Saudara-saudara, bergabung di sini adalah panggilan sejarah, saudara terpanggil. untuk berbakti kepada negara dan bangsa dan rakyat Indonesia. Saudara-saudara sudah mengerti dan sudah paham bahwa mengabdi di bidang pemerintahan adalah sesungguhnya pengorbanan. kehidupan pribadimu, kepentingan pribadimu kau korbankan sedikit gerakan saudara diawasi. Seluruh harta kekayaanmu diawasi. Setiap ucapanmu diawasi. Itulah risiko berbakti dalam bidang pemerintahan.
Apalagi di zaman sekarang di zaman teknologi digital yang begitu canggih. Teknologi yang sangat canggih tapi juga bisa sering disalahgunakan dalam keadaan sekarang. Banyak teknologi dipakai sebagai senjata untuk membuat kekacauan, untuk membuat perpecahan.
Saudara-saudara sekalian, dalam kondisi ini saya sekali lagi menggunakan kesempatan ini menyampaikan terima kasih saya sedalam-dalamnya dengan segala kelebihan dan kekurangan kita. prestasi yang telah kita capai dalam 2 tahun ini perlu kita banggakan. Bukan kita sombong. Kita tidak boleh sombong, tapi kita tidak boleh rendah diri.
Saudara-saudara sekalian, ada ciri-ciri khas bangsa Indonesia. Mungkin kalau mungkin karena kita terlalu lama dijajah, sering kita tidak bangga dengan prestasi kita sendiri.
Bahkan sering kita lebih hormat kepada prestasi orang asing daripada prestasi kita sendiri.
Saudara-saudara sekalian, saya sekarang bangga menjadi pemimpinmu. Saya bangga menjadi presiden mu. Saya bangga telah memimpin pemerintah ini. Karena dalam 2 tahun, dalam 2 tahun kita telah bekerja dengan hasil yang nyata, Saudara-saudara. kita diserang bangsa Indonesia selalu kalau bangkit bangsa Indonesia diserang dengan keras karena bangsa Indonesia sesungguhnya sangat tidak berkenan berdirinya bangsa Indonesia bagi bangsa-bangsa tertentu di dunia ini. Dari sejak kita lahir kita diganggu. Kenapa? Karena Indonesia ini, karena Nusantara ini sanggah sangat kaya. Kekayaan kita telah dirampok bertahun-tahun. Ratusan tahun. Saya sudah buktikan kepada saudara-saudara.
Dan bukan sekarang saya tidak perlu lagi ulangi, tapi data-data sejarah membenarkan bahwa Nusantara kita ini selalu menjadi sasaran, sasaran kekuatan-kekuatan negara-negara yang ingin mengambil kekayaan kita, Saudara-saudara sekalian.
Kita menerima mandat dari rakyat dalam situasi dan waktu yang memaksa kita untuk menghadapi tantangan, tangan-tangan dan kesulitan-kesulitan dengan berani kita tidak bisa lagi menghadapinya. dengan terlalu naif atau terlalu berusaha untuk menyenangkan orang lain. Kita dipaksa sekarang untuk memilih menghadapi kesulitan, menghadapi kenyataan yang intinya adalah menyelamatkan kekayaan bangsa dan rakyat Indonesia atau kita meneruskan sistem yang mengakibatkan kan kekayaan Indonesia diambil ke luar negeri tahun demi tahun melalui segala praktik-praktik yang saya anggap penipuan.
Bangsa kita ditipu, rakyat kita ditipu, pemerintah kita ditipu, para ahli hukum, para ahli pidana akan membenarkan. Coba apakah ada pemimpin politik atau ahli hukum yang akan berdiri dan mengatakan bahwa penyelundupan itu bukan pelanggaran. Penyelundupan adalah ibarat menikem bangsa kita. menikem badan kita. Penyelupan adalah usaha untuk membunuh ekonomi kita. Membunuh ekonomi kita artinya membunuh bangsa kita.
Penyeludupan ke dalam apakah berupa penyuapan narkotika? Apakah berupa penyelundupan barang-barang yang akan membuat pabrik-pabrik kita tutup atau penyelundupan keluar? Harta kekayaan kita diselundupkan, timah kita diselundupkan, emas kita diselundupkan, batu bara kita diselundupkan, kayu kita diselundupkan, BBM kita yang kita subsidi diselundupkan, pupuk kita yang disubsidi diselundupkan.
Bagaimana bisa ada yang mengatakan bahwa sistem yang mengizinkan penyelundupan jalan terus boleh kita pertahankan?
Saudara-saudara, inti yang ingin saya sampaikan yang sudah berkali-kali saya sampaikan kepada Saudara-saudara, kita sekarang berada dalam kondisi harus survival, kita harus bertahan.
Kita harus menyelamatkan kekayaan kita, kekayaan kita, sumber alam kita. Itu adalah ibarat darah kita. Kalau darah kita bocor terus, tidak mungkin badan kita selamat.
Saudara-saudara sekalian, kita berada dalam kondisi harus survive. Dan ini tidak hanya kita, banyak negara di dunia sekarang mengalami seperti kita dalam keadaan survival. yang utama adalah kepentingan nasional dan kepentingan rakyat.
