post image
CSO Meninblox, Lucy Eunsil Kim, dalam pertemuan dengan wartawan asing yang menghadiri 2026 Gangwon AI Healthcare Global Forum di Chuncheon ICT Venture Center, Rabu, 28 Oktober 2026.
KOMENTAR

Regulasi yang tepat dapat menjadi paspor bagi Roopin, inovasi rintisan teknologi kesehatan asal Korea, untuk berekspansi secara global. Hal itu disampaikan CSO Meninblox, Lucy Eunsil Kim, dalam pertemuan dengan wartawan asing yang menghadiri 2026 Gangwon AI Healthcare Global Forum di Chuncheon ICT Venture Center, Rabu, 28 Oktober 2026.

Di awal presentasinya yang berjudul “When Regulation Builds Trust: Validating Korean Health AI in Estonia and Scaling it to Indonesia”. Lucy mengatakan bahwa saat ini meskipun data kebugaran melimpah, dengan 87 persen pelari menggunakan perangkat wearable, namun angka cedera di kalangan pelari amatir tetap tinggi. Yakni mencapai 45,9 persen setiap tahun.

Risiko cedera berulang juga tercatat dua kali lipat lebih tinggi bagi mereka yang pernah mengalami cedera sebelumnya.

Banyak pelari menghadapi apa yang disebut sebagai the recovery gap: rasa sakit yang diabaikan, kunjungan klinik, rehabilitasi, hingga akhirnya timbul ketakutan untuk kembali berlari (fear of relapse) yang berujung pada penghentian total aktivitas lari.

Untuk menjawab masalah ini, Roopin hadir sebagai pelatih berbasis AI yang tidak hanya membaca data, tetapi juga memahami rasa sakit pengguna.

Berdasarkan uji beta di Korea sejak Juni 2026 yang melibatkan 43 pelari beta, 74 persen bergabung karena satu alasan utama: rasa sakit. Roopin membantu pengguna membaca kondisi harian, menanyakan titik nyeri, serta memberikan panduan apakah harus terus berlari, beristirahat, atau memodifikasi latihan.

Penting dicatat, katanya, Roopin tidak melakukan diagnosis, melainkan rujukan (refer). Sistem ini membaca tanda-tanda tubuh, menandai kemungkinan risiko, dan mengarahkan pengguna ke dokter atau klinisi ketika pola membutuhkan penanganan medis profesional.

Ekspansi internasional Roopin dimulai dari Estonia, sebuah negara dengan transformasi kesehatan digital terdepan. Melalui uji coba bersama Metrosert, Roopin membuktikan bahwa kepercayaan dapat diukur dari bagaimana pelari menggunakan pelatih AI dan mematuhi panduannya.

Estonia mengajarkan tiga prinsip utama bagi inovasi kesehatan digital. Pertama, aturan sebagai infrastruktur, di mana standar dan aturan data ditetapkan terlebih dahulu agar layanan baru dapat membuktikan kapabilitasnya dengan cepat.
Kedua, kotak pasir (Sandbox) yang membuka pintu internasional dengan memanfaatkan zona khusus (seperti Gangwon's Global Innovation Special Zone) untuk membantu rintisan Korea melakukan validasi di luar negeri.

Dan terakhir, bukti dan validasi yang dibangun dalam sistem satu negara dapat membuka pintu di negara berikutnya. “Good regulation doesn't slow down innovation — it gives it a passport,” ujarnya.
Setelah menetapkan standar dasar di Korea dan membangun kepercayaan di Estonia, langkah selanjutnya bagi Roopin adalah merambah Asia Tenggara dengan menjadikan Indonesia sebagai basis ekspansi regional berikutnya.

Dengan menggandeng Sirka, perusahaan kesehatan digital Indonesia untuk perawatan kronis, Roopin menguji performa algoritmanya di tengah iklim tropis Indonesia yang panas dan lembap sepanjang tahun. Target riset di Indonesia mencakup 300 partisipan, di mana sejauh ini 327 orang telah merespons dan 192 di antaranya telah aktif menggunakan aplikasi tersebut.

Melalui sinergi antara standar inovasi Korea, fondasi kepercayaan Estonia, dan jangkauan luas di Indonesia, Roopin membuktikan bahwa regulasi yang kuat bukanlah hambatan bagi inovasi, melainkan kendaraan utama untuk menembus batas global secara aman dan tepercaya.


AIDOT Kembangkan Cerviray AI Tangani Kanker Serviks

Sebelumnya

Gangwon Techno Park Menjadi Motor Penggerak Inovasi Industri

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Tech