post image
Donald Trump: One Man Show
KOMENTAR

Ketika logika “survival” ini diterapkan dalam kebijakan luar negeri yang kompleks, hasilnya bisa berupa tindakan impulsif yang mengabaikan konsekuensi jangka panjang. Hal ini diperparah dengan kepribadian Donald Trump yang eratik dan cenderung populis serta one man show.

Oleh: Chappy Hakim, Pendiri Pusat Studi Air Power Indonesia (PSAPI)


KEPEMIMPINAN seseorang tidak lahir dengan begitu saja. Ia adalah produk kompleks dari pengalaman hidup, nilai-nilai yang dianut, dan tentu saja, latar belakang pengetahuan yang membentuk cara pandangnya terhadap dunia. Dalam kasus pemimpin negara, cara pandang ini tidak hanya menentukan arah kebijakan domestik, tetapi juga dapat mengguncang tatanan geopolitik global.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, adalah contoh primer bagaimana pola pikir seorang bisnisman, yang mengutamakan kalkulasi untung-rugi, transaksi langsung, dan ancaman sebagai alat negosiasi mendominasi keputusan-keputusan kritis, termasuk dalam memicu konflik terbuka dengan Iran.

Keputusan ini terasa semakin problematik karena diambil di saat AS masih terbelit perang dagang dengan China dan kebuntuan di front Ukraina, menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan transaksional bisa menjadi bumerang ketika berhadapan dengan realitas internasional yang rumit dan saling terhubung.

Warisan Perang Dingin dan Mentalitas “Survival” ala Trump

Untuk memahami langkah Trump, kita perlu melihat kontrasnya dengan pola kepemimpinan AS pasca-Perang Dingin. Selepas runtuhnya Pakta Warsawa, perlu dicatat bahwa NATO justru diperluas ke Timur. Keputusan ini, terlepas dari pro-kontranya, didasari oleh logika strategis jangka panjang yaitu mengamankan pengaruh Barat dan mencegah kebangkitan revanchism Rusia di Eropa Timur. 

Ini adalah contoh kepemimpinan yang berbasis pada visi geopolitik berkelanjutan, memelihara instrumen kekuasaan meskipun musuh utama (Pakta Warsawa) telah tiada. NATO dirawat sebagai asuransi kolektif, sebuah investasi jangka panjang untuk stabilitas kawasan. Pola pikir yang bersandar pada strategi pertahanan keamanan negara dan kawasan.

Kerangka pikir Trump adalah antitesis dari hal tersebut. Sebagai seorang pebisnis, ia melihat dunia sebagai serangkaian transaksi di mana kemenangan diukur dari keuntungan langsung dan dominasi atas lawan. Mentalitas dan mindset inilah yang mendorongnya untuk agresif dalam perang dagang melawan China, demi mempertahankan dominasi ekonomi AS yang tergerus.

Namun, ketika logika “survival” ini diterapkan dalam kebijakan luar negeri yang kompleks, hasilnya bisa berupa tindakan impulsif yang mengabaikan konsekuensi jangka panjang. Hal ini diperparah dengan kepribadian Donald Trump yang eratik dan cenderung populis serta one man show.

Akhir dari Diplomasi, Awal dari “Perang Presisi”

Konflik dengan Iran adalah contoh nyata dari penerapan logika bisnis yang gagal. Selama pemerintahannya, Trump menerapkan kebijakan "tekanan maksimum" terhadap Iran. Namun, kebijakan ini kemudian bertransformasi menjadi agenda yang lebih ekstrem yakni menuju perubahan rezim (regime change). Trump, yang sebelumnya sukses dengan pendekatan keras terhadap Venezuela, tampaknya mencoba mengulang resep yang sama di Iran.

Namun, Trump gagal membaca papan catur dengan benar. Ketika serangan dilancarkan, proses diplomasi sebenarnya masih berjalan. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dengan getir menyatakan bahwa peluang diplomasi dari perundingan nuklir tidak langsung di Jenewa telah "disia-siakan".

Keinginan besar untuk mencapai keuntungan cepat dengan melumpuhkan Iran, serangan ini justru memicu perang regional. Iran membalas dengan menyerang pangkalan-pangkalan AS di negara-negara Teluk seperti Qatar, UEA, dan Bahrain, memaksa negara-negara seperti Arab Saudi dan Kuwait untuk menutup fasilitas minyak vital mereka.

Logika untung-rugi Trump plus gaya one man show-nya gagal memperhitungkan satu variabel krusial, rasa sakit yang bisa ditimbulkan oleh Iran melalui proxy-nya dan dampak rantai pasok energi global yang pada akhirnya akan menyulitkan AS sendiri.

Akumulasi Masalah Kepemimpinan

Kompleksitas situasi saat ini menunjukkan bahwa dunia tidak bekerja seperti perusahaan startup yang bisa fokus pada satu produk dalam satu waktu. Trump menghadapi apa yang disebut sebagai “kemacetan di banyak front” (multi-front gridlock).

Pertama, perang dagang dengan China belum usai. Meskipun ada gencatan senjata, tarif AS atas barang China tetap tinggi, mencapai 47,5 persen. China justru semakin lincah dengan merestrukturisasi rantai pasoknya dan memperkuat perdagangan dengan negara lain, menunjukkan bahwa tekanan AS tidak efektif melumpuhkan ekonomi mereka.

Kedua, urusan perang Ukraina-Rusia juga mandek. Utusan Trump gagal membawa Rusia ke meja kesepakatan. Duta Besar AS untuk NATO bahkan mengakui bahwa Rusia “mungkin tidak akan pernah siap” untuk berdamai dengan Ukraina. Perundingan di Jenewa pun buntu karena Rusia terus mengulur waktu dan menuntut konsesi wilayah yang tidak mungkin diterima Ukraina.

Ketika AS masih terfokus pada dua krisis besar ini, Trump membuka front ketiga di Timur Tengah tanpa perhitungan yang matang. Akibatnya, sekutu tradisional AS pun mulai menunjukkan jarak. Ketegangan dengan Eropa memuncak, ditandai dengan ancaman tarif baru AS dan respons keras dari pemimpin Eropa di Forum Davos 2026. Presiden Prancis Emmanuel Macron dengan tegas menyatakan, “Kami lebih memilih rasa hormat daripada para perundung”.

Ini adalah kritik telak terhadap gaya kepemimpinan Trump yang dianggap lebih suka mem-bully sekutu daripada merawat aliansi strategis seperti yang dilakukan para pendahulunya dalam memelihara NATO.

Perang AS-Israel melawan Iran di era Trump adalah studi kasus tentang bahaya kepemimpinan yang terlalu disederhanakan oleh logika bisnis. Timur Tengah dilihat semata sebagai peluang membangun Real Estate Elit di Gaza yang menggiurkan.

Dunia internasional bukanlah pasar saham yang bisa dimanipulasi dengan gertakan dan tekanan sepihak. Latar belakang Trump sebagai pebisnis mungkin membuatnya peka terhadap ancaman kompetitif China, tetapi buta terhadap kompleksitas diplomatik dan nilai jangka panjang dari aliansi.

Keputusan untuk menyerang Iran di saat AS sedang "sibuk" di dua front lainnya menunjukkan adanya overestimasi kekuatan sendiri dan underestimasi terhadap kemampuan bertahan dan membalas lawan.


Konflik AS Iran Memicu Ancaman Keamanan Global

Sebelumnya

Membaca Penerbangan Indonesia di tahun 2026

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Chappy Hakim