post image
Ilustrasi ZonaTerbang
KOMENTAR

Aku juga teringat Usamah Ahmad Falaq, kawan satu almamater di Malaysia yang kini jadi penceramah agama, yang darah Betawi-Sundanya mengalirkan kecintaan pada ikan asin sampai ke sumsum tulang. Ia akan pulang kampung dan kembali ke Kuala Lumpur dengan koper penuh oleh-oleh ikan asin masakan ibunya, yang kerap disertai bungkusan nasi uduk. Di tanah rantau yang jauh dari laut, makan ikan asin bukan hanya ritual memanggil pulang, tapi juga menyukuri kasih sayang keluarga di kampung halaman.

Namun, dari lubuk kenikmatan yang paling dahsyat ini, aku dan istriku juga belajar tentang kehati-hatian. Sebuah ironi yang indah. Ikan asin plus sambalnya adalah sebuah kombinasi yang nyaris melenyapkan kehendak bebas. Nasi seolah-olah bisa luruh sendiri, butir demi butir, tanpa jeda. Perut yang sudah kenyang seringkali mengingkari dirinya sendiri. Lidah terus memerintah tangan untuk menyuap, dan tangan dengan patuh mencomot lagi sepotong ikan asin, meraup sambalnya, dan meremuknya bersama nasi.

Apalagi jika sambalnya pedas membakar, di situ letak candunya. Rasa pedas dan asin adalah duo maut yang membuat piring bisa ditambah dua hingga tiga kali. Kini, ketika usia telah masuk kepala lima, kemewahan menyuap nasi sebebas itu harus dibayar dengan ritual pagi yang lain: tensi darah dan kadar kolesterol. Jadi, kenikmatan ikan asin kini menjadi sebentuk laku tirakat baru: menikmati dengan penuh kesadaran, membatasi, dan lebih banyak merenunginya.

Stigma klasik sering menganggap ikan asin sebagai ikon kemiskinan, hidangan wong cilik yang tak punya pilihan. Namun benarkah sesederhana itu? Aku melihatnya justru sebagai simbol yang paling luwes, mampu menyusup dan bersemayam di segala lapis sosial. Bukankah di restoran-restoran Sunda yang elok di dataran tinggi Bandung Raya, dengan arsitektur kayu dan pemandangan menghadap lembah, ikan asin jambal roti atau peda goreng tersaji rapi dengan harga yang tak murah? 

Bukankah di rumah-rumah gedongan, para eksekutif dan konglomerat yang mungkin bosan dengan steak dan salmon, sesekali merindukan pete, jengkol, dan sepotong ikan asin yang dimakan dengan keringat bercucuran? Selera memang menembus batas kelas. Ikan asin, dalam tubuhnya yang kering, adalah anomali: ia bisa menjadi penanda asketisme para kiai dan santri di kampung, sekaligus menjadi menu nostalgia para jet-setter yang pulang kampung.

Ia sekaligus sederhana dan mewah. Ia adalah demokrasi sejati dalam dunia kuliner: tidak memandang siapa yang menikmati, semua akan sama-sama belepotan, semua akan sama-sama mengecap surga yang otentik.

Maka, esai ini adalah catatan tentang sebuah perjalanan mudik, bukan ke suatu geografis bernama Pantura, melainkan mudik ke lidahku sendiri, kepada kenangan: hakikat rasa yang paling jujur. Ikan asin, bagiku, adalah sebuah puisi panjang tentang waktu.

Tentang laut yang tak pernah benar-benar pergi, meski aku telah menetap di gunung. Ia hanya berubah wujud: dari gelombang menjadi kristal, dari buih menjadi serat, dari hempasan menjadi garing.

Setiap kali menggorengnya, wangi anyir yang berubah harum itu adalah mantra yang membangkitkan seluruh masa lalu. Dan ketika ia bertemu sambal, bertemu nasi, dan lenyap di mulutku, aku tahu, aku telah merayakan hidup dengan cara yang paling sempurna: dengan kenangan yang bisa dimakan.


KOMENTAR ANDA

Baca Juga