Sebagian besar negara, termasuk negara berkembang seperti Indonesia, lebih sering menghadapi ancaman non-tradisional yang pada umumnya bersifat transnasional.
Oleh: Hendra Manurung1 dan Luis David2
KONSEP BELA NEGARA selama ini lebih banyak dipahami dalam kerangka militeristik dan territorial, dengan memanggul senjata, berperang melawan agresi negara asing, atau mempertahankan setiap jengkal tanah air dari invasi fisik.
Namun, lanskap hubungan internasional modern telah mengubah secara fundamental makna ancaman dan pertahanan. Perang hibrida, intervensi kemanusiaan, sanksi ekonomi, perang siber, serta disinformasi global menjadi medan pertempuran baru yang tidak selalu melibatkan tentara dalam seragam.
Pertanyaannya kemudian: apakah bela negara dalam pengertian klasik masih relevan? Ataukah ia harus diredefinisi sebagai serangkaian tindakan diplomatik, ekonomi, dan kultural yang dilakukan oleh seluruh warga negara, bukan hanya aparat keamanan?
Tulisan ini akan mengupas ulang konsep Bela Negara dari sudut pandang Hubungan Internasional modern, dengan menekankan bahwa di era saling ketergantungan dan persaingan global sistemik, mempertahankan negara sama artinya dengan komitmen mempertahankan posisi tawar, ketahanan nasional, dan integritas sistem politik dari berbagai bentuk intervensi asing yang tidak konvensional.
Melampaui Invasi Fisik
Dalam tatanan internasional pasca-Perang Dingin, invasi militer skala besar seperti yang terjadi di Gaza, Ukraina atau Iran justru menjadi pengecualian, bukan norma. Sebagian besar negara, termasuk negara berkembang seperti Indonesia, lebih sering menghadapi ancaman non-tradisional yang pada umumnya bersifat transnasional. Ancaman-ancaman ini tidak datang dari tentara musuh yang melintasi batas, melainkan dari jaringan global yang sulit diidentifikasi.
Pertama, ancaman di ranah siber. Serangan siber dapat melumpuhkan sistem perbankan nasional, mengganggu distribusi listrik, mencuri data intelijen pertahanan, hingga memanipulasi hasil pemilu. Dalam konteks bela negara, kemampuan setiap warga negara untuk menjaga keamanan digitalnya sendiri, tidak menjadi korban penipuan daring, dan tidak menyebarkan informasi yang dapat dimanfaatkan musuh adalah bentuk pertahanan tingkat tapak yang sangat strategis.
Kedua, ancaman ekonomi. Di dunia yang terglobalisasi, sanksi ekonomi yang dijatuhkan oleh negara adidaya atau lembaga keuangan internasional dapat menghancurkan perekonomian suatu negara tanpa satu pun peluru ditembakkan. Bela negara dalam konteks ini berarti kemampuan nasional untuk membangun ketahanan ekonomi: mengurangi ketergantungan pada komoditas dan teknologi asing yang rentan dipolitisasi, mengembangkan industri substitusi impor, serta melindungi mata uang nasional dari spekulasi global.
Ketiga, ancaman informasi dan narasi. Peperangan generasi keempat (4GW) tidak lagi bertujuan merebut wilayah, melainkan merebut pikiran dan legitimasi. Peperangan generasi keempat (4GW) adalah evolusi konflik kontemporer yang kabur batasnya antara perang dan politik, kombatan dan warga sipil, di mana aktor non-negara (teroris, kelompok separatis) menggunakan taktik peperangan asimetris, propaganda, dan serangan siber untuk mengancam mental dan keinginan bertempur musuh.
Hal ini adalah pertempuran non-linier yang memanfaatkan seluruh sumber daya jejaring ekonomi, sosial, ideologi. Melalui media sosial, bot, dan jaringan aktor politik, negara asing dapat menyebarkan narasi yang memecah belah masyarakat, merusak kepercayaan terhadap pemerintah, dan mengubah opini publik internasional.
Dalam situasi ini, bela negara berarti kemampuan warga negara untuk berpikir kritis, tidak mudah terprovokasi oleh hoaks, serta mempertahankan kohesi sosial di tengah upaya divide et impera dari luar.
Bela Negara sebagai Diplomasi Warga Negara
Salah satu perubahan paradigma paling penting dalam hubungan internasional modern adalah bahwa diplomasi tidak lagi menjadi monopoli diplomat profesional. Setiap warga negara, terutama generasi muda yang aktif di ruang digital, adalah duta informal bagi negaranya di mata dunia. Apa yang mereka unggah, komentari, dan bagikan membentuk citra internasional suatu bangsa.
Dalam perspektif bela negara modern, seorang mahasiswa yang mengikuti pertukaran pelajar ke luar negeri, lalu mampu menjelaskan secara santun dan berbasis data tentang kebijakan negaranya di tengah tuduhan internasional, telah melakukan tindakan bela negara. Seorang pekerja migran yang menunjukkan etos kerja baik, taat hukum di negara tempatnya bekerja, dan tidak terlibat kriminalitas lintas batas, juga sedang mempertahankan reputasi nasional. Seorang pegiat media sosial yang memverifikasi informasi sebelum menyebarkannya, serta tidak ikut-ikutan dalam kampanye pembenci yang diinisiasi aktor asing, turut menjaga stabilitas politik dari dalam.
Dengan kata lain, bela negara dalam hubungan internasional modern adalah kesadaran kolektif bahwa reputasi, kredibilitas, dan solidaritas internal suatu bangsa adalah aset pertahanan yang tak kalah penting dari jet tempur atau kapal selam.
Multilateralisme dan Belanegara di Forum Global
Pada level kebijakan luar negeri, bela negara juga berarti kemampuan negara untuk secara aktif membentuk aturan main global, bukan hanya menjadi objek dari aturan yang dibuat oleh negara lain.
Dalam sejumlah forum multilateral seperti Perserikatan Bangsa Bangsa, Organisasi Perdagangan Dunia, atau G20, negara yang tidak hadir atau tidak bersuara akan kehilangan pengaruh. Sebaliknya, negara yang mampu mengartikulasikan kepentingan nasionalnya dalam bahasa kepentingan bersama akan memiliki daya tawar tinggi.
Dalam konteks ini, peran diplomasi dan diseminasi informasi pejabat publik yang memperjuangkan kepentingan nasional di meja perundingan global adalah garis depan bela negara. Namun yang lebih penting lagi, keberhasilan diplomasi multilateral sangat bergantung pada kualitas riset, data, dan dukungan domestik.
Artinya, para akademisi, peneliti, dan jurnalis yang menghasilkan analisis kebijakan yang jujur dan berbasis fakta, serta masyarakat sipil yang mengkritisi kebijakan pemerintah secara konstruktif, juga merupakan bagian dari mekanisme bela negara. Karena tanpa umpan balik domestik yang sehat, diplomasi akan berjalan buta.
Bela Negara Tanpa Musuh yang Jelas
Salah satu tantangan terbesar dalam merumuskan bela negara modern adalah bahwa ancaman seringkali tidak memiliki wajah. Tidak seperti invasi konvensional di mana musuh jelas berkibar bendera asing, ancaman modern datang melalui kabel serat optik, rekening bank bayangan, atau akun media sosial anonim. Akibatnya, mobilisasi bela negara secara tradisional dengan mengusung semangat patriotisme melawan musuh eksplisit menjadi sulit.




KOMENTAR ANDA