post image
Sumitro Joyohadikusumo
KOMENTAR

Soemitronomics memberi kerangka struktural: industrialisasi, kedaulatan keuangan, kontrol modal, pembangunan sektor riil.


Oleh: Anang Fahmi, Dosen UIN Prof KH Saifuddin Zuhri Purwokerto

DUNIA sedang tidak baik-baik saja. Konflik bersenjata antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang terus mengeras bukan sekadar perang militer — ia adalah perang peradaban yang memiliki dimensi ekonomi paling dalam. Harga minyak bergolak, Selat Hormuz terancam, rantai pasok global kembali tersentak, dan negara-negara berkembang seperti Indonesia sekali lagi menjadi pihak yang paling rentan menanggung beban eksternalitas konflik yang bukan kita ciptakan.

Di sinilah dua warisan intelektual besar — pemikiran ekonomi Soemitro Djojohadikusumo dan falsafah Jawa dalam Serat Centhini — menemukan relevansinya yang paling mendesak. Keduanya, dari dua saluran berbeda, sesungguhnya bicara tentang satu hal yang sama: bagaimana sebuah bangsa membangun ketahanan sejati dari dalam dirinya sendiri.

Sangkan Paraning Dumadi: Dari Mana dan Ke Mana Ekonomi Kita?

Serat Centhini — ensiklopedi terbesar kebudayaan Jawa yang selesai ditulis pada 1823 — mengajarkan falsafah sangkan paraning dumadi: siapa pun yang tahu dirinya, sesungguhnya tahu Tuhannya. Dalam konteks ekonomi politik, pertanyaan ini adalah pertanyaan paling fundamental yang harus dijawab setiap bangsa: dari mana sumber penghidupan kita berasal, dan ke mana arah transformasi ekonomi kita menuju?

Indonesia hari ini menjawab kedua pertanyaan itu dengan cara yang memprihatinkan. Sumber penghidupan masih sangat bergantung pada ekspor bahan mentah — batu bara, kelapa sawit, nikel mentah — sementara arah ekonomi kita dikendalikan oleh volatilitas pasar global yang justru sedang dibakar oleh perang. Rupiah yang rata-rata terdepresiasi 9,38 persen per tahun sejak 1997 adalah bukti empiris bahwa kita belum menemukan sangkan yang benar, apalagi paran yang jelas.

Soemitro sudah memperingatkan ini puluhan tahun lalu. Dalam catatannya yang masih relevan, mengekspor bahan mentah sama dengan mengekspor potensi nilai tambah — melepas kekayaan sebelum sempat diolah menjadi kemakmuran. Indonesia, katanya, tidak boleh terjebak sebagai bangsa perifer dalam hierarki ekonomi dunia.

Ngudi Kasampurnan: Kesempurnaan sebagai Proses, Bukan Hasil

Falsafah ngudi kasampurnan dalam Serat Centhini mengajarkan bahwa kesempurnaan bukan kondisi statis yang diraih sekali lalu selesai — ia adalah proses pencurahan seluruh eksistensi, jasmani dan rohani, menuju tujuan hidup yang lebih tinggi. Tokoh Seh Amongraga dalam Serat Centhini tidak mencapai kesempurnaan dengan menyingkir dari dunia, melainkan justru dengan terlibat penuh dalam realitas sosialnya: mengajar, berkelana, memberi wejangan, membangun komunitas.

Dalam bahasa Soemitronomics — sebut saja demikian paradigma ekonomi strukturalis Soemitro — ngudi kasampurnan ini berpadanan dengan konsep industrialisasi sebagai proyek peradaban yang berkelanjutan. Bukan pertumbuhan angka GDP yang dipuja setiap kuartal, melainkan transformasi struktural yang mengubah cara sebuah bangsa memproduksi, mendistribusikan, dan memaknai kemakmurannya.

Perang Iran-AS-Israel hari ini seharusnya menjadi wejangan keras bagi Indonesia: negara yang bergantung pada impor energi dan tidak memiliki industri hilir strategis akan selalu menjadi korban, bukan aktor. Kenaikan harga minyak akibat ketegangan di Selat Hormuz langsung memukul subsidi energi, memperlemah rupiah, dan menekan daya beli rakyat. Ini adalah ketidaksempurnaan struktural yang tidak bisa diselesaikan oleh kebijakan moneter jangka pendek.

