post image
Ilustrasi AI
KOMENTAR

Solusinya adalah mengubah narasi bela negara dari pertahanan melawan musuh (defense against enemy) menjadi ketahanan terhadap kerentanan (resilience against vulnerability). Bela negara bukanlah menebarkan kebencian terhadap negara tertentu, melainkan tentang upaya membangun kecintaan terhadap ketahanan sistem pertahanan nasional. Ini adalah pendekatan yang lebih dewasa dan sesuai dengan etika Hubungan Internasional modern yang menjunjung tinggi nilai-nilai perdamaian dan hukum internasional.

Dalam kerangka ini, setiap warga negara diajak untuk terus memperkuat sektor-sektor kritis, seperti: memajukan pertanian lokal agar tidak mudah di-blackmail oleh kebijakan ekspor pangan negara lain; memperkuat energi terbarukan agar tidak disandera oleh fluktuasi harga minyak global; memberdayakan pendidikan karakter agar generasi muda tidak kehilangan jati diri di tengah arus budaya asing yang tidak tersaring. Semua ini adalah tindakan bela negara.

Dari uraian di atas, jelas bahwa bela negara dalam perspektif hubungan internasional modern tidak sekedar direduksi menjadi sekadar pelatihan militer (military training) atau wawasan kebangsaan semata. Bela Negara adalah proyek kolektif lintas sektor dan lintas generasi. Beberapa rekomendasi praktis yang dapat diambil oleh pemerintah dan masyarakat antara lain:

Pertama, mengintegrasikan literasi digital dan keamanan siber ke dalam kurikulum pendidikan kewarganegaraan, sehingga setiap anak muda memahami bahwa melindungi data pribadi dan tidak menyebarkan disinformasi adalah bentuk pertahanan nasional.

Kedua, mendorong program pertukaran pelajar dan duta budaya yang tidak hanya bertujuan promosi pariwisata, tetapi juga pembangunan narasi tandingan terhadap stigma internasional yang merugikan. Bekali peserta dengan kemampuan diplomasi publik.

Ketiga, menciptakan mekanisme peringatan dini nasional untuk ancaman ekonomi dan informasi yang melibatkan partisipasi warga, misalnya pelaporan akun provokatif atau transaksi mencurigakan yang berpotensi terkait dengan pencucian uang lintas batas.

Keempat, merubah perayaan Hari Bela Negara dari sekedar aktivitas seremoni menjadi gerakan nasional (National Movement) yang diisi dengan berbagai kegiatan produktif seperti aktivitas penanaman pohon, perbaikan sistem keamanan siber desa, atau kampanye belanja produk lokal.

Dengan cara-cara seperti ini, bela negara tidak lagi menjadi slogan semata, tetapi menjadi etos hidup sehari-hari yang relevan dengan tantangan abad ke-21. Di tengah dunia yang semakin terhubung namun juga semakin rapuh, negara yang paling aman bukanlah yang memiliki senjata paling banyak, melainkan yang memiliki warga paling sadar bahwa setiap tindakan mereka, sekecil apa pun, adalah bagian dari pertahanan terhadap ketidakpastian global.

Penulis:

  1. Hendra Manurung, Dosen Tetap Magister Diplomasi Pertahanan Fakultas Strategi Pertahanan Universitas Pertahanan Republik Indonesia (UNHAN RI)
  2. Luis David, Staf Prodi Magister Diplomasi Pertahanan Fakultas Strategi Pertahanan Universitas Pertahanan Republik Indonesia (UNHAN RI)
     

Trump Perpanjang Gencatan Senjata, Ini Lima Artinya

Sebelumnya

Iran Pastikan Tidak Penuhi Undangan AS untuk Negosiasi

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Dunia