post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

 Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan

KELIRUMOLOGI bukan ilmu membuat kekeliruan namun ilmu menelaah  kekeliruan. Di dunia teknologi, kelirumologi paling mahal bayarnya bukan uang. Taruhannya nyawa. Semisal terjadi pada jembatan ambruk.

Namun tidak ada pelajaran kelirumologis lebih tragis daripada PRAHARA ZEPPELIN.

Awal 1900-an, pesawat masih kayu dan kain. Lalu datang Zeppelin: balon udara mirip cerutu ukuran raksasa dari Jerman. Panjangnya 200 meter. Bisa muat 50 orang, ruang makan, kamar tidur, bahkan piano. Kecepatannya 130 km/jam. Ini "kapal pesiar langit". Simbol kemajuan. Simbol Jerman.

Epistemologi zamannya: Lebih besar = lebih aman. Lebih mewah = lebih canggih. Semua orang percaya. Sampai hari itu tiba.

6 Mei 1937: Tragedi Hindenburg

Kapal LZ 129 Hindenburg mendarat di Lakehurst, New Jersey. 97 orang di dalamnya. Penonton melambaikan tangan. Kamera rolling. Radio menyiarkan langsung: "Ini kapal paling aman di dunia..." 30 detik kemudian, api.

Dalam 34 detik, zeppelin 245 meter itu jadi bola api dan bangkai. 35 orang langsung tewas, lain-lainnya luka lahir-batin. Dunia menyaksikan secara live. Mimpi langit runtuh bersamaan dengan alumunium yang meleleh dan kulit terbakar.

Ada 3 kekeliruan fatal teknologi di sini:

1. Keliru Bahan: Zeppelin diisi Hidrogen, bukan Helium. Kenapa? AS embargo Helium ke Jerman karena takut dipakai militer. Hidrogen 10x lebih mudah terbakar. "Ada" dikalahkan "Aman".

2. Keliru Desain: Kulit luarnya dilapisi senyawa mirip bahan roket. Sekali kena percikan api, langsung jadi korek raksasa. Insinyur tahu risikonya. Tapi "estetika mengkilap" menang.

3. Keliru Rasa Aman : Karena mewah dan besar, orang lupa bertanya: "Bagaimana kalau terbakar di ketinggian 200 meter?" Tidak ada parasut. Tidak ada prosedur evakuasi.

Setelah Hindenburg, era zeppelin penumpang tamat. Semua lari ke pesawat bersayap. Zeepelin memang masih digunakan namun terbatas untuk iklab terbang tanpa penumpang manusia 

Kita dapat memetik 3 pelajaran yang masih dipakai sampai sekarang:
1. Safety > Prestise. Regulasi penerbangan hari ini lahir dari abu Hindenburg.
2. Uji di dunia nyata, bukan di brosur. Teknologi harus diuji gagalnya, bukan hanya suksesnya.
3. Publik berhak curiga. "Canggih" bukan sinonim "benar".

Hari ini kita punya AI, roket, mobil terbang, robot, mobil otonom. Bahasanya sama seperti 1937: "Revolusioner. Aman. Masa depan."

Prahara Zeppelin membisik dari langit: "Hati-hati. Setiap teknologi baru selalu datang dengan 2 hal: janji dan titik buta." Kelirumologi teknologi tugasnya satu: mencari titik buta itu sebelum ia mencari kita. Dari mimpi terbang, ke bola api di New Jersey, ke segenap checklist keselamatan di pesawat yang kita naiki hari ini.

Itulah harga dari 1 kekeliruan yang disiarkan ke seluruh dunia.

Namun akibat manusia mustahil sempurna maka karya manusia termasuk teknologi yang paling canggih juga mustahil sempurna. Terbukti kecelakaan pesawat udara maupun luar angkasa bukan Zeppelin masih terjadi sampai masa kini.


La Paloma versus Tango in D

Sebelumnya

Epistemologi Geometri

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Jaya Suprana