Astabrata dan Kepemimpinan Ekonomi: Belajar dari Delapan Dewa

Serat Centhini mengajarkan astabrata — delapan watak dewa sebagai pedoman kepemimpinan. Dewa Bayu "mencermati segala perbuatan dan pikiran rakyat" — artinya pemimpin harus memiliki intelijen ekonomi yang tajam. Dewa Baruna "menggunakan senjata untuk mengikat semua yang berbuat jahat" — artinya negara harus memiliki keberanian menegakkan hukum melawan oligarki dan pemburu rente.

Ironinya, kedua watak inilah yang paling absen dalam tata kelola ekonomi Indonesia kontemporer. Ketika kebijakan hilirisasi nikel diprotes oleh Eropa dan Amerika di WTO, pemerintah bergeming — ini adalah watak Baruna yang benar. Namun ketika oligarki batu bara memperoleh relaksasi ekspor di tengah krisis energi global, watak Baruna itu luntur di hadapan tekanan domestik.

Soemitro dalam analisisnya menyebut kebocoran anggaran 30 persen sebagai bukti kuatnya budaya rente dalam sistem ekonomi Indonesia. Dalam kerangka astabrata, ini adalah kegagalan watak Dewa Kuwera — pemimpin yang seharusnya mengelola sumber daya dengan adil justru membiarkan distribusi yang timpang.

Epistemologi Centhini vs Epistemologi IMF: Dua Cara Mengetahui Ekonomi

Serat Centhini memiliki tiga sumber pengetahuan: empirisme (pengalaman inderawi), rasionalisme, dan wahyu. Ketiganya digunakan bersama-sama, saling melengkapi. Pengetahuan tentang alam diperoleh dari observasi langsung; pengetahuan tentang etika sosial diperoleh dari akal budi; pengetahuan tentang tujuan akhir manusia diperoleh dari pencerahan spiritual.

Epistemologi IMF dan Bank Dunia, sebaliknya, hanya mengenal satu sumber kebenaran: data kuantitatif jangka pendek yang diukur dalam dolar dan persentase pertumbuhan. Akibatnya, resep yang diberikan selalu sama: liberalisasi, deregulasi, privatisasi. Indonesia yang patuh pada resep ini sejak 1967 — sejak Konferensi Meja Bundar memaksa kita melunasi utang 4,3 miliar gulden warisan kolonial — tidak pernah benar-benar keluar dari struktur ketergantungan.

Di tengah perang Iran-AS-Israel, ketika Amerika menggunakan dolar sebagai senjata melalui sanksi finansial, dan ketika harga komoditas energi menjadi instrumen tekanan geopolitik, Indonesia membutuhkan epistemologi baru dalam mengelola ekonominya — epistemologi yang mengintegrasikan kearifan lokal (kawruh Jawa), analisis struktural ala Soemitro, dan prinsip-prinsip keadilan ekonomi. Bukan epistemologi yang diserap mentah-mentah dari Washington Consensus.

Aksiologi: Nilai Apa yang Mendasari Ekonomi Kita?

Serat Centhini, melalui hierarki nilai Scheler yang tercermin dalam perjalanan Seh Amongraga, mengajarkan bahwa nilai spiritual dan kesucian harus mendominasi — melampaui sekadar nilai kesenangan dan vitalitas material. Dalam konteks ekonomi, ini berarti kemakmuran harus diukur bukan dari besarnya GDP semata, melainkan dari sejauh mana ia menciptakan keadilan, martabat, dan kemaslahatan bersama.

Soemitronomics sejalan dengan ini. Soemitro percaya bahwa penggunaan sumber daya publik harus diarahkan pada kepentingan kolektif, bukan akumulasi segelintir elite. Ia menekankan capital formation domestik bukan sebagai proyek kapitalisme negara, melainkan sebagai prasyarat kedaulatan yang memungkinkan seluruh rakyat — bukan hanya oligarki — menikmati hasil produksi nasional.

Di tengah perang yang kini membakar Timur Tengah dan mengancam stabilitas pasar energi global, pertanyaan aksiologis ini menjadi paling mendesak: Untuk siapa kedaulatan ekonomi Indonesia dibangun? Jika jawabannya adalah "untuk rakyat seluruhnya," maka diperlukan keberanian melawan dua jenis penjajahan sekaligus — penjajahan eksternal yang datang melalui tekanan geopolitik dan arsitektur keuangan global, serta penjajahan internal yang datang melalui oligarki yang mengenakan topeng nasionalisme.


JK vs Rismon: dari Ijazah Palsu ke Bohir. Jokowi Menang Banyak!

Sebelumnya

Delpredo Marhaen Ajukan Kasasi, Menko Yusril Menghormati

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Nasional