Karena itu, Saudara, sudah berkali-kali saya juga sampaikan di hadapan umum dan juga intern bahwa garis politik yang saya jalankan, garis politik luar negeri yang kita jalankan adalah tradisi yang kita waris, yang kita dapat warisan dari pendiri-pendiri bangsa kita, yaitu itu kita ingin menghormati semua negara dan semua kekuatan besar.
Saya sudah sampaikan garis politik luar negeri saya adalah 1000 kawan terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak. Saya ingin menjadi the good neighbor. yang saya ingin jalankan adalah the good neighbor policy. Dari sejak awal bahkan sebelum saya resmi dilantik sebagai presiden, saya masih jadi Menteri Pertahanan dalam kabinet yang dipimpin Presiden Joko Widodo.
Saya mengikuti juga garis politik Pak Joko Widodo pada saat itu. Kita ingin punya hubungan baik dengan semua tetangga kita. Saya keliling, saya mau kerja sama dengan mereka. apa yang mereka minta sebagian besar saya ikuti. Dan itu yang kita berusaha kita pegang teguh lebih luas dari region kita, wilayah kita, kita juga menjaga sehingga kita bisa diterima. Kita tidak mau ikut blok manapun. Kita tidak mau ikut fakta-fakta militer manapun. Kita hormati. Kita tidak mau terlibat. Tapi kita sesuai dengan Undang-Undang Dasar kita. Kita anti imperialisme, kita anti penjajahan. Saudara-saudara sekalian.
Demikian juga dalam garis politik saya dalam negeri. Saya mengutamakan kepentingan nasional daripada kepentingan kelompok. Karena itu saya berusaha untuk merangkul semua kekuatan saya.
Karena kesadaran saya bahwa kondisi global sekarang penuh kerawanan. Karena kesadaran saya melalui pengalaman saya yang cukup lama di bidang keamanan, di bidang politik di mana politik dan ekonomi tidak bisa dipisahkan.
Kita harus koreksi diri, terutama dunia akademis kita. terutama profesor-profesor kita yang bertanggung jawab di bidang pendidikan. Salah satu kelemahan dari bangsa Indonesia adalah bahwa elit kita, elit kita terkotak-kotak dalam silo-silo sektoral ini mungkin bersumber dari pendidikan kita. politik, ekonomi, sosial, pertahanan tidak bisa dipisah-pisahkan.
Sekarang mata uang jadi senjata, Sekarang ekspor, impor jadi senjata, Sekarang pangan menjadi senjata, beras menjadi senjata. Jadi bisnis tidak bisa kita pandang hanya murni bisnis. Tidak bisa. Nah, ini saya kira dalam jangka panjang saya berharap kita akan nanti perbaiki bahwa di ujungnya pendidikan kita harus benar-benar integralistik, tidak bisa sektoral. Saya kira sektoral itu mungkin sampai di S1, S2, S3 sudah harus lebih multidimensional, Saudara-saudara sekalian. Kenapa saya bicara seperti ini? Karena dunia sekarang ya di mana kita lihat hampir bisa dikatakan bahwa hampir tidak ada suatu international order lagi.
Sekarang adalah politik berdasarkan kekuatan. Siapa yang kuat, dia akan survive. Yang tidak kuat, kita lihat apa yang terjadi di Timur Tengah, di mana-mana. Yang tidak kuat akan punah. Jadi, Saudara-saudara, politik kita yang saya yakini harus haruslah politik persatuan nasional.
Saudara-saudara, apa yang dicanangkan oleh Presiden pertama kita Bung Karno dulu dicemoohhkan, tapi saya kira ada satu benang merah, yaitu keyakinan beliau, usaha beliau untuk selalu menjaga persatuan nasional, National Unity.
Saudara-saudara, demokrasi kita menurut keyakinan saya sekarang semakin urgen untuk kita memelihara National Unity, Persatuan Nasional. Perbedaan bagus, kompetisi perlu, saling kritik, saling koreksi sangat perlu, tapi di ujungnya kita harus menjaga persatuan. Kalau kita ikut demokrasi ala Barat sekarang, kita lihat, lihatlah televisi, lihatlah berita tiap hari. Apa yang terjadi di Prancis? Apa yang terjadi di Itali? Apa yang terjadi di Eropa? Tempat lahirnya demokrasi yang mengajarkan kita HAM. Kita lihat ya. Ini perlu kita sadari. Karena itu inilah akibat dari politik yang saya jalankan. Koalisi kita besar. Benar. Karena saya ingin sebanyak mungkin kekuatan bersatu untuk menjalankan perbaikan kehidupan rakyat kita.
Saya tidak mau mengulangi-ulangi, mengutak-ngutik yang sudah liwat. negara sebesar kita, dinamika politik sebesar kita pasti persaingannya keras ya, kursi terbatas. Kok ada yang senyum ya? Ini pemimpin partai ini sadar kursi terbatas. Presiden hanya satu. Kita dituduh kabinet gemuk. lya kan? Tidak efisien. Tapi saudara-saudara saya ingatkan negara kita hampir 300 juta. Negara kita fisiknya sebesar Eropa. Eropa itu 30 negara, ada 30 kabinet, ada 30 Menteri Keuangan, ada 30 Panglima TNI, ada 30 Jaksa Agung. Ada 30 Kapolri Indonesia, satu kabinet, Saudara-saudara ya. Mana yang mana yang tidak efisien? Mana yang tidak efisien dan kita mampu mengendalikan.



KOMENTAR ANDA