post image
Ninding Yulius Permana (NYP)
KOMENTAR

Peringatan Hari Radio Tahun 2026 menjadi momentum refleksi untuk melihat perjalanan panjang radio sekaligus menjawab tantangan masa depan industri penyiaran audio di tengah pergeseran perilaku masyarakat yang kian digital.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Produser Konten Radio dan Penyiaran di Jakarta, Ninding Yulius Permana, melalui keterangan tertulis di Jakarta, Jumat, 11 September 2026. Menurutnya, radio telah mengakar sebagai bagian penting dalam sejarah perjalanan bangsa, bertransformasi dari ruang siaran sederhana hingga menjadi studio modern.

"Radio tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menjadi sumber informasi, pendidikan, ruang publik, serta teman masyarakat dalam berbagai situasi," ujar Ninding.

Kendati demikian, pria yang juga duduk sebagai Pengurus Pusat Jaringan Media Siber Indonesia ini menekankan bahwa era digital menuntut industri radio melakukan transformasi total agar siaran tidak mati suri saat microphone studio dimatikan. Kreativitas konten menjadi kunci, di mana satu materi siaran harus mampu dikembangkan ke berbagai platform seperti video pendek, siniar (podcast), artikel digital, hingga media sosial.

Dewan Pakar Bidang Media Asosiasi Pekerja Seluruh Indonesia itu menyoroti bahwa tantangan terbesar saat ini adalah adaptasi terhadap perilaku audiens, khususnya generasi muda. Dalam hitungan detik, masyarakat dapat berpindah dari radio menuju YouTube, TikTok, hingga layanan streaming musik.

"Karena itu, radio harus menawarkan sesuatu yang tidak mudah digantikan oleh algoritma," tegas Ninding. Ia berharap radio tetap konsisten memelihara kedekatan dengan manusia, komunitas, serta persoalan nyata di tengah masyarakat.

Kecepatan arus informasi, imbuhnya, wajib diimbangi dengan akurasi data dan kualitas jurnalistik yang bertanggung jawab. Di tengah gempuran disinformasi, radio justru memiliki peluang emas untuk meneguhkan posisinya sebagai media massa yang tepercaya.

Peran strategis tersebut kian krusial manakala radio hadir membersamai masyarakat dalam situasi darurat seperti bencana, kemacetan, isu ekonomi, hingga dinamika daerah. "Radio memiliki kemampuan membangun percakapan dua arah dengan pendengarnya," pungkas Ninding.

Sebagai catatan, Hari Radio Nasional diperingati setiap tanggal 11 September untuk mengenang tonggak sejarah berdirinya Radio Republik Indonesia (RRI) pada 1945. Momentum ini terus menjadi pengingat abadi atas fungsi radio sebagai media perjuangan, penyebar informasi, sekaligus perekat sosial bangsa Indonesia.

 


Kritiklah Kebijakannya, Bukan Salah Ucapnya

Sebelumnya

Tope Rendusara Minta IPO BUMD Jakarta Ditunda

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Nasional