post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan

SEMUA orang berhak berpikir. Itu adalah Hak Asasi yang paling hakiki. Sebelum hak bicara, hak bersuara, hak memilih, manusia pertama-tama punya hak berpikir. Bahkan diktator paling kejam pun tidak bisa melarang orang berpikir di dalam kepalanya sendiri.

Masalahnya bukan pada hak untuk berpikir. Masalahnya adalah ketika berpikir menganggap diri paling benar.

Filsafat mengajarkan kita untuk berpikir, tapi etika mengajarkan kita bagaimana cara membawa pikiran itu ke tengah manusia lain.

Berpikir adalah aktivitas sangat personal. Begitu pikiran itu diucapkan, ditulis, diunggah menjadi status, ia berubah menjadi aktivitas publik. Dan setiap aktivitas publik terikat pada etika: kelayakan dan kepantasan.

Immanuel Kant menyebutnya sapere aude_— beranilah berpikir sendiri. Tapi Kant yang sama juga memberi batas: berpikirlah sedemikian rupa sehingga kebebasan berpikir Anda tidak merampas kebebasan orang lain untuk berpikir berbeda.

Inilah penyakit berpikir modern: kita menganggap kebebasan berpikir artinya kebebasan untuk merasa paling benar.

Orang yang merasa paling benar tidak lagi berfilsafat. Dia berkhutbah. Dia tidak mencari kebenaran, dia mencari pengikut, dia mencari kekuasaan demi mencari orang lain yang bisa dikuasai.

Dalam epistemologi, ini disebut epistemic arrogance — kesombongan epistemik. Tatkala seseorang terkebur menutup kemungkinan bahwa dirinya bisa salah. Padahal ciri utama seorang pemikir justru adalah kemampuan untuk mengatakan: "Saya mungkin salah."

Sokrates, bapak filsafat, memulai dengan kalimat: "Aku tahu bahwa aku tidak tahu." Descartes meragukan segalanya. Al-Ghazali mengkritik akalnya sendiri. Tidak ada filsuf besar yang memulai dengan: "Saya paling benar dan orang lain pasti salah."

Tiga alasan etika melarang sikap paling benar:

1. Kebenaran manusia itu parsial.

Kita melihat dunia dari jendela yang berbeda. Seorang petani melihat hujan sebagai berkah panen. Seorang pedagang kaki lima melihatnya sebagai bencana dagang. Keduanya benar dari jendelanya. Merasa paling benar berarti menganggap jendela Anda adalah satu-satunya jendela di dunia.

2. Kebenaran butuh dialektika.

Tanpa antitesis, tesis tidak akan pernah menjadi sintesis. Jika Anda langsung membungkam orang yang berbeda, Anda mematikan proses pematangan kebenaran itu sendiri.

3. Kepantasan adalah peradaban.

Anda boleh berargumen bahwa bumi itu datar. Itu hak berpikir Anda. Tapi ketika Anda memaki, merendahkan, dan mengkafir-mengkafirkan orang yang percaya bumi bulat, Anda telah keluar dari filsafat dan masuk ke premanisme intelektual.

Di atas langit masih ada langit. Di atas filsafat masih ada keberadaban, Di atas keberadaban masih ada kemanusiaan.

Pada hakikatnya, etika filsafat adalah berpikirlah sebebas-bebasnya. Pertanyakan segalanya. Bahkan pertanyakan kebebasan itu sendiri. Tapi ketika Anda menyampaikan pikiran Anda, sisakan ruang untuk kemungkinan Anda salah, dan sisakan hormat untuk orang yang berpikir berbeda.

Karena tujuan filsafat bukan untuk memenangkan perdebatan. Tujuan filsafat adalah untuk membuat kita menjadi manusia yang lebih layak untuk diajak hidup bersama.


Pushkin dan Marx

Sebelumnya

Sejarah Kopi

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Jaya Suprana