post image
Ilustrasi
KOMENTAR

Konsekuensinya, ketika anak terbiasa mendongeng sekaligus menulis, mereka akan cepat belajar tentang bagaimana menyusun kalimat sesuai tata bahasa dan penulisan yang standard. Hal ini tentu menarik, karena memasukan skill menulis dan mendongeng. Ini terobosan yang baik karena ODM tidak terjebak untuk memilih antara literasi dan oralitas sebagai dua opsi biner tetapi menggabungkan keduanya.

Sepulang dari rumah Hasan, saya mencoba menelusuri kliping-kliping lawas tentang ODM. Ternyata mereka telah melakukan berbagai eksperimen untuk mengajarkan STEM (Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika), dengan beberapa pendekatan kreatif, seperti:

Tari Matematika
Pada perayaan kemerdekaan 2015, ODM menampilkan “Tari Matematika”, sebuah pertunjukan yang mengajarkan konsep berhitung melalui gerakan tubuh . Metode ini mengakomodasi gaya belajar kinestetik yang sering terabaikan di sekolah formal.

Dongeng Tematik Sains
Alih-alih menghafal rumus, siswa ODM mendengarkan cerita yang di dalamnya terselip konsep ilmiah. Tokoh dongeng menghadapi masalah yang hanya bisa dipecahkan dengan pemahaman fisika atau biologi sederhana. Penelitian akademis tentang ODM mencatat bahwa pendekatan ini meningkatkan kemampuan berekspresi di kalangan siswa, peningkatan motivasi belajar, dan eksplorasi bakat serta minat mereka.

Eksplorasi Bakat Individual
Sistem belajar di ODM tidak mengedepankan paksaan. Para kakak pendamping membimbing anak-anak mengeksplorasi minat mereka masing-masing. Pendekatan ini terbukti efektif, terutama bagi siswa dengan hambatan belajar seperti disleksia dan siswa berkebutuhan khusus.

Hasilnya inovasi ODM itu nyata. Eka Setyadi, salah satu siswanya, berhasil meraih juara 3 Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI), beberapa tahun lalu. Padahal, ia awalnya adalah anak pendiam yang sempat putus sekolah akibat perundungan. Kualitas individu Tiyo Ardianto, Ketua BEM UGM dengan kemampuan retorika yang mengesankan, harus diakui juga merupakan outcome langsung dari pembiasaan mendongeng sejak ia bergabung di ODM saat masih jadi pelajar SMP.

Jelaslah bahwa apa yang dilakukan ODM bukan sekadar inovasi sosial dalam ranah pendidikan. Ini adalah respons terhadap perubahan besar yang juga diidentifikasi Thompson. Ketika dunia bergerak menuju “digital orality” -di mana video berdurasi 30 detik menjadi format utama informasi- ODM menunjukkan bahwa dongeng bisa menjadi jembatan, bukan penghalang, menuju pemahaman ilmiah.

TOTE mengingatkan bahwa literasi memungkinkan manusia berpikir abstrak, sementara oralitas mengutamakan kebersamaan dan kemudahan mengingat. ODM menggabungkan keduanya: dongeng menyediakan kemudahan mengingat, sementara konten sains mempertahankan kedalaman abstrak.

Lebih dari itu, ODM juga menjawab kritik Thompson tentang “the antisocial century” -abad yang membuat manusia semakin menyendiri. Dalam budaya oral, pembelajaran bersifat komunal. Hal yang sama berlaku di ODM: anak-anak belajar bersama, mendongeng untuk satu sama lain, membangun pengetahuan secara kolektif.

Di awal pendirian ODM, Hasan mungkin tidak membayangkan “buah ruhani”nya akan terbang sejauh ini. Ia hanya percaya pada prinsip sederhana, bahwa anak-anak itu butuh ruang. Ruang untuk bicara, ruang untuk salah, ruang untuk menemukan cara mereka sendiri memahami dunia. “Dongeng hanyalah alat. Yang penting mereka percaya,” ungkapnya.

Thompson, saya yakin juga belum pernah mendengar informasi tentang ODM saat ia menulis bukunya. Namun komunitas kecil di kaki Gunung Muria ini telah mempraktikkan apa yang ia teorikan: bahwa kebangkitan oralitas bukanlah kemunduran, melainkan peluang untuk menyampaikan pengetahuan dengan cara yang lebih relevan dan manusiawi.

Dalam TOTE, Thompson mengajak kita melihat bagaimana komunikasi membentuk realitas. ODM menunjukkan bahwa di tangan yang tepat, dongeng bukan sekadar cerita pengantar tidur, melainkan gerbang menuju pemahaman tentang gravitasi, aljabar, dan metode ilmiah.

Ketika teknologi digital membuat kita semakin sulit berkonsentrasi membaca teks panjang, mungkin bukan kita yang salah. Barangkali, sistem pendidikan yang terlalu kaku dengan cara-cara literasi murnilah yang perlu beradaptasi. ODM telah menemukan jalan yang terang: menggunakan medium yang paling akrab dengan naluri manusia untuk mengajarkan hal-hal paling kompleks yang pernah dicapai peradaban.

Seperti kata Walter Ong, yang dikutip Thompson dalam bukunya: “Human beings in primary oral cultures do not study. They learn by apprenticeship... by listening, by repeating what they hear (Manusia dalam budaya lisan yang utama tidak belajar. Mereka belajar melalui pengkaderan….dengan mendengarkan, dengan mengulangi apa yang mereka dengar).” Di ODM, mereka melakukan persis apa yang disampaikan Ong, sembari menorehkan tinta emas melalui anak-anak didik dan alumninya.

Meneropong ODM dalam lensa Thompson, saya seolah menemukan letak sebenarnya dari teori oralitas itu: bahwa untuk memahami sesuatu yang sangat rumit, kadang kita perlu kembali ke cara awal yang paling sederhana. Soal kalkulus yang paling jelimet sekalipun, akan lebih mudah lumer saat dilahap pikiran murid-murid jika disuapkan melalui menu dongeng yang renyah.


Ismail: Dari Klan Menjadi Suku

Sebelumnya

Democracia

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Gaya Hidup