Oleh: Yusuf Blegur, Aktivis
INTIMIDASI, teror, penjara, dan pembunuhan terhadap buruh akan selalu tersimpan dalam tragedi Marsinah (1993), Romli (2017), Ermanto Usman (2026) dan masih banyak lagi yang tak terlacak saat melawan kapitalisme berwajah industri dan birokrasi.
Dengan perayaan May Day pada 1 Mei 2026 di Tugu Monas, gemuruh buruh "dibunuh' secara kualitatif dan kuantitatif.
Ada pergeseran mendasar dari peringatan Hari Buruh 1 Mei 2026. Mayday dengan ruh perlawanan itu berubah menjadi perayaan. Dari jalan-jalan berdebu dan panas hingga ke pintu gerbang gedung-gedung angkuh milik negara.
Gerakan buruh yang kerap menentang kapitalisme industri seketika menjadi ajang kompromi seremonial pejabat Borjuis dan komparador lokal di Tugu Monas.
Buruh terlena ditaklukan orang-orang istana. Tuntutan perbaikan hidup, semakin lemah oleh bujuk rayu dan janjii-janji birokrasi kaya raya. Teriakan lantang hidup buruh hidup rakyat, redup oleh pidato dan arahan penguasa sarat angin surga dan tipu daya.
Serikat pekerja yang seharusnya menjadi garda terdepan membela dan melindungi kepentingan buruh, justru nyaman dengan tawaran fasilitas menggiurkan dari perselingkuhan pengusaha dan pemerintah. Menjadi kaya, memiliki jabatan, dan melupakan amanah buruh, menempatkan serikat pekerja tak ubahnya sebagai lumpen proletar.
Kaum buruh memang lemah dan kerap dilemahkan, semakin berontak semakin tersingkir dari mendapatkan hak hidup layak. Dibelenggu omnibus law, terancam PHK, dipenjara, dan bahkan menghadapi kematian. Buruh tak tebih dari sekadar sekrup-sekrup kapitalisme dan korban dari perbudakan modern industrialisasi yang mewujud pemilik modal besar.
Hari buruh 1 Mei 2026 menjadi hari yang mengubur dalam-dalam kesadaran kelas buruh yang sejatinya menjadi soko guru revolusi. Buruh terus menjadi entitas eksploitasi manusia atas manusia. Dilecut tenaganya, diperas keringatnya, dan dibunuh kemanusiaanya. Hidup tanpa Kelayakan dan bekerja seumur hidup tanpa kesejahteraan. Buruh abadi mengais rezeki receh yang tercecer untuk nafkah keluarga dan bertahan hidup. Sementara kaum borjuis berpesta-pora dengan menu regulasi profit, pungli dan korupsi mengenakan seragam pengusaha dan pejabat.
Betapa miris nasib buruh, elit politik dan penghuni istana tetap menjadikannya boneka dan mainan cantik yang menghibur dan memuaskan kebutuhan materialisme. Sebuah instrumen sekaligus entitas penting negara yang sewaktu-waktu bisa dibuat dan diganti yang baru. Regulasi undang-undan tenaga kerja telah menyempurnakan posisi dan eksistensi buruh sebagai budak industri dan feodalisme kapitalis birokrat.
Mayday di tugu Monas telah melupakan Marsinah (1993), Romli (2017), Ermanto Usman (2026 dan teramat banyak buruh pejuang yang harus meregang nyawa melawan tirani kekuasaan. Peringatan hari buruh dari momen perlawanan menjadi perayaan, sesungguhnya telah membunuh jiwa dan karakter buruh selain pengorbanan nyawa yang pernah terjadi.
Mendekat, percaya, dan pasrah pada retorika istana, telah membuat buruh kehilangan kesadaran krisis dan kesadaran makna tentang negara kesejahteraan dan kehidupan adil makmur kalangan marhaen itu.
Sekali lagi dan tak berujung, gemuruh buruh dibunuh baik secara kualitatif maupun kuantitatif dengan pesona penguasa.




KOMENTAR ANDA