post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Indonesia dan Presiden Prabowo harus memastikan Jakarta tidak menjadi papan catur, melainkan menjadi penengah yang menjaga ruang damai di tengah persaingan adikuasa.

Oleh: Dr. Teguh Santosa, Direktur Geopolitik GREAT Institute

SETELAH sembilan tahun, Donald Trump kembali ke Beijing, bertemu Xi Jinping yang diakuinya sebagai pemimpin hebat. Penyambutan resmi di Great Hall of the People dilakukan dengan kemegahan penuh, mulai dari barisan garda kehormatan hingga dentuman meriam sebanyak 21 kali di Lapangan Tiananmen.

Di balik kemeriahan tersebut, pembicaraan intensif berlangsung selama lebih dari dua jam. Xi mengajak agar kedua negara menjadi mitra dan bukan musuh, sementara Trump memuji kepemimpinan Xi dan menekankan komunikasi telepon rutin yang mereka lakukan untuk menyelesaikan masalah.

Dalam jamuan makan malam kenegaraan, Xi mengungkapkan visinya bahwa ambisi “peremajaan bangsa China” dan misi “Make America Great Again” dapat berjalan beriringan tanpa harus saling menjatuhkan. Sebagai bentuk niat baik, Trump mengucapkan terima kasih atas sambutan yang luar biasa dan secara resmi mengundang Xi Jinping untuk membalas kunjungan ke Gedung Putih pada 24 September mendatang.

Namun, ketegangan tetap terasa saat Xi membahas risiko “Perangkap Thucydides” atau Thucydides Trap, suatu istilah yang digunakan Graham Allison dalam “Destined for War: Can America and China Escape Thucydides’s Trap?” yang ditulisnya tahun 2017.

Istilah ini merujuk pada ketakutan bahwa kekuatan yang sedang bangkit, dalam hal ini China, akan selalu berbenturan dengan kekuatan mapan, dalam hal ini Amerika Serikat. Seperti halnya Athena yang menantang Sparta di masa Yunani kuno, pada abad ke-5 SM. Xi mendesak agar kedua negara menciptakan paradigma baru guna menghindari konfrontasi yang tampaknya “tak terhindarkan” dalam teori tersebut.

Di dalam buku itu, Allison mengingatkan bahwa ketika kekuatan yang naik mengancam menggusur kekuatan dominan, tekanan struktural mendorong kedua pihak menuju konflik. 

Selain Taiwan, agenda utama dalam pertemuan Trump dan XI mencakup isu perdagangan, teknologi, krisis di Ukraina, akal imitasi, dan Semenanjung Korea. Salah satu poin kesepakatan penting yang dicapai adalah komitmen bersama untuk menjaga Selat Hormuz tetap terbuka. Waterway vital tersebut telah terblokir sejak perang AS-Israel melawan Iran pecah pada Februari lalu, yang berdampak besar pada pasokan energi global.

Bagi China, pertemuan ini adalah panggung untuk menegaskan diri sebagai penyeimbang. Sejak perang Iran pecah, Beijing aktif melakukan diplomasi antar pihak: lebih dari 30 panggilan telepon Wang Yi dengan Iran, Israel, Rusia, dan negara Teluk. China bahkan mendorong Iran menerima gencatan senjata dua minggu melalui saluran Pakistan.

Pertemuan Beijing adalah ujian nyata apakah kedua pemimpin bisa menghindari Perangkap Thucydides.

Allison mengatakan bahwa perang bukan takdir, tetapi peluangnya untuk terjadi cukup tinggi bila tidak ada manajemen strategis. Pertemuan ini mencoba menciptakan ruang manuver: Trump mendorong pembelian produk pertanian dan pesawat AS, sementara China meminta pelonggaran pembatasan teknologi dan retorika Taiwan.

