post image
Majelis Hakim mengabulkan permohonan status tahanan terdakwa kasus korupsi Chromebook, Nadiem Makarim, untuk menjadi tahanan rumah dari tahanan rutan per Selasa, 12 April 2026./Disway-Candra Pratama
KOMENTAR

Saya belum melihat AEK menulis lagi setelah Nadiem dituntut 18 tahun plus Rp 5,6 triliun.

Saya sendiri juga kaget atas tingginya tuntutan jaksa itu. Jangan-jangan faktor penting yang jadi pertimbangan jaksa adalah soal Jurist Tan yang tidak mau jadi saksi di persidangan.

Jurist yang pilih "sembunyi" di Australia adalah saksi mahkota.

"Tidak. Bukan soal itu," ujar Boyamin Saiman, pimpinan Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI). "Itu semata-mata karena JPU anggap Nadiem tidak kooperatif dan nilai kerugian versi jaksa adalah besar," katanya. "Dalam kasus Jiwasraya malah dituntut seumur hidup".

Pengacara terkemuka Surabaya, Johanes Dipa, juga mengatakan tidak ada faktor Jurist Tan. "Tidak. Saya lihat tingginya tuntutan JPU karena semangat punitive (menghukum) memang terlihat sejak dari semula," kata Dipa.

Tentu Nadiem masih punya waktu untuk membela diri. Sidang yang akan datang adalah arena Nadiem untuk membacakan pledoi. Setelah replik dan duplik barulah hakim akan ambil putusan. Pun itu belum putusan final. Masih ada upaya banding, kasasi dan PK.

Pihak keluarga tentu fokus agar Nadiem bisa bebas. Kalau pun dinyatakan bersalah bagaimana agar ia tetap jadi tahanan rumah seperti sekarang. Vonis Ibam harus jadi pelajaran. Hakim tidak hanya memvonis hukuman, bersamaan dengan itu hakim juga mencabut status Ibam dari tahanan rumahnya.


Guncangan Transisi

Sebelumnya

Tahu Digigit

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Disway