Keamanan posisi Gibran bukanlah sebuah kebetulan. Dia secara sadar meminimalisir eksposur terhadap isu-isu sektoral yang berisiko tinggi bakal memicu sentimen publik negatif.
Oleh: Edy Mulyadi, Wartawan Senior
PANGGUNG politik nasional hari ini ibarat orkestra yang sedang memainkan nada-nada tinggi. Presiden Prabowo Subianto bertindak sebagai dirigen utama. Tak pelak dia pun jadi sasaran tembak paling empuk. Dari tekanan ekonomi global, situasi geopolitik, hingga tarik-ulur kepentingan koalisi yang kian kompleks. Sang Presiden praktis berada di garis depan pusaran kritik.
Namun, jika jeli mengalihkan pandangan sedikit ke samping, kita akan menemukan sebuah anomali yang menarik. Posisi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka relatif "teduh". Meski begitu, dalam keteduhan itu, dia sangat produktif.
Di saat Presiden sibuk menjinakkan badai kebijakan yang sensitif, Gibran justru seolah berada di ruang hampa udara yang aman dari gempuran. Tapi, jangan salah baca. Ketenangan ini bukanlah sebuah pasivitas. Yang terjadi justru sebuah kerja-kerja politik yang sistematis, terukur, dan—yang paling krusial—sangat senyap.
Keamanan posisi Gibran bukanlah sebuah kebetulan. Dia secara sadar meminimalisir eksposur terhadap isu-isu sektoral yang berisiko tinggi bakal memicu sentimen publik negatif. Gibran menolak terjebak dalam perdebatan teknis kebijakan yang melelahkan. Mas Wapres lebih memilih melakukan akrobat konsolidasi yang jauh lebih fundamental.
Langkah pembentukan Relawan Gibran di 34 provinsi, misalnya, adalah bukti nyata. Ini bukan sekadar mesin pemenangan sisa pemilu. Inilah infrastruktur politik yang tetap dijaga panas mesinnya. Dengan jaringan yang merata hingga ke pelosok nusantara, Gibran sedang membangun legitimasi yang tidak bergantung pada struktur partai politik semata. Dia langsung menyentuh sel-sel organik di akar rumput.
Gerilya dinasti: Geliat PSI dan cawe-cawe Jokowi
Gerilya ini semakin lengkap jika kita melihat geliat Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Di bawah komando sang adik, Kaesang Pangarep, PSI kini bukan lagi sekadar partai anak muda tanpa arah. Partai berlambang gajah ini jadi sekoci politik yang disiapkan dengan sangat matang. Ada pembagian peran yang rapi. Gibran memperkuat legitimasi di struktur negara. Sementara Kaesang bergerak di jalur kepartaian.
Kehadiran sosok sang ayah, Joko Widodo, mempertegas arah permainan ini. Tapi di sini publik disuguhi sebuah ironi yang tajam. Jokowi secara terang-terangan menyatakan siap turun gunung hingga ke tingkat kecamatan di seluruh Indonesia demi membesarkan PSI. Di sisi lain, secara konsisten Jokowi menunjukkan sikap enggan hadir dalam berbagai persidangan yang menyangkut dirinya.
Bahkan ketika sidang itu digelar di Pengadilan Negeri Surakarta yang hanya berjarak "selangkah" dari kediaman pribadinya, tak sekali pun bekas tukang mebel asal Solo itu menunjukkan batang hidungnya. Apalagi datang dengan ijazah "gaibnya".
Ini adalah sinyal kuat bahwa prioritas utama bukanlah soal pertanggungjawaban hukum masa lalu. Di mata keluarga ini, pengamanan masa depan melalui penguasaan struktur akar rumput jauh lebih penting ketimbang hadir di persidangan dan tetek-bengek ribut soal ijazah.
Legitimasi di balik bayang-bayang
Jika Prabowo mengandalkan wibawa militer dan ketegasan oratoris, Gibran bermain sangat lincah di ruang digital. Pengumpulan kelompok Youtuber Nusantara di Istana Wapres bukan sekadar acara ramah tamah biasa. Ini adalah upaya strategis untuk merangkul para pemegang kendali narasi di media sosial.
Fakta menarik lainnya adalah agenda Halal Bihalal Youtuber Nusantara di Hotel Sunan, Solo. Untuk ukuran hajatan seperti ini, kehadiran Jokowi tentu tak bisa dipandang biasa. Pasti ada apa-apa dan kenapa-kenapanya. Pada titik ini, hotel Sunan bukan sekadar tempat pertemuan. Ia simbol dari "kandang" yang nyaman bagi konsolidasi kekuatan baru ini. Di sana, narasi-narasi tentang keberlanjutan diproduksi. Selanjutnya diamplifikasi oleh jutaan pengikut para YouTuber tersebut. Dari sini diharapkan tercipta benteng opini publik yang sulit ditembus kritik konvensional.
Strategi ini memberikan keuntungan ganda bagi Gibran. Pertama, mantan tukang martabak itu terhindar dari kelelahan politik (political fatigue) akibat gesekan kebijakan harian. Kedua, dia punya waktu luas untuk memperkuat pondasi kekuasaannya sendiri, tanpa harus terlihat "mendahului" sang Presiden. Langkah yang sungguh cerdik.
Kita melihat sebuah pola yang, harus diakui, licin. Presiden menjadi perisai di depan. Sementara sang Wakil melakukan manuver di belakang untuk memastikan bahwa masa depan tetap berada dalam kendali keluarga.
Mari kita simak baik-baik tiap polah keluarga ini. Gibran bergerak dalam politik senyap. PSI menopang dengan agresivitasnya. Masih ada lagi, restu penuh sang ayah di lapangan. Semua itu menegaskan kembali, bahwa dalam kekuasaan, mereka yang paling sedikit bicara di depan kamera kebijakan justru yang paling banyak bekerja di balik struktur kekuatan.
Pada akhirnya, publik harus menyadari bahwa gerak-gerik di Istana Wapres bukan sekadar rutinitas protokoler. Ada konsolidasi besar yang sedang ditenun antara relawan, partai politik (PSI), dan kekuatan digital. Gibran tidak sedang menunggu bola. Dia sedang merapikan lapangan, menyiapkan wasit, sekaligus mengumpulkan penonton untuk pertandingan-pertandingan politik di masa depan.
Di tengah riuhnya tekanan terhadap Prabowo, mentor dan para konsultan berhasil menyulap Gibran jadi pemain catur yang sangat sabar. Mereka paham betul, bahwa dalam politik Indonesia tidak semata-mata adu otot atau siapa yang paling heboh. Justru siapa yang paling kuat menanam dalam senyap, dialah yang akan memanen paling banyak saat fajar tiba.
Persoalannya, apakah Presiden Prabowo menyadari gerak senyap Gibran ini? Kalau ya, langkah apa yang disiapkan sebagai antisipasi? Kalau tidak, waduh.




KOMENTAR ANDA