Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan
TAHUN 1920, filsuf Inggris Bertrand Russell tinggal 9 bulan di China. Dari pengamatannya lahir buku relatif tipis berjudul “The Problem of China” 1922.
(Bertrand Russel tidak kenal istilah Tiongkok maupun Tionghoa). Buku ini bukan laporan wisata. Ini adalah “ramalan geopolitik” yang banyak benarnya, dan beberapa melenceng.
I. Diagnosis Russell: China Bukan “Masalah”, Tapi Korban
Russell membalik judulnya sendiri. “Masalah” China bukan karena orang Chinanya. Masalahnya adalah bagaimana Barat memperlakukan China. Sejak Perang Candu, China dipaksa buka pelabuhan, dirampok lewat konsesi, dan diadili dengan hukum asing.
Ini inti filsafat kebebasan Russell: setiap bangsa berhak menentukan nasib sendiri. Menjajah dengan kedok “perdagangan bebas” adalah kemunafikan.
II. Tiga Kekuatan yang Menggerogoti China
Menurut Russell, China ditekan dari 3 arah:
- Jepang: Paling berbahaya. Militeristik dan ingin jadi “Inggris-nya Asia”. Russell memprediksi Jepang akan menyerang China Utara. 11 tahun kemudian, Invasi Manchuria 1931 terbukti.
- Barat: AS dan Inggris. Bicara demokrasi tapi mendukung panglima perang demi bisnis.
- Perpecahan Internal: Para warlord. China tercerai-berai tanpa pemerintah pusat kuat. Maka China harus damai dan bersatu dulu, baru bisa berdiri.
III. Solusi Russell: Pendidikan, Bukan Senjata
Russell menolak jalan militer. Jawabannya: Pendidikan dan Sains. Dia jatuh cinta pada semangat kaum muda China pasca Gerakan 4 Mei 1919. Baginya, masa depan China ada di kampus, bukan di medan perang. “The West should help China to become strong, not keep her weak.”
IV. 5 Prediksi Russell yang Benar dan 2 yang Melenceng
100 tahun kemudian, kita bisa menguji Russell.
Yang Benar:
- Jepang akan menyerang: Terbukti di Manchuria 1931 dan Perang China-Jepang 1937 termasuk Pembantaian Nanjing.
- China akan bersatu: Meski lewat cara yang tidak dia duga, di bawah Komunis 1949.
- Barat akan munafik: Bicara nilai tapi utamakan kepentingan ekonomi.
- China punya daya tahan peradaban: Tidak akan "dijajah" mentalnya selamanya.
- Konflik akan panjang jika China dilemahkan: Ketidakstabilan mengundang intervensi.
Yang Melenceng:
- Russell terlalu percaya pada liberalisme: Dia mengira China akan jadi republik demokratis ala Inggris. Kenyataannya 1949 China memilih jalan revolusi komunis di bawah Mao.
- Russell meremehkan ideologi: Dia melihat masalah China sebagai ekonomi dan pendidikan. Dia tidak memprediksi betapa kuatnya ideologi komunis dan nasionalisme keras akan membentuk China abad 20.
Masalah China bukan tentang China. Ini cermin untuk Barat. Pertanyaan Russell masih relevan 2026: Apakah kita melihat China sebagai “masalah yang harus dibendung”, atau sebagai “peradaban yang berhak bangkit”?
Russell sudah memperingatkan: Selama China diperlakukan sebagai obyek, bukan subyek, maka “Masalah China” bagi dunia Barat tidak akan pernah selesai.



KOMENTAR ANDA