Di sinilah peran Timur Tengah menjadi krusial. Perang Iran telah mengubah kalkulasi strategis kedua negara. Bagi Washington, Iran adalah masalah keamanan langsung dan simbol kegagalan “maximum pressure” yang kembali dijalankan Trump. Sementara bagi Beijing, Iran adalah sumber energi dan simpul penting Belt and Road Initiative.

John Mearsheimer dalam “The Tragedy of Great Power Politics” menjelaskan logika realisme struktural: “The world is condemned to perpetual great-power competition”. Tesisnya ini melawan tesis Immanuel Kant yang percaya pada idealisme “perpetual peace”. Dalam sistem anarki internasional, negara besar tidak bisa hanya bergantung pada niat baik. Mereka harus memaksimalkan kekuasaan untuk bertahan.

Dari kacamata Mearsheimer, China tidak bisa naik dengan damai. Ketika kekuatan China tumbuh, AS akan bereaksi dengan kecemasan struktural. Perang Iran justru memberi kedua pihak alasan baru untuk saling menguji batas. Trump meminta Xi menekan Iran membuka Hormuz. Xi menolak bertindak sebagai subkontraktor kebijakan AS.

Arti Penting Kartu Iran

Pertemuan Beijing menghasilkan gencatan senjata parsial dan komitmen membentuk “Board of Trade” untuk mengelola perdagangan nonsensitif senilai puluhan miliar dolar. Namun pada isu Iran, hasilnya ambigu. China setuju membantu stabilitas regional, tetapi tidak akan mengorbankan kemitraan strategis 25 tahun dengan Teheran.

Di sinilah peran Iran sebagai kartu geopolitik China menjadi jelas. Beijing tidak mengirim senjata langsung ke Iran, menurut catatan intelijen AS, China telah mempersiapkan pengiriman senjata ke Iran pada April 2026. Belum lagi, Iran mengakses BeiDou, sistem navigasi satelit China, yang meningkatkan akurasi rudal Iran terhadap pangkalan AS-Israel.

Iran juga menjadi jalur darat alternatif bagi China ketika Hormuz diblokade. Koridor kargo darat Iran-Pakistan-China dibangun untuk menjaga kontinuitas perdagangan dan mengurangi ketergantungan pada Selat Malaka. Pelabuhan Gwadar dan China Pakistan Economic Corridor (CPEC) menjadi taruhan strategis yang tidak boleh goyah.

Dengan kata lain, Iran bukan sekadar mitra dagang. Ia adalah jantung China untuk menahan tekanan AS di dua front: energi dan logistik Eurasia. Jika Iran runtuh, proyek CPEC dan poros barat BRI akan lumpuh.

Trump tampaknya memahami ini. Dalam surat yang dikirimnya bulan April lalu kepada Xi, ia meminta China tidak memasok senjata ke Iran. Xi membalas dengan surat yang menegaskan Beijing tidak melakukan itu. Tapi secara diplomatik, China justru memperkuat posisi Iran di BRICS dan SCO untuk menahan isolasi Barat.

Pertemuan Beijing juga membahas Taiwan. China meminta AS mengubah bahasa resmi soal Taiwan sebagai prasyarat meredakan ketegangan perdagangan. Trump menyebut ia akan membahas penjualan senjata ke Taiwan. Ini menunjukkan bahwa isu Iran dan Taiwan saling terkait sebagai mata uang dalam proses tawar-menawar ini.

Optimisme Naif

Di dalam bukunya, Allison menyebut bahwa menghindari Thucydides Trap butuh tiga hal: pengakuan atas ketakutan pihak lain, batasan ambisi, dan penciptaan ruang ekonomi bersama. Board of Trade yang dibahas di Beijing adalah upaya ke arah itu. Tapi tanpa penyelesaian konflik di Timur Tengah, ruang itu rapuh.


Xi Jinping Beri Peringatan Keras Terkait Isu Taiwan

Sebelumnya

Timur Tengah Masih Membara: Ambisi “Board of Peace” AS Persulit Kemerdekaan Palestina

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Dunia