post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Jika pasir ini terlalu hangat, maka semuanya akan lahir sebagai betina.

Oleh: Akuat Supriyanto, esais dan trainer perhitungan dampak investasi sosial

PADA mulanya adalah pasir. Hangat, kadang terlampau hangat, menyimpan telur-telur yang rapuh dan bulat seperti bulan yang jatuh. Di Pantai Lowita, seekor penyu betina merangkak naik pada sebuah malam yang lembab, meninggalkan jejak yang akan segera dihapus ombak. Ia tidak tahu bahwa di dalam tubuhnya, di dalam telur-telur yang akan dikuburkannya, sebuah rahasia sedang bekerja: suhu akan menentukan segalanya. Jika pasir ini terlalu hangat, maka semuanya akan lahir sebagai betina. Hanya betina. Generasi tanpa ayah, tanpa keseimbangan, tanpa masa depan yang bisa ditebak.

Itulah cara alam berbicara tentang perubahan iklim, dengan bahasa yang sunyi namun pasti. Di pantai ini, di pesisir Sulawesi yang jauh dari mana-mana, suhu bisa mencapai tiga puluh dua, tiga puluh sembilan derajat, tergantung kelembaban, tergantung musim, tergantung seberapa keras matahari memutuskan untuk membakar. Dan penyu-penyu itu terus bertelur, dalam kepasrahan yang purba, seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal sedang terjadi segalanya.

Di tempat lain, di jarak yang bisa ditempuh dengan kendaraan selama satu-dua jam melintasi jalan pesisir yang berliku, sebuah pembangkit listrik tenaga uap terus bekerja. PLTU Barru, namanya. Cerobong-cerobongnya mengepulkan asap, turbin-turbinnya berputar, menghasilkan energi yang akan mengalir ke rumah-rumah, ke pabrik-pabrik, ke lampu-lampu yang menyala di malam hari. Ia adalah mesin, dan seperti semua mesin, ia bekerja menurut logikanya sendiri: membakar, memutar, menghasilkan. Tapi manusia-manusia yang mengoperasikannya rupanya tidak berhenti di logika mesin itu. Mereka melihat lebih jauh, atau mungkin lebih dekat: ke pantai, ke penyu, ke pasir yang semakin panas, ke masyarakat pesisir yang hidup dalam ketidakpastian. Lalu mereka memutuskan sesuatu.

Keputusan itu tidak lahir dari rasa bersalah yang berlebihan, melainkan dari pengertian bahwa sebuah industri tidak mesti menjadi keterasingan dari lingkungannya. Bahwa cerobong dan penyu bisa saja berbagai nasib dalam dunia yang sama-sama terkena dampak perubahan iklim. Maka dimulailah sebuah perjalanan suci: dari PLTU Barru ke Pantai Lowita, dari abu terbang yang biasanya hanya menjadi catatan limbah, menuju sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih lembut dan lebih bermakna.

Abu terbang itu, fly ash namanya dalam bahasa teknis, berwarna terang. Hampir pucat, seperti kenangan akan batu bara yang telah selesai terbakar. Biasanya ia dicampur dengan semen, dijadikan bahan bangunan, bagian dari konstruksi yang kaku dan keras. Tapi di tangan-tangan yang mulai belajar mencintai, abu itu menemukan takdirnya yang baru: cool paving, lempengan-lempengan yang akan diletakkan di sekitar habitat peneluran penyu. Bukan untuk menahan beban, melainkan untuk memantulkan sinar matahari. Untuk menurunkan suhu pasir. Untuk memberi ruang bagi telur-telur yang kelak akan menetas menjadi jantan, menjadi keseimbangan, menjadi masa depan.

