Sebagaimana pohon-pohon besar di Kebun Raya Bogor yang terus tumbuh dan menaungi, demikian pula persahabatan Indonesia-Korea Utara diharapkan tetap kokoh dan berkembang lintas generasi.
Oleh: Safriady, Pemerhati Isu Strategis & Doktor Ilmu Komunikasi Unpad
DI tengah citra global yang sering dikaitkan dengan isolasi dan ketegangan geopolitik, Korea Utara justru menyimpan satu pendekatan diplomasi yang relatif senyap namun signifikan yaitu diplomasi anggrek. Melalui bunga Kimilsungia yang didedikasikan untuk Kim Il Sung negara ini memperlihatkan bahwa diplomasi tidak selalu harus hadir dalam bentuk negosiasi keras atau tekanan militer.
Sebaliknya, diplomasi juga dapat tumbuh dari simbol, budaya, dan estetika.
Kimilsungia bukan sekadar bunga. Ia adalah konstruksi simbolik yang memadukan penghormatan terhadap pemimpin, identitas nasional, dan komunikasi internasional. Dalam konteks diplomasi positif, simbol ini menjadi medium yang mengurangi ketegangan dan membuka ruang interaksi yang lebih humanistik. Negara-negara yang mungkin enggan terlibat dalam dialog politik formal dengan Korea Utara tetap dapat hadir dalam pameran atau festival bunga, sebuah ruang yang lebih netral dan minim resistensi.
Simbol Kimilsungia sebagai Instrumen Diplomasi
Pendekatan melalui bunga Kimjongilia yang didedikasikan untuk Kim Jong-il. Meski secara botani merupakan begonia, fungsi simboliknya tetap sejalan dengan memperkuat kesinambungan identitas negara sekaligus menjadi alat diplomasi kultural.
Festival Kimjongilia yang rutin digelar di Pyongyang menghadirkan delegasi asing, organisasi internasional, dan komunitas pecinta tanaman dari berbagai negara.
Dalam perspektif diplomasi positif, kegiatan ini menciptakan ruang interaksi berbasis minat bersama (shared interest diplomacy), bukan kepentingan strategis semata. Ini penting, karena hubungan antarnegara yang dibangun dari kesamaan budaya cenderung lebih tahan terhadap konflik.
Dari Kebun Raya ke Panggung Dunia
Anggrek Kimilsungia yang dikembangkan oleh ahli botani Indonesia, R.A. Gunawan, dan berasal dari lingkungan tropis Indonesia. Ketika diserahkan kepada Kim Il Sung pada tahun 1965, bunga ini tidak hanya membawa identitas botani, tetapi juga identitas nasional Indonesia.
Transformasinya dari tanaman hibrida di Indonesia menjadi simbol negara di Korea Utara. Ini menunjukkan bagaimana objek biologis dapat mengalami “reposisi makna” dalam diplomasi internasional. Kimilsungia kemudian diproduksi ulang dalam narasi politik Korea Utara sebagai lambang penghormatan global terhadap pemimpinnya.
Diplomasi Tanpa Konfrontasi
Pendekatan Korea Utara melalui anggrek menunjukkan karakter diplomasi yang berbeda dari praktik konvensional. Tidak ada retorika keras, tidak ada tekanan ekonomi, dan tidak ada negosiasi terbuka yang sarat kepentingan.
Sebaliknya, diplomasi ini berjalan melalui pendekatan yang halus (subtle diplomacy), di mana pesan disampaikan melalui simbol.
Dalam teori hubungan internasional, ini dapat dikategorikan sebagai bentuk soft power sebuah konsep yang menekankan kemampuan memengaruhi pihak lain tanpa paksaan.
Namun, yang menarik, Korea Utara mengadaptasi konsep ini dalam konteks yang sangat terkontrol. Mereka tidak membuka diri sepenuhnya, tetapi cukup untuk menciptakan persepsi positif.
Dari sudut pandang positif, pendekatan ini justru efektif. Dalam kondisi keterbatasan akses diplomatik formal, penggunaan simbol seperti anggrek menjadi alternatif kanal komunikasi. Ia memungkinkan Korea Utara tetap hadir dalam percakapan global, meskipun dalam bentuk yang tidak konvensional.
Warisan yang Masih Hidup
Hingga hari ini, Kimilsungia tetap menjadi bagian dari identitas nasional Korea Utara. Ia dipamerkan, dirayakan, dan dijadikan simbol kebanggaan. Namun, akar sejarahnya tetap mengarah pada satu momen penting yaitu pemberian dari Indonesia.
Ini menunjukkan bahwa diplomasi tidak selalu diukur dari hasil jangka pendek. Ada bentuk diplomasi yang bekerja dalam horizon panjang, membentuk simbol, persepsi, dan bahkan identitas negara lain.
Ketua Perhimpunan Indonesia - Korea Utara, Teguh Santosa dalam peringatan 6 Dekade pemberian Anggrek Kimilsungia di Kebun Raya Bogor mengungkapkan, hubungan Indonesia dan Korea Utara memang mengalami dinamika, namun fondasi yang dibangun melalui diplomasi simbolik tersebut tetap kokoh.
Relasi ini terus dijaga melalui prinsip kesetaraan, saling menguntungkan, serta komitmen bersama untuk menciptakan perdamaian kawasan. Dalam konteks ini, diplomasi anggrek tidak berhenti sebagai warisan sejarah, tetapi berkembang menjadi referensi nilai dalam membangun komunikasi bilateral yang berkelanjutan.
Sederhana Tapi Efektif




KOMENTAR ANDA