post image
Dari kiri ke kanan: Presiden Prabowo Subianto, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Seskab Teddy Indra Wijaya
KOMENTAR

Kedaulatan tidak selalu dirampas dengan senjata. Kadang ia tergerus lewat tanda tangan yang tidak dibacakan keras-keras. Hari ini, lewat Idja Latuconsina, 45 halaman itu sudah dibaca.

Sejarah jarang memberi kesempatan kedua. Putusan Mahkamah Agung Amerika itu adalah celah. Tinggal keberanian yang menentukan: Indonesia berdiri tegak, atau tetap berjalan dengan beban yang seharusnya bisa dilepas.

Pertanyaannya tinggal satu: maukah penguasa membacanya ulang? Juga, beranikah mengambil jalan keluar yang sudah terbuka?  


Kritik Impor 105 ribu Pick Up India

Sebelumnya

Free Float 15 Persen, Solusi Ujian Berat Pasar Modal

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Ekonomi