Bukan untuk merebut kembali kedaulatan atas tafsir, melainkan untuk memasuki percakapan yang terus berlangsung setelah sebuah karya dilepaskan ke ruang publik. Buku pun tidak lagi harus menjadi titik akhir hubungan penulis dan pembaca, tetapi dapat menjadi pintu masuk menuju dialog intelektual yang hidup.
Jika Barthes memaklumkan “kematian pengarang” untuk memberi tempat bagi kelahiran pembaca, era digital memungkinkan keduanya tetap hidup—dan bertemu kembali dalam percakapan yang sama.



KOMENTAR ANDA