post image
Foto: Anadolu Ajansi
KOMENTAR

Komando Pasukan Sentral Amerika Serikat (CENTCOM) resmi mengumumkan penyelesaian gelombang serangan militer terarah terhadap berbagai fasilitas militer milik Iran pada Rabu, 2 September 2026. Operasi penindakan skala besar tersebut menargetkan jaringan pertahanan dan infrastruktur strategis yang dikendalikan oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Pihak CENTCOM merilis pernyataan resmi melalui media sosial X untuk mengonfirmasi bahwa target yang dihancurkan mencakup instalasi pertahanan udara hingga sistem radar pemantau militer Iran. Selain itu, gempuran tersebut turut menyasar aset serta fasilitas maritim, kemampuan pemasangan ranjau laut, dan simpul-simpul situs komunikasi militer IRGC.

Militer Amerika Serikat menegaskan bahwa tindakan serangan udara ini dilancarkan sebagai respons balasan langsung atas aksi agresif yang dilakukan oleh pihak IRGC belakangan ini. Sebelumnya, pasukan garda elit Iran tersebut dilaporkan berupaya melancarkan serangan terhadap jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz serta menyasar personel militer AS di kawasan tersebut.

Dalam pernyataannya, CENTCOM menggarisbawahi komitmen kuat militernya untuk mempertahankan stabilitas dan keamanan para personel maupun sekutu di Timur Tengah. Lembaga tersebut mencatat bahwa lebih dari 50.000 tentara AS saat ini tengah bertugas aktif di seluruh penjuru kawasan dengan kesiapsiagaan operasional penuh.

Pihak komando militer menyatakan pasukan mereka tetap dalam status waspada, berkekuatan mematikan, dan siap melanjutkan pelaksanaan perintah operasi lanjutan sesuai arahan Panglima Tertinggi. Keberadaan puluhan ribu personel tempur ini difungsikan sebagai benteng pertahanan utama guna memitigasi eskalasi ancaman regional.

Menyusul pengumuman serangan militer oleh Washington, media lokal di Iran segera mengabarkan rentetan ledakan hebat yang terdengar di sejumlah titik strategis. Dentuman keras tersebut dilaporkan terjadi di beberapa kota pesisir dan pelabuhan, termasuk Pulau Qeshm, Bandar Abbas, Sirik, Chabahar, hingga kawasan Konarak.

Media penyiaran milik pemerintah Iran turut mengabarkan bahwa serangan udara tersebut mengenai Bandara Jiroft yang terletak di wilayah Provinsi Kerman. Serangan pada infrastruktur logistik dan penerbangan ini memperluas radius dampak dari operasi serangan yang digencarkan AS ke wilayah pedalaman Iran.

Di sisi lain, laporan jatuhnya korban jiwa dari pihak warga sipil mulai bermunculan pascaserangan di kawasan pesisir selatan. Wakil Gubernur Provinsi Hormozgan, Ahmad Nafisi, mengungkapkan adanya indikasi korban meninggal dunia dan puluhan warga lainnya yang menderita luka-luka akibat serangan tersebut.

Berdasarkan penilaian awal yang disampaikan otoritas Hormozgan, sedikitnya empat orang tewas dan 50 orang lainnya mengalami luka-luka. Nafisi menyebutkan korban berjatuhan setelah salah satu serangan udara AS dilaporkan secara keliru mengenai sebuah acara perayaan pernikahan warga setempat.

Konfrontasi terbuka antara Washington dan Teheran ini memperuncing tensi konflik geopolitik di perairan Teluk dan Selat Hormuz yang kian memanas. Komunitas internasional saat ini terus memantau potensi serangan balasan dari angkatan bersenjata Iran serta dampaknya terhadap rute perdagangan energi dan pelayaran global.


PM Kanada Mark Carney Balas Serangan Trump: Hentikan Meme dan Bersikaplah Serius dalam Perundingan Dagang

Sebelumnya

NABEP, Perusahaan di Balik Kesepakatan Minyak Venezuela Era Donald Trump

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Dunia