Oleh: Jaya Suprana, Budayawan dan Pendiri MURI
DONALD Trump adalah personifikasi arogansi “America First”. Retorikanya membakar garis keras anti-China. Kebijakan tarifnya mencekik Beijing tanpa ampun. Namun, ada satu pemandangan ironis yang terus berulang: sang koboi Washington ini tetap sudi terbang ribuan mil, mendarat di Beijing, dan menjabat erat tangan Xi Jinping.
Mengapa pemimpin paling keras kepala di dunia ini rela “merendahkan diri” demi mendatangi seteru geopolitik nomor satunya di kandang lawan? Jawabannya sederhana: Trump bukan politisi ideologis yang kaku. Ia adalah pedagang pragmatis yang oportunis. Bagi Trump, ideologi adalah omong kosong; yang ada hanyalah untung dan rugi.
Trump sangat mendewakan ego dan kemampuan negosiasi dirinya sendiri. Melalui prinsip The Art of the Deal, ia memandang diplomasi formal lewat menteri sebagai hal yang lamban dan impoten. Trump yakin, dengan menatap langsung mata Xi Jinping di Beijing, ia bisa mengintimidasi sang Presiden China untuk menyerah.
Ia datang bukan untuk menurunkan egonya, melainkan menodongkan kesepakatan dagang baru, memaksa China membuka pasar, dan menguras miliaran dolar demi keuntungan domestik AS.
Trump tahu betul bahwa AS tidak bisa mendikte dunia sendirian. Saat krisis global mencekik, Beijing adalah kunci. Di tengah bara api Timur Tengah saat ini, terutama gesekan dengan Iran yang mengancam Selat Hormuz, Trump sadar hanya China yang punya kendali.
Sebagai pembeli minyak terbesar Iran, Xi Jinping memegang tuas ekonomi yang tidak dimiliki Barat. Trump sudi "merendahkan diri" ke Beijing karena ia butuh China untuk menjinakkan sekutu-sekutunya yang nakal demi mengamankan pasokan energi global. Ini adalah panggung teatrikal terbaik untuk konstituennya.
Trump adalah master dalam akrobat narasi. Di dalam negeri AS, kunjungan ini tidak akan dijual sebagai bentuk kompromi. Sebaliknya, mesin propagandanya akan menggoreng momentum ini sebagai bukti ketegasan seorang Presiden AS yang bernyali mendatangi sarang naga untuk mendiktekan kemauan Amerika secara langsung.
Pulang membawa komitmen investasi adalah amunisi politik mutakhir untuk menyombongkan diri di hadapan para pemilih setianya.
Pada akhirnya, keangkuhan Trump hanyalah topeng yang bisa dicopot kapan saja demi kepentingan transaksional. Ia sudi datang ke Beijing bukan karena hormat, melainkan karena kalkulasi licik.
Di balik jabat tangan yang tampak hangat di Beijing, Trump sedang menancapkan kuku pengaruhnya, membuktikan bahwa dalam catur global, musuh bebuyutan pun bisa menjadi mitra dadakan jika harganya cocok.




KOMENTAR ANDA