Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terus mengintensifkan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda berbagai wilayah pada tahun 2026.
Mengingat ancaman siklus lima tahunan dan kekeringan ekstrem akibat fenomena El Niño kuat, kesiapsiagaan penuh diberlakukan sejak dini.
Sebagai langkah antisipasi cepat, status Siaga Darurat Karhutla tingkat provinsi telah resmi ditetapkan sejak 6 Juli hingga 31 Oktober 2026, dengan Pos Komando Penanganan Darurat Bencana (PDB) diaktivasi pada 7 Juli 2026. Dari pemetaan terkini, sejumlah wilayah kabupaten/kota telah masuk ke dalam status siaga darurat, di antaranya Banjarbaru, Banjar, Tapin, Barito Kuala, Tanah Bumbu, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Utara, hingga Balangan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Selatan melaporkan hal ini langsung kepada Menteri Lingkungan Hidup, Moh. Jumhur Hidayat, di Posko BPBD Guntung Damar, Senin, 24 Agustus 2026.
Menurut laporan BPBD Kalsel, berdasarkan kompilasi data kejadian, tercatat ribuan titik kejadian karhutla dengan estimasi luasan lahan terbakar yang signifikan di Kalsel. Tiga wilayah yang mencatatkan kejadian sekaligus luasan kebakaran tertinggi adalah Kabupaten Banjar, Kota Banjarbaru, dan Kabupaten Tanah Laut.
Strategi penanganan dibagi menjadi tiga zona prioritas spasial. Area 1 (Zona Selatan & Pusat) yang mencakup Banjarbaru, Banjar, Tanah Laut, dan Barito Kuala menjadi prioritas utama dengan fokus kritis pengamanan Ring 1 Bandara Internasional Syamsudin Noor dari gangguan kabut asap. Sementara itu, Area 2 mencakup kawasan pertanian dan rawa di wilayah utara Kalsel, serta Area 3 berfokus pada ekosistem Pegunungan Meratus dan pesisir.
Upaya mitigasi struktural juga dilakukan melalui pembasahan lahan gambut secara masif di sekitar ring bandara. Rekayasa hidrologis diterapkan dengan memanfaatkan tampungan embung dan kanal serta pengaturan pintu air skot balok guna menjaga tinggi muka air (TMA) dan mencegah timbulnya ground fire (api bawah tanah).
Untuk mengamankan daratan, Satgas BPBD mendirikan berbagai pos lapangan strategis, seperti Pos Lapangan 1 di Guntung Damar, Pos Lapangan 2 di Pengayuan, dan Pos Lapangan 3 di Sambang Lihum. Seluruh pos dilengkapi dengan personel gabungan, armada truk tangki, unit fire slip on, kendaraan taktis roda dua/tiga, serta mesin pompa portabel beserta ratusan meter selang.
Secara keseluruhan, dokumen rencana kontinjensi memobilisasi kekuatan 1.777 personel pemadaman dan 372 tim patroli serta Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE). Kekuatan armada didukung oleh 68 unit mobil tangki, 114 mobil operasional, 186 unit kendaraan patroli, dan 337 unit mesin pompa air.
Kolaborasi lintas sektor diperkuat dengan pelibatan 160 personel TNI dan Polri setiap harinya. Unsur ini terdiri dari perwakilan Korem 101/Antasari, Polda Kalsel, Lanud Sjamsuddin Noor, Lanal Banjarmasin, Kodim, Koramil, hingga Polsek.
Dukungan sarana juga mengalir melalui Kementerian Pertahanan berupa 50 unit pompa air Honda, 140 dus selang semprot, serta masker pelindung. Selain itu, Kementerian Pertanian menyalurkan bantuan ke Korem 101/Antasari berupa 30 unit pompa air 6 inci, selang buang, selang hisap, dan bahan bakar pelumas.
Di sektor udara, operasi modifikasi cuaca (OMC) menggunakan pesawat Cessna Caravan telah menyemai sebanyak 10.000 kg garam NaCl melalui 10 sortie penerbangan. Patroli udara rutin juga dijalankan menggunakan helikopter Bell 206 dan pesawat Cessna.
Operasi pemadaman jalur udara (water bombing) turut digencarkan dengan mengerahkan helikopter jenis Super Puma, MI-8AMT, dan Blackhawk. Satgas udara tercatat telah menjatuhkan ribuan kali bom air (water drop) dengan total jutaan liter air ke titik-titik api yang sulit dijangkau.
Meski penanganan berjalan masif, tim di lapangan menghadapi tantangan berat seperti akses jalan yang terjal dan sumber pasokan air yang mulai mengering. Operasi udara pun kerap terkendala batas waktu operasional penerbangan serta restriksi area pada wilayah konsesi atau korporasi tertentu.
Kondisi cuaca tanpa hujan dan suhu panas turut memicu lonjakan kasus penyakit infeksi di tengah masyarakat. Laporan kesehatan mencatat penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menempati urutan teratas dengan belasan ribu kasus, disusul diare akut, pneumonia, suspek demam tifoid, dan influenza-like illness (ILI).
Pembiayaan penanggulangan karhutla ini ditopang secara terpadu melalui pos Anggaran Murni (APBD/APBN), Dana Siap Pakai (DSP) BNPB, Belanja Tak Terduga (BTT) Pemerintah Daerah, serta kemitraan CSR dunia usaha.
Dengan sinergi menyeluruh antara pemerintah daerah, aparat gabungan, kementerian, swasta, dan masyarakat, operasi penanganan karhutla di Kalimantan Selatan diharapkan mampu menekan sebaran kabut asap secara cepat, tepat, dan terkoordinasi.



KOMENTAR ANDA