post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Di tengah berbagai tantangan ekonomi dan kekhawatiran global, tingkat kebanggaan sebagai warga negara Indonesia masih sangat tinggi, yakni menyentuh angka 81,5% (rata-rata 7,51 dari skala 10).

Kendati demikian, optimisme terhadap pencapaian cita-cita "Indonesia Emas 2045" terbelah cukup ketat. Sebanyak 54,4% responden merasa optimis Indonesia akan berhasil menjadi negara maju pada satu abad kemerdekaannya, sementara 45,6% lainnya merasa pesimis.

Demikian antara lain hasil survei bertema “Survei Pemuda Indonesia 2026: Pekerjaan, Aspirasi, dan Pilihan Masa Depan” yang dilakukan Lembaga Survei KedaiKOPI dan diumumkan hari Jumat, 30 Oktober 2026.

Survei ini menyoroti dinamika sosial, ekonomi, hingga pandangan politik generasi muda. Berdasarkan survei yang melibatkan 1.213 responden berusia 17 hingga 45 tahun pada 23–29 September 2026 ini, terungkap bahwa mayoritas pemuda mendambakan kemandirian finansial melalui wirausaha, meski di sisi lain tantangan ketenagakerjaan masih menjadi beban pikiran yang besar.

Selain itu, di dalam survei juga terungkap sebanyak 32,8% responden menempatkan pengusaha atau wirausaha sebagai pekerjaan impian utama mereka. Angka ini semakin diperkuat dengan 43,9% responden yang memilih untuk bekerja bagi diri sendiri jika diberikan kebebasan memilih tempat kerja.

Meski demikian, ketika dihadapkan pada pilihan bekerja di instansi atau perusahaan, besaran gaji/penghasilan tetap menjadi pertimbangan nomor satu (63,5%), disusul oleh lingkungan kerja yang nyaman (43,1%) dan jenjang karier yang jelas (40,0%). Menariknya, aspek keseimbangan hidup atau work-life balance sangat dijunjung tinggi oleh generasi muda; 77,6% lebih memilih gaji standar dengan work-life balance yang baik ketimbang gaji tinggi namun harus sering lembur.

Tantangan Pasar Kerja dan Isu “Orang Dalam”

Di balik tingginya asa pemuda, hasil survei menunjukkan pesimisme yang cukup tinggi terhadap kemudahan mencari pekerjaan di Indonesia. Sebanyak 74,7% responden menilai bahwa mencari pekerjaan saat ini sulit, dengan tingkat kemudahan rata-rata hanya berada di angka 4,29 dari skala 10.

Ketika ditanya mengenai hambatan utama dalam mendapatkan pekerjaan, faktor kebutuhan akan koneksi atau "orang dalam" menduduki peringkat teratas dengan 56,0% suara. Faktor ini disusul oleh keterbatasan lapangan kerja (48,0%), tingginya persaingan (41,3%), serta batasan usia (39,2%).

Kecerdasan Buatan (AI) dan Keinginan ke Luar Negeri

Perkembangan teknologi turut memicu kekhawatiran tersendiri di kalangan tenaga kerja muda. Sebanyak 64,4% responden mengaku khawatir bahwa perkembangan Kecerdasan Buatan (AI) dapat menggantikan posisi atau peluang kerja mereka, dengan tenaga kesehatan serta mahasiswa/siswa menjadi kelompok yang paling tinggi tingkat kekhawatirannya.

Selain itu, tingginya keinginan untuk mengadu nasib di luar negeri juga terekam jelas dalam survei ini. Sebanyak 75,2% pemuda menyatakan ingin bekerja di luar negeri—dengan alasan utama mengejar penghasilan yang lebih tinggi (78,2%). Kendati demikian, rasa nasionalisme mereka dinilai tetap kuat karena sebagian besar dari mereka (77,8%) berencana untuk kembali dan menetap di Indonesia setelahnya.


Luhut Desak Gibran hingga KPU-Bawaslu Mundur Massal!

Sebelumnya

Sowan ke Muhammadiyah, Jumhur Janji Tobat Ekologis Bukan Gerakan Slogan

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Nasional