Tidakkah ini cara yang syahdu untuk mengatakan bahwa tak ada yang benar-benar sia-sia di dunia ini. Bahwa abu—simbol paling akhir dari segala pembakaran, dari segala yang telah habis—masih bisa menjadi awal. Bukan dalam arti metaforis yang muluk-muluk, tapi dalam arti yang sesungguhnya: lempengan-lempengan itu kini terpasang di pasir, meredam panas, menciptakan zona teduh di mana alam boleh mengambil nafasnya kembali.

Bersamaan dengan itu, masyarakat di sekitar pantai mulai bergerak dalam irama yang berbeda. Para pemuda yang tadinya tanpa penghasilan tetap—dua puluh satu orang, usia produktif, tangan-tangan yang kosong—kini dilatih menjadi penyelamat telur penyu. Mereka belajar membaca suhu pasir, memantau kelembaban, memindahkan telur-telur ke tempat yang lebih aman, lebih sejuk, lebih memungkinkan untuk menetaskan generasi yang seimbang. Mereka menjadi penjaga, menjadi saksi, menjadi bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar dari diri mereka sendiri.

Di tempat yang lain, di bawah pohon atau di beranda rumah, ibu-ibu rumah tangga duduk melingkari sampah anorganik yang telah dipilah. Botol plastik, bungkus kemasan, sisa-sisa konsumsi yang biasanya hanya akan menjadi beban bagi pantai. Kini tangan-tangan mereka mengubahnya menjadi suvenir—gantungan kunci, hiasan dinding, benda-benda kecil yang akan dibeli oleh wisatawan yang datang untuk melihat penyu. Bank sampah yang didirikan menjadi simpul dari sebuah rantai yang perlahan-lahan memberi makna baru: bahwa apa yang tadinya dibuang bisa menjadi apa yang dihargai.

Dan wisatawan itu datang. Tiga ribu orang per tahun, bukan sekadar untuk berfoto di tepi pantai, melainkan untuk terlibat: mengadopsi tukik, melepaskannya ke laut, menyaksikan makhluk mungil itu mengepakkan siripnya yang masih lemah menuju ombak. Anak-anak sekolah—tiga ratus orang—datang dan mendengarkan cerita tentang penyu, tentang iklim, tentang bagaimana suhu bisa menentukan apakah yang menetas itu jantan atau betina. Mereka pulang dengan sesuatu yang lebih berharga dari sekadar pengetahuan: sebuah ingatan, sebuah sentuhan, sebuah kesadaran bahwa mereka terhubung dengan makhluk-makhluk lain di planet yang sama.

Di sepanjang garis pantai, mangrove-mangrove muda mulai meninggi. Akar-akar mereka yang rumit mencengkeram lumpur, menahan abrasi, menciptakan benteng yang lebih tangguh dari beton mana pun. Terumbu karang buatan—dibuat dari material yang sama, dari abu dan sisa-sisa yang disulap menjadi substrat—ditenggelamkan ke dasar laut, menunggu polip-polip mungil datang dan menjadikannya rumah. Ini adalah rekayasa, tentu saja, tapi rekayasa yang rendah hati, yang tidak bermaksud menaklukkan alam melainkan memberinya kesempatan kedua.

Perlahan, sesuatu yang mendasar berubah. Bukan hanya suhu pasir yang lebih teduh, bukan hanya telur-telur yang menetas dalam proporsi yang lebih seimbang, bukan hanya mangrove yang semakin tinggi atau terumbu karang yang mulai ditumbuhi kehidupan. Yang berubah adalah cara pandang: bahwa industri tidak mesti menjadi antitesis dari ekologi, bahwa bisnis dan konservasi bisa berjalan dalam satu ritme yang saling mengisi. Di Lowita, mereka menyebutnya Turtle Climate Resilience System—nama yang teknis dan kaku—tapi yang terjadi sesungguhnya adalah sebuah perjumpaan kembali antara manusia dan alam, antara mesin dan kehidupan, antara abu dan telur penyu yang rapuh.

Malam-malam berikutnya, para pemuda yang telah dilatih itu tetap berjaga. Mereka mencatat suhu, memantau kelembaban, memastikan tidak ada predator yang mengancam sarang-sarang yang tersembunyi di pasir. Mereka telah menjadi sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya: penjaga dari sebuah siklus yang telah berlangsung jutaan tahun, sebuah spesies yang telah berenang sejak zaman dinosaurus, yang telah menyaksikan kebangkitan dan kejatuhan begitu banyak peradaban, dan kini—entah bagaimana—nasibnya dititipkan ke tangan-tangan yang tadinya hanya bisa mengepal dalam keputusasaan.

Ada sesuatu yang mengharukan dalam pemandangan itu. Seorang pemuda duduk di atas pasir, memandangi laut yang gelap, menunggu tukik-tukik menetas. Ia bukan lagi bagian dari statistik pengangguran. Ia adalah bagian dari sebuah narasi yang lebih besar, lebih panjang, lebih bermakna. Di rumahnya, ibunya mungkin sedang menyelesaikan suvenir dari botol plastik untuk dijual besok. Adik perempuannya, yang masih sekolah, mungkin sedang bercerita tentang kunjungannya ke pantai, tentang tukik yang dilepaskannya, tentang betapa kecil dan rapuhnya makhluk itu namun juga betapa ngototnya ia menuju laut.

Di sinilah, dalam kesederhanaan yang nyaris tak terdengar, nilai bersama itu diciptakan. Bukan dalam laporan keuangan atau metrik dampak yang dihitung dengan rumus-rumus kaku, melainkan dalam perubahan yang terjadi di dalam diri manusia: dari ketidakberdayaan menuju keterlibatan, dari keterasingan menuju kepemilikan, dari melihat alam sebagai sesuatu yang terpisah menjadi merasakannya sebagai bagian dari diri sendiri. Inilah creating shared value yang sesungguhnya—bukan jargon konsultan manajemen, melainkan fakta hidup yang bisa disentuh, bisa dirasakan, bisa dihitung dengan air mata dan senyuman.

Dan kemudian tibalah tahun kelima. Tahun exit, dalam bahasa program. Tahun di mana PLTU Barru harus mulai mengurangi keterlibatannya, menyerahkan apa yang telah dibangun kepada mereka yang telah dilatih, kepada masyarakat yang kini telah berubah mindset-nya—dua ribu seratus delapan warga desa, masing-masing dengan pergeseran cara pandang yang mungkin tidak akan pernah kembali ke semula. Exit adalah kata yang sering diartikan sebagai perpisahan, tapi di Lowita ia lebih mirip dengan pelepasan tukik ke laut: sebuah penyerahan kepada kehidupan, sebuah kepercayaan bahwa yang dilepaskan akan mampu berenang sendiri, mencari makan sendiri, bertahan dari pemangsa, dan suatu hari nanti—entah kapan, entah di mana—akan kembali ke pantai yang sama untuk memulai siklus yang baru.

Pasca-exit, tahun 2026 dan seterusnya, program ini akan berganti wajah: bukan lagi program yang dijalankan oleh perusahaan, melainkan oleh masyarakat. PLTU Barru akan tetap ada, tetap beroperasi, tetap menghasilkan energi—tapi juga akan tetap terhubung dengan Lowita melalui kemitraan, melalui replikasi ke pantai-pantai lain yang belum optimal dalam konservasi penyu, melalui perluasan gagasan bahwa abu terbang bisa menjadi cool paving, bahwa sampah bisa menjadi suvenir, bahwa data bisa menjadi dasar keputusan, bahwa masyarakat bisa menjadi penjaga.

SOP telah disiapkan. Digital database telah dibangun. Sistem peringatan dini untuk abrasi telah dipasang. Semua ini adalah warisan yang lebih berharga dari sekadar uang atau infrastruktur fisik: ini adalah kemampuan, kepercayaan diri, kemandirian. Seperti orang tua yang mengajari anaknya berjalan, lalu melepaskan genggamannya, tahu bahwa akan ada jatuh dan luka, tapi juga tahu bahwa itulah satu-satunya cara untuk tumbuh.

Malam ini, di Pantai Lowita, seekor penyu betina kembali merangkak naik. Ia telah berenang ribuan kilometer, melintasi samudra, menghindari jaring dan sampah plastik, untuk kembali ke tempat ia dilahirkan. Pasir terasa lebih sejuk di bawah tempurungnya, berkat lempengan-lempengan pucat dari abu terbang yang memantulkan sinar matahari sepanjang siang. Ia menggali lubang, meletakkan telur-telurnya satu per satu—bulat, putih, rapuh, penuh kemungkinan.

Di kejauhan, lampu-lampu PLTU Barru berkelip, menjadi bagian dari lanskap malam yang tidak lagi terasa sebagai ancaman melainkan sebagai kehadiran yang telah belajar untuk hidup berdampingan. Seorang pemuda berjaga dari jarak yang cukup jauh, mencatat suhu, memastikan tidak ada yang mengganggu. Ia adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri—sebuah siklus yang telah berlangsung jutaan tahun, sebuah spesies yang menolak untuk punah, dan sebuah industri yang memilih untuk tidak menjadi asing bagi lingkungannya sendiri.

Beberapa minggu dari sekarang, telur-telur itu akan menetas. Tukik-tukik mungil akan merangkak keluar dari pasir, mengikuti cahaya bulan yang memantul di permukaan air, menuju laut. Sebagian akan mati—dimakan burung, dimakan ikan, tersapu ombak yang terlalu kuat. Tapi sebagian—selalu ada sebagian—akan selamat. Mereka akan tumbuh, berenang mengelilingi samudra, dan suatu hari, tiga puluh atau empat puluh tahun dari sekarang, akan kembali ke pantai ini. Ke Lowita. Ke tempat di mana abu dan pasir, mesin dan kehidupan, industri dan ekologi, bertemu dalam sebuah tarian yang abadi.

Dan di situlah letak keindahan yang paling mengharukan dari semua ini: bahwa kita mungkin tidak akan hidup cukup lama untuk melihat mereka kembali. Bahwa semua kerja keras ini—monitoring suhu, cool paving, penanaman mangrove, pelatihan masyarakat, bank sampah, suvenir daur ulang—adalah untuk sesuatu yang baru akan berbuah puluhan tahun setelah kita tiada. Ini adalah cinta dalam bentuknya yang paling murni: mencintai sesuatu yang mungkin tidak akan kita lihat hasilnya. Merawat kehidupan yang akan terus berlanjut tanpa kita. Menanam pohon yang akan dinaungi oleh generasi yang belum lahir. Melepaskan tukik ke laut dengan keyakinan mendalam bahwa ia akan kembali, meskipun kita sudah tidak ada lagi untuk menyambutnya.

Waktu adalah sesuatu yang cair di pantai ini. Ia mengalir dalam ritme yang berbeda: ada waktu manusia yang diukur dengan tahun anggaran dan siklus program, ada waktu mangrove yang diukur dengan pertumbuhan akar dan daun, dan ada waktu penyu yang diukur dengan puluhan tahun pengembaraan di samudra sebelum kembali ke pantai kelahiran. Di Lowita, ketiga waktu ini bertemu, saling melingkupi, menciptakan ruang di mana masa lalu dan masa depan bisa berdialog dalam bahasa yang hanya dipahami oleh mereka yang bersedia menunggu.


Menavigasi Badai: Prabowo, Odiseus, dan Pertarungan Melawan Leviathan Oligarki

Sebelumnya

Menjaga Bumi, Menjaga Republik: Pidato Prabowo, Kedaulatan Ekonomi, Dan Masa Depan Indonesia Hijau

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Nasional