post image
KOMENTAR

Pemerintah terus mengintensifkan upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan Barat. Salah satu langkah strategis yang dioptimalkan adalah pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membasahi kawasan rawan terbakar, khususnya ekosistem gambut, serta mencegah kobaran api kian meluas.

Di Kalimantan Barat, pelaksanaan OMC telah berlangsung secara bertahap sejak 28 Agustus hingga 4 September. Dalam periode tersebut, tim gabungan telah melaksanakan sebanyak 10 sortie penerbangan penyemaian awan dengan menghabiskan total 8.000 kilogram natrium klorida (NaCl) sebagai bahan semai.

Intervensi cuaca tersebut dilaporkan mulai memberikan dampak positif di lapangan. Hujan terpantau mengguyur sejumlah titik di Kalimantan Barat, termasuk kawasan Putussibau, Kabupaten Kubu Raya, hingga Kota Pontianak, yang secara langsung membantu proses pemadaman di area sekitar.

Curah hujan yang turun diharapkan dapat secara signifikan meningkatkan kelembapan tanah, terutama lahan gambut yang rentan menyimpan bara. Selain mendinginkan titik-titik bekas terbakar, kondisi lembap tersebut krusial untuk menekan potensi kemunculan kembali titik panas (hotspot).

Melihat efektivitas yang dihasilkan, operasi modifikasi cuaca di Kalimantan Barat diputuskan untuk dilanjutkan pada periode 3 hingga 9 September dengan dukungan penuh dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Perpanjangan ini difokuskan untuk menjaga stabilitas kebasahan lahan di kawasan rawan karhutla.

Direktur Pengendalian Kebakaran Lahan KLH/BPLH, Dasrul Chaniago, menegaskan bahwa OMC merupakan bagian dari strategi terpadu penanggulangan karhutla, bukan solusi tunggal yang berdiri sendiri. Keberhasilan penanganan tetap bertumpu pada sinergi berbagai metode pemadaman dan pencegahan di lapangan.

Selain penyemaian awan dari udara, pemerintah bersama aparat tetap gencar menjalankan patroli darat, pemantauan berkala terhadap titik panas, pemadaman langsung oleh tim darat, pembasahan gambut, tata kelola air, serta pelibatan aktif masyarakat dan pengawasan ketat terhadap operasional badan usaha.

Operasi modifikasi cuaca ini terlaksana berkat kolaborasi lintas instansi yang melibatkan KLH/BPLH, BMKG, BNPB, Kementerian Kehutanan, TNI Angkatan Udara, serta jajaran pemerintah daerah setempat. Seluruh jadwal penerbangan dirancang berdasarkan kajian harian terkait kondisi atmosfer, pergerakan arah angin, pertumbuhan awan potensial, dan sebaran titik api.

Tidak hanya di Kalimantan Barat, operasi serupa secara paralel digelar di Kalimantan Tengah sejak 26 Agustus hingga 5 September. Hingga awal September, tercatat sebanyak 9 sortie penerbangan telah ditebarkan dengan 7.200 kilogram NaCl, yang berhasil memicu hujan di kawasan Kabupaten Kotawaringin Barat.

Pemerintah berkomitmen untuk terus mengevaluasi pelaksanaan operasi secara berkala dengan memantau intensitas curah hujan, tren sebaran titik panas, dan indeks kualitas udara. Seluruh personel serta armada pemadam tetap disiagakan guna memastikan karhutla tertangani secara cepat, terpadu, dan kualitas udara masyarakat tetap terlindungi.


Balitbang Golkar Terus Pelihara Tradisi Soliditas

Sebelumnya

Negara Harus Hadir Sebelum Hutan Terbakar

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Nasional