Oleh: Jaya Suprana, Budayawan dan Pendiri MURI
TERNYATA angin perut tidak hanya keluar dari bawah sebagai kentut namun juga dari atas sebagai glegheken. Angin perut yang keluar dari mulut alias bersendawa atau glegheken disebut "eructation" dalam bahasa Inggris. Dalam bahasa Latin, istilah yang digunakan adalah "ructus" atau "eructatio".
Eruktasion adalah proses pengeluaran gas dari lambung melalui mulut. Gas ini biasanya terdiri dari nitrogen, oksigen, karbon dioksida. Gas di lambung dapat terbentuk karena beberapa alasan, seperti:
1. Makan makanan yang mengandung gas: Makanan seperti kacang-kacangan, brokoli, dan minuman berkarbonasi dapat menghasilkan gas di lambung.
2. Menelan udara: Ketika kita makan atau minum, kita juga menelan udara yang dapat masuk ke lambung.
3. Proses pencernaan: Bakteri di lambung dapat memecah makanan dan menghasilkan gas sebagai produk sampingan.
Gas di lambung dapat keluar melalui beberapa cara, seperti:Eructation (bersendawa): Gas keluar dari lambung melalui mulut. Flatulensi (angin perut): Gas dari lambung melalui anus ke arah luar tubuh.
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi munculnya glegheken adalah:
1. Makanan: Makanan yang mengandung gas dapat meningkatkan produksi gas di lambung.
2. Kondisi kesehatan: Kondisi seperti gastroesofageal reflux disease (GERD) atau irritable bowel syndrome (IBS) dapat mempengaruhi eructation.
3. Stres: Stres dapat meningkatkan produksi asam lambung dan gas.
Secara psikososiokultural glegheken atau bersendawa bisa memiliki konotasi yang berbeda-beda tergantung pada kebudayan dan konteks tata krama.
Di satu sisi, glegheken dianggap tidak sopan, bahkan dianggap sebagai tanda tidak menghormati orang lain. Ini karena glegheken dapat dianggap sebagai suara yang tidak enak didengar dan dapat mengganggu orang lain.
Namun di sisi lain, glegheken dianggap sebagai tanda kepuasan dan rasa syukur atas hidangan yang disajikan. Misalnya, di beberapa negara Timur Tengah dan Afrika, glegheken dianggap sebagai cara untuk menunjukkan bahwa makanan yang disajikan lezat dan memuaskan. Dalam konteks ini, glegheken bisa dianggap sebagai pujian bagi tuan dan nyonya rumah.
Sementara kentut monokonotasi maka glegheken multikonotasi saling berbeda-beda tergantung pada konteks ruang dan waktu. Pada beberapa daerah, glegheken sambil mengeluarkan bunyi dianggap tidak sopan, tetapi di daerah lain, glegheken sambil berbunyi heekkhh bisa dianggap sebagai tanda kepuasan dan rasa syukur atas hidangan yang disajikan.
Jadi, secara tata krama eruktasionomologis pada hakikatnya rukus ambigu alias berwajah ganda! Glegheken rawan dianggap tidak sopan setara kentut, tetapi di sisi lain juga sopan-santun bahkan potensial mengungguli kentut dalam hal dianggap sebagai tanda menghormati tuan dan nyonya rumah yang ramah-tamah menyajikan hidangan lezat.




KOMENTAR ANDA