Rezim Zionis diminta untuk beradaptasi dengan “tatanan regional baru” di mana Israel yang didukung AS bukan lagi pemain kunci yang menghegemoni. Perang yang dimulai oleh Israel dan AS justru melemahkan ambisi kedua negara menjadi penguasa abadi kawasan.
“Netanyahu bermimpi untuk memperluas sabuk keamanan di kawasan ini, tetapi tembakan cerdas dan berani dari saudara-saudara kita di Hizbullah di utara dan Ansarullah di selatan telah mengungkap janji-janji palsu rezim kepada para pemukim,” ujar Komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam, Brigadir Jenderal Esmaeil Qaani, dalam unggahannya di akun X hari Senin, 30 Maret 2026.
“Aspirasi para komandan perlawanan yang gugur telah terwujud: ruang perang front perlawanan adalah satu,” tegasnya.
“Biasakan diri dengan tatanan regional baru,” katanya lagi seperti dilaporkan Kantor Berita Tasnim.
Amerika Serikat dan rezim Israel melancarkan kampanye militer skala besar tanpa provokasi terhadap Iran setelah pembunuhan Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyed Ali Khamenei, bersama beberapa komandan militer senior dan warga sipil pada 28 Februari.
Serangan tersebut melibatkan serangan udara ekstensif terhadap lokasi militer dan sipil di seluruh Iran, menyebabkan banyak korban dan kerusakan infrastruktur yang meluas.
Sebagai tanggapan, Angkatan Bersenjata Iran telah melakukan operasi pembalasan, menargetkan posisi Amerika dan Israel di wilayah pendudukan dan di pangkalan regional dengan gelombang rudal dan drone.




KOMENTAR ANDA