Tetapi kursi paling atas hampir selalu selamat.
Sebagai pendukung PSMS, saya terbiasa melihat tim kesayangan kalah. Kadang menyakitkan, kadang membuat marah, tetapi itulah sepak bola.
Yang tidak boleh menjadi kebiasaan adalah kegagalan yang selalu dijawab dengan janji evaluasi tanpa keberanian mengevaluasi orang yang memegang kendali.
Sepak bola Indonesia sudah terlalu lama hidup dari siklus yang sama: berharap, kecewa, mengganti pelatih, lalu berharap lagi.
Kali ini jangan hanya pelatih dan pemain yang diperiksa.
Lihat juga ke atas.
Erick Thohir sudah bekerja. Ada hasil yang pantas dihargai. Tetapi ada pula target besar yang gagal dicapai.
Karena itu pertanyaan ini bukan lagi sesuatu yang berlebihan.
Erick Thohir, sudah saatnya mundur?



KOMENTAR ANDA