Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan
“SAUDARA-saudara sekalian, kenaikan dolar tidak berpengaruh bagi masyarakat desa. Karena masyarakat desa tidak pegang dolar, mereka pegang cangkul."
Kutipan pidato, yang disambut tepuk tangan meriah oleh hadirin yang semua gajinya dihitung dan dibayar dalam rupiah. Dan UMR juga tetap dalam rupiah yang tidak naik meski dolar naik. Pernyataan itu logis. Seperti mengatakan hujan tidak membasahi orang yang berteduh di bawah pohon. Benar, asal pohonnya tidak tumbang.
Di desa Sukamaju, Pak Karno memang tidak pegang dolar. Yang ia pegang adalah utang pupuk. Harganya naik 40% bulan lalu. Katanya sih karena “bahan baku impor”. Ketika ditanya impor dari mana, ia menjawab, “Dari pasar yang jauh itu.”
Bu Inah juga tidak peduli dolar. Yang ia peduli adalah harga minyak goreng. Sejak dolar naik, minyak goreng di warung Pak RT jadi punya dua harga: harga normal untuk yang bertanya, dan harga “diam-diam saja” untuk yang sudah langganan. Bu Inah memilih diam-diam saja. Demi perdamaian keluarga.
Anak-anak desa juga aman. Mereka tidak kuliah ke luar negeri, jadi tidak perlu bayar tuition dalam dolar. Mereka kuliah di kota kabupaten, bayarnya tetap rupiah. Hanya saja, uang kiriman dari orang tua yang dulu cukup untuk makan sebulan, sekarang cukup untuk makan tiga minggu. Sisanya minggu keempat diisi dengan mie instan dan optimisme.
Yang paling tidak terpengaruh adalah harga gabah. Gabah tetap murah. Seperti biasa. Seolah-olah gabah hidup di zona ekonomi steril, kebal terhadap inflasi, kurs, dan pidato. Ketika ditanya kenapa, tengkulak hanya menjawab, “Begitulah pasar bekerja.” Pasar yang dimaksud tidak pernah terlihat, tapi selalu didengar suaranya.
Di balai desa, kepala desa mengadakan sosialisasi tentang pentingnya tidak panik. “Jangan panik,” katanya. “Kita punya kearifan lokal. Kita bisa makan singkong.”Warga mengangguk. Singkong memang naik harganya juga, tapi setidaknya naiknya pelan. Sesopan orang desa.
Jadi benar. Kenaikan dolar tidak langsung memukul masyarakat desa. Ia memukulnya lewat pupuk, lewat minyak, lewat ongkos angkut, lewat harga obat, lewat segala sesuatu yang datang dari luar desa. Karena tidak pernah tamasya atau studi banding ke luar negeri, maka masyarakat desa tidak peduli dolar naik.
Seperti panah yang ditembak dari jauh. Tidak terlihat siapa yang menembak. Tapi sakitnya sampai ke kaki. Dan di desa, orang sudah terbiasa berjalan dengan kaki yang sakit. Mereka menyebutnya ketabahan. Orang kota menyebutnya data inflasi pedesaan.
Maka pidato itu tidak salah. Dolar memang tidak berpengaruh bagi masyarakat desa. Yang berpengaruh adalah segala sesuatu yang harganya ikut naik karena dolar naik. Tapi itu detail kecil. Tidak perlu dibahas di pidato.




KOMENTAR ANDA