post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Sementara dari perspektif Mearsheimer, hal ini akan disebut sebagai optimisme naif. Dalam sistem anarki, setiap konsesi ekonomi tidak mengubah distribusi kekuasaan. China tetap akan mengejar hegemoni regional, AS tetap akan menahannya. Kesimpulