post image
Presiden AS Donald Trump ancam Iran dalam waktu 48 untuk buka Selat Hormuz, atau hadapi \'Neraka\'./The White House
KOMENTAR

Oleh: Dahlan Iskan, Wartawan Senior

HARI ini adalah deadline yang ditetapkan Presiden Trump untuk Iran: menyerah atau akan digempur habis-habisan sampai ludes. Dalam istilah Trump: Iran akan dihancurkan sampai menjadi seperti kembali ke zaman batu.

Trump sudah ingatkan: militer Amerika itu terhebat di dunia. Peralatan tempurnya termodern dan terbesar di muka bumi. Tidak ada benda sebesar biji sawi sekali pun yang bisa sembunyi dari intaian Amerika. Jajaran pemimpin Iran akan dihabisi sampai ke lapis keduanya.

Iran tetap tidak takut. Tidak mau menyerah. Bahkan marah. Istilah ''sampai menjadi kembali ke zaman batu'' itu menyinggung perasaan terdalam mereka. Anda sudah tahu: bangsa Persia sudah maju di kala Amerika masih berada di zaman batu.

Menteri Perang Amerika Pete Hegseth lebih brutal lagi –kata-katanya. Sampai tidak pantas saya tulis di sini.

Kepercayaan diri Amerika seperti dapat momentum lima hari terakhir. Yakni ketika Amerika berhasil menyelamatkan pilot pesawat tempur yang ditembak jatuh di pegunungan Iran. Ketika pesawat itu jatuh pilotnya memijit tombol yang membuat dirinya terpental bersama dengan kursinya –sekaligus bisa menjadi pelampungnya. Begitulah semua pesawat tempur: pesawat boleh hancur pilotnya harus selamat.

Kisah penyelamatan pilot inilah yang kini jadi peristiwa kepahlawanan besar di Amerika. Itu dibuat kisah penyelamatan tentara dari sarang musuh. Perhatian orang Amerika fokus tertuju ke detik-detik penyelamatan itu. Mereka seperti sedang nonton film Hollywood.

Begitulah Amerika. Tidak hanya di film. Setelah tahu pilot pesawat tempur itu terperangkap di sarang musuh segala upaya dikerahkan. Digambarkan, Presiden Trump sendiri terus mondar-mandir di Gedung Putih: dari Oval Room ke War Room. Ia mengikuti dari detik ke detik pengerahan kekuatan untuk menyelamatkan satu orang itu.

Sang pilot hanya punya senjata minimalis: pistol. Tapi ia punya senjata kecil yang mahapenting: alat sebesar kacang yang bisa mengirim sinyal. 

Sinyal itu masuk ke cloud-nya Amazon atau Oracle atau Google atau Microsoft. Dari sana menyebar ke pusat kendali militer Amerika. 

Begitu diketahui posisi sang pilot rencana operasi penyelamatan pun dikerahkan. Apalagi sang pilot juga memberi info: dirinya dalam keadaan selamat. Hanya terluka. Ia juga melaporkan kondisi lokasi jatuhnya pesawat: di pegunungan dengan ketinggian 2.300 meter. Seperti di ketinggian pegunungan Tinombala di Palu.

Sang pilot juga melapor bahwa ia sudah berhasil bersembunyi agar tidak mudah ditangkap pasukan Iran. 

Iran memang mengerahkan pasukan untuk menangkap pilot itu. Iran juga mengumumkan memberi hadiah kepada siapa pun warga pegunungan itu yang bisa menangkapnya.

Betapa dramatik operasi penyelamatan itu bisa dilihat dari banyaknya pesawat yang dikerahkan Amerika: 12 pesawat. Bayangkan, 12 pesawat harus terbang ke atas daratan Iran. Demi satu orang tentara. Maka wilayah seluas tiga kilometer dari tempat persembunyian itu dihujani bom. Setelah dinyatakan aman, satu pesawat pengangkut pasukan mendarat di landasan darurat. Amerika sudah tahu sedetail itu: di mana pesawat jenis C-130 bisa mendarat dengan aman di dekatnya.  Pesawat itu besar tapi punya kelebihan: bisa mendarat di landasan pendek.

Pesawat-pesawat tempur lain terbang rendah. Mereka terus mengamati daerah sekitar persembunyian. Bukan hanya untuk mengamankan sang pilot, juga untuk mengamankan pasukan penyelamat. 

Belum ada laporan lebih detil dari itu. Mungkin dicicil untuk terus mengobarkan drama di Amerika: sang pilot berhasil diselamatkan dari sarang musuh. Pilot itu lantas diterbangkan ke Kuwait. Dirawat di RS di sana.

Dari jam ke jam orang Amerika tergila-gila dengan keberanian tentara Amerika menyelamatkan pilot tersebut. Di cerita itu tentara Amerika justru seperti dalam posisi terzalimi. Mereka lupa bahwa perang ini akibat Amerika sendiri yang menyerang Iran.

Kisah kepahlawanan itu akhirnya bisa membalik opini di Amerika. Dari yang awalnya menentang perang menjadi simpati kepada tentara mereka. 

Di saat yang tepat itulah Trump memberikan ultimatum ke Iran: menyerah, membuka selat Hormuz, atau kembali ke zaman batu.

Padahal belakangan sebenarnya mulai meluas pertanyaan di media Amerika: untuk siapa perang ini? Untuk siapa tentara Amerika mempertaruhkan nyawa? Jawabnya jelas: bukan demi Amerika. Selat Hormuz dan minyaknya tidak untuk Amerika. Itu untuk Eropa, Jepang dan Korea –dan bahkan untuk ''musuh'' Amerika sendiri: Tiongkok. 

Padahal konstitusi Amerika sudah jelas menggariskan hanya tiga alasan untuk boleh perang –dan serangan ke Iran itu sama sekali tidak termasuk salah satu dari ketiganya. Iran begitu jauh dari daratan Amerika.

Satu-satunya yang masuk akal hanyalah ini: nuklir. Tapi Presiden Barack Obama sudah menyelesaikan itu dengan baik. Justru Trump yang membatalkan perjanjian yang dibuat Obama.

Kisah operasi penyelamatan pilot telah menjadi daya tarik baru. Itu dimanfaatkan dengan baik oleh Trump. Kini dengan ancaman serangan total ke Iran, sepertinya Trump sendiri yang  ingin jadi pahlawan besarnya. 

Kita begitu waswas menanti datangnya hari Selasa pagi ini. Akankah peradaban dunia hancur oleh ambisi dua orang gila yang berkuasa di satu kurun yang sama.


Kompor Oracle

Sebelumnya

Agus Mustofa

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Disway