post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Mereka teriak bukan karena benci negara. Mereka teriak karena sayang negara. Karena kalau diam, artinya pasrah lihat rakyat makin terjepit.

Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan

JENDERAL Besar TNI Soedirman pernah berpesan: "TNI adalah kawan sejati rakyat Indonesia". Pesan itu lahir dari hutan, lumpur, dan darah gerilya. Bukan dari pidato di podium. TNI lahir dari rakyat, untuk rakyat. Peluru pertama TNI bukan untuk dada saudara sendiri, tapi untuk penjajah.

Itu bukan asal janji, justru janji asal. Janji yang bikin rakyat rela sembunyiin pejuang, kasih beras sekarung, relain anaknya jadi tentara. Karena sadar: seragam loreng itu kulit kedua dari rakyat. Bukti manunggaling rakyat dan TNI.

Lalu ke masa kini. 2026. Harga sembako,  BBM melangit. Tarif PAM dan PLN bikin dapur ibu-ibu nggak ngebul. Uang saku mahasiswa habis buat bayar kos, bukan buat beli buku. UMR terjerembab ketinggalan kenaikan harga kebutuhan pokok. Rasa aman yang dulu dijaga TNI, sekarang runtuh bukan karena musuh luar, tapi karena harga kebutuhan dasar rakyat.

Mahasiswa turun ke jalan. Bukan bawa senjata. Bawa poster kardus dan tenggorokan yang serak. Mereka teriak bukan karena benci negara. Mereka teriak karena sayang negara. Karena kalau diam, artinya pasrah lihat rakyat makin terjepit.

Tapi yang menyambut bukan pelukan kawan. Polisi dan TNI menghadang. Barikade, tameng, gas air mata. Mahasiswa diperlakukan sebagai musuh besar bangsa. Seolah poster "Turunkan Harga" sama bahayanya dengan peluru penjajah.

Di sinilah luka psikososiopolitiknya.

Psiko: Mahasiswa merasa dikhianati. Mereka kira loreng itu tameng, ternyata jadi tembok. Rasa aman berubah jadi rasa takut pada yang seharusnya melindungi.

Sosio: Hubungan sipil-militer retak. Rakyat yang dulu satu barisan lawan Belanda, sekarang saling curiga. Narasi "mahasiswa anarkis" vs "aparat represif" memecah kita jadi kita vs mereka. *Politik*: Negara kehilangan ruang dialog. Jalanan jadi satu-satunya ruang dengar. Padahal demokrasi sehat itu diskusi, bukan dorong-dorongan. Di surga, pastinya Soedirman menangis, melihat apa yang terjadi di Indonesia masa kini.

Ini bukan soal siapa menang. Ini soal kita lupa siapa kawan. Musuh besar bangsa itu kemiskinan, harga yang tak terkendali, korupsi yang menggerogoti. Bukan mahasiswa yang demo. Bukan prajurit yang cuma menjalankan perintah.

Soedirman bilang TNI kawan sejati rakyat. Kawan sejati itu yang melerai saat saudara bertengkar, bukan yang ikut mukul. Kawan sejati itu yang buka barikade, bukan yang mengunci. Kawan sejati itu yang ingat: seragam loreng itu lahir dari rahim ibu-ibu pasar yang sembakonya sekarang nggak kebeli.

Mahasiswa bukan lawan. Mereka alarm. Alarm berbunyi bukan karena benci rumah, tapi karena rumah kebakar. TNI bukan lawan rakyat. TNI adalah anak dari ibu-ibu yang anaknya jadi mahasiswa itu juga. Mahasiswa adalah rakyat! Kalau kita terus menganggap rakyat sebagai musuh, maka yang diuntungkan cuma satu: mereka yang duduk santai karena diuntungkan harga naik dan rakyat sengsara.

Waktunya ingat pesan Soedirman. Waktunya mengejawantahkan Manunggaling Rakyat dengan TNI. Waktunya barikade dibuka, dialog dimulai. Karena bangsa ini nggak akan kuat kalau anaknya saling hadang di jalan. Bangsa ini kuat rakyat dan TNI kembali satu barisan. Bukan lawan, tapi kawan. MERDEKA!

 


Ramayana Diskriminasi Gender

Sebelumnya

Kailasa dan Lalibela

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Jaya Suprana