Penghargaan Singapore History Prize tahun 2021 yang diterima buku ini adalah bukti sahih atas kualitas karyanya. Dewan juri mengakui bahwa buku ini tidak hanya informatif, tetapi juga memberikan kontribusi signifikan terhadap pemahaman publik mengenai sejarah Singapura.
Narasi yang dibangun Hidayah Amin mengingatkan kita bahwa sebuah kawasan bukan sekadar bangunan fisik. Kampong Gelam adalah entitas budaya yang mencakup tradisi, kebiasaan, dan keramah-tamahan masyarakat Melayu yang tak lekang oleh waktu. Buku ini juga memberikan kritik tersirat bagi para perencana kota: saat sebuah wilayah bersejarah diubah menjadi sekadar atraksi wisata, ada banyak memori dan jiwa yang berisiko hilang jika tidak didokumentasikan dengan baik.
Bagi masyarakat Indonesia, pemahaman atas sejarah Kampong Gelam sangat relevan dalam konteks relasi serumpun di era modern. Dengan memahami jejak peradaban yang sama, kita bisa melihat bahwa tantangan yang dihadapi di Singapura—yakni mempertahankan identitas di tengah arus globalisasi—sebenarnya adalah tantangan yang sama bagi masyarakat di Indonesia dan Malaysia.
Hidayah Amin dengan sangat apik menunjukkan bahwa sejarah bukanlah sekadar kumpulan angka, tanggal, dan kebijakan tata kota. Sejarah adalah tentang manusia, tentang rasa kehilangan, dan tentang upaya untuk terus mengingat dari mana kita berasal.
Hidayah menyimpulkannya dengan sangat baik, “Sudah saatnya bagi kita untuk mengunjungi kembali dan terhubung kembali dengan akar leluhur kita.”



KOMENTAR ANDA