“PERADABAN not just CIVILIZATION” adalah buku filsafat kontemporer karya Adhie M Massardi. Diakui ini hasil kolaborasi dengan Non-Human Technical System (AI) yang memudahkan “saya berpikir dan bergerak secara quantum leap—melintasi waktu, zaman, kebudayaan, dan disiplin ilmu,” katanya.
Di tengah kontroversi pro dan kontra AI (kecerdasan buatan), Adhie M Massardi merilis buku filsafat kontemporer yang prosesnya ditangani Penerbit Buku KOMPAS, 2026. Mungkin ini buku pertama di Indonesia yang diakui sebagai hasil kolaborasi dengan AI, yang disebut Adhie sebagai non-Human Technical System.
Banyak orang mengira dengan dibantu AI membuat segalanya menjadi mudah. “Untuk menghasilkan karya berkualitas kita harus lebih cerdas dari AI, karena semakin canggih Ai kita harus menjadi semakin manusia agar tetap bisa mengendalikan AI,” katanya.
Kepada redaksi, jubir Presiden era KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini memberikan tips bagaimana menjadi intelektual di era digital, yang juga merupakan proses kreatifnya.
Perjalanan dari Analog ke Digital
Saya hidup dan mulai menulis di zaman analog, ketika bahan pengetahuan harus dicari secara manual. Untuk mendapatkan satu atau dua kalimat yang diperlukan, saya harus memilah buku dan membuka halaman demi halaman. Karena itu, setiap hendak menulis esai, di atas meja—di samping mesin ketik yang kemudian berganti menjadi komputer personal—selalu bertumpuk kliping koran, majalah, ensiklopedia, dan buku-buku yang akan dijadikan referensi.
Zaman ini melahirkan tren memajang ensiklopedia tebal berjilid-jilid, juga buku-buku ekslusif di lemari kaca di ruang tamu. Tidak penting apakah buku-buku itu pernah dibuka atau tidak. Tapi dari sana memang terpancar aura intelektual itu.
Sekarang saya hidup dan menulis di era digital, ketika bahan pengetahuan tersedia melimpah dan dapat ditelusuri dalam waktu yang jauh lebih singkat. Saya pun berangkat dari keyakinan bahwa pembaca hidup dalam ekosistem pengetahuan yang sama. Karena itu, saya tidak merasa perlu memindahkan seluruh gudang pengetahuan ke halaman buku agar sebuah gagasan dapat dipahami.
Karena itu yang diperlukan adalah fakta empiris dan bukti yang cukup untuk menjaga keutuhan argumentasi. Setiap fakta penting tetap harus memiliki pijakan yang dapat dipertanggungjawabkan. Tetapi buku tidak harus berubah menjadi gudang yang menampung seluruh bahan pembuktian.
Dengan demikian, jejak-jejak pengetahuan yang saya tinggalkan setelah berpikir dan bergerak secara quantum leap—melintasi waktu, zaman, kebudayaan, dan disiplin ilmu—dapat berfungsi seperti stabilo atau garis bawah. Ia menandai sesuatu yang penting untuk diperhatikan.
Apabila pembaca ingin mengetahui apa yang berada di balik tanda itu secara lebih luas dan mendalam, jejak tersebut dapat dijadikan mata kail untuk memancing pengetahuan yang lebih utuh dari hamparan pengetahuan digital.
Di zaman analog, intelektual melepaskan gagasannya kepada publik. Di era digital, intelektual dapat berjalan bersama publik mengikuti perjalanan gagasan itu.
Sebab di era digital, buku tidak lagi harus memindahkan seluruh isi laut pengetahuan ke halaman-halamannya. Cukuplah ia memberikan kail dan menunjukkan di mana pembaca dapat melemparkannya.
Di sinilah cara berpikir quantum leap memperoleh maknanya. Ia bukan sekadar kemampuan menjadikan seorang intelektual sebagai penjelajah waktu atau time traveler yang bergerak dari satu zaman ke zaman lainnya.
Ia menjadikan intelektual bekerja seperti arkeolog peradaban.
Seorang arkeolog tidak membawa pulang seluruh lapisan tanah yang digalinya. Ia menemukan artefak, mengenali nilainya, membaca jejak yang ditinggalkannya, kemudian menempatkannya dalam bentang sejarah yang lebih luas.
Demikian pula intelektual era digital. Ia menjelajahi hamparan pengetahuan umat manusia, menemukan artefak-artefak gagasan dari zaman dan kebudayaan yang berbeda, lalu mengenali bahwa di antara benda-benda yang tampaknya berjauhan itu masih terdapat kilau nilai yang sama.
Karena itu, berpikir quantum leap bukan melompat tanpa pijakan. Ia justru membutuhkan keluasan horizon pengetahuan, ketajaman menemukan hubungan, kemampuan membaca makna, serta tanggung jawab untuk memastikan bahwa artefak gagasan yang ditemukan memang layak ditempatkan dalam bangunan pemikiran yang sedang disusun.
The Death of the Author
Era digital menyediakan hamparan pengetahuan. AI membantu mempercepat penggalian. Tetapi manusialah yang harus mengenali artefak mana yang bernilai, membaca kilau maknanya, dan menentukan untuk apa ia dihadirkan kembali.
Pada akhirnya, era digital bukan hanya mengubah proses kreatif seorang intelektual, tetapi juga mengubah hubungannya dengan publik. Publik intelektual yang dahulu terutama hadir sebagai pembaca karya (teks) dan audiens dalam berbagai forum, kini memperoleh ruang baru dalam komunitas daring (online).
Di ruang ini, publik tidak lagi hanya menerima gagasan setelah dilepaskan oleh penulis, tetapi dapat menanggapi, mempertanyakan, mengkritik, bahkan ikut memperpanjang perjalanan gagasan itu. Hubungan intelektual dengan publik pun bergerak dari komunikasi yang cenderung satu arah menuju percakapan yang dapat berlangsung terus-menerus.
Perubahan ini memberikan konteks baru bagi pandangan Roland Barthes dalam “The Death of the Author” (1967). Barthes membebaskan teks dari otoritas pengarang agar pembaca dapat melahirkan maknanya sendiri.
Era digital tidak membatalkan kebebasan itu, tetapi membuka kemungkinan yang belum tersedia dalam ekosistem kepengarangan zamannya: penulis dapat hadir kembali di hadapan pembacanya.



KOMENTAR ANDA