PLTU Barru akan terus beroperasi. Batu bara akan terus dibakar, turbin akan terus berputar, listrik akan terus mengalir. Tapi di salah satu sudutnya, di sebuah pantai yang jauh dari cerobong, ia juga sedang menulis puisi. Puisi tentang abu yang menjadi kehidupan. Puisi tentang tangan-tangan yang tadinya kosong kini menggenggam masa depan sebuah spesies. Puisi tentang manusia yang, dalam segala keterbatasannya, masih mampu mencintai bumi dengan cara yang paling tidak terduga. Dan puisi itu, seperti telur-telur penyu yang terkubur di pasir, akan menetas pada waktunya sendiri, dalam sunyi, dalam ketidaktahuan kita, dalam malam-malam yang akan datang.




KOMENTAR ANDA