Waktu SMA mereka terpisah sekolah, tapi masih sama-sama di Malang. Hobi mereka sama: main gitar.
Ketika Agus masuk teknik nuklir UGM, Anna kuliah di Malang. Tapi hati mereka sudah tidak bisa dipisah. Pun ketika ayah Anna akan menjodohkannyi dengan seorang dokter.
Mereka menikah di Yogyakarta. Dia berangkat naik bus ke Yogyakarta. Sendirian. Orang tuanyi tidak merestui –soal perbedaan agama.




KOMENTAR ANDA