Ketegangan geopolitik global mencapai babak baru yang dramatis di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), New York, tatkala Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan pidato yang menantang dan sarat kritik tajam terhadap kebijakan Amerika Serikat dan Israel.
Dalam pidatonya di hadapan Sidang Umum PBB pada hari Rabu, Pezeshkian secara terbuka melemparkan tuduhan bahwa AS dan Israel merupakan dalang utama di balik instabilitas global serta pelaku serangan ilegal terhadap warga sipil dan infrastruktur vital di negaranya.
Pidato bersejarah tersebut hadir sebagai respons langsung sekaligus kecaman keras terhadap pernyataan Presiden Donald Trump sehari sebelumnya, di mana Trump mengancam tengah mempertimbangkan opsi untuk “memusnahkan” Iran menyusul konflik bersenjata yang telah berlangsung selama hampir tujuh bulan.
Penampilan Pezeshkian di podium PBB ini mencatatkan sejarah baru dalam diplomasi internasional; The New York Times melaporkan bahwa belum pernah ada seorang pemimpin negara yang hadir secara langsung berpidato di hadapan PBB ketika negaranya sedang berada dalam situasi perang aktif dengan Amerika Serikat.
Selain membantah klaim sepihak Washington, pidato tersebut secara telak mematahkan narasi yang sebelumnya digaungkan oleh Presiden Trump bahwa Iran sangat mendambakan kesepakatan damai yang diklaim akan tercapai pasca-pemilu paruh waktu 3 November mendatang.
Suasana sidang kian memanas ketika Pezeshkian mengawali pidatonya dengan menunjukkan sejumlah foto grafis anak-anak korban jiwa, yang menurutnya tewas akibat hantaman bom dari serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel.
Dengan nada penuh pembelaan, pemimpin Iran tersebut menolak keras stempel teroris yang disematkan oleh Presiden Trump kepada negaranya, seraya menegaskan bahwa bangsa Iran justru telah lama menjadi korban nyata dari aksi terorisme global.
Pezeshkian dengan tegas mempertanyakan legitimasi moral para pemimpin barat tersebut, dengan menyuarakan pembelaan bahwa negaranya hanya berjuang demi hak untuk hidup secara merdeka dan berdaulat tanpa intervensi asing.
Di tengah eskalasi retorika yang membara ini, Presiden Donald Trump sendiri dilaporkan tidak hadir di ruang sidang pada hari Rabu karena telah bertolak kembali ke Washington pada malam harinya guna menyambut kunjungan kenegaraan Presiden Tiongkok, Xi Jinping.
Menutup pidatonya yang berapi-api, Presiden Pezeshkian menegaskan posisi garis keras negaranya di panggung internasional, menyatakan bahwa Iran tidak akan tinggal diam dan bertekad untuk terus melawan agresi militer tersebut “hingga napas terakhir.”



KOMENTAR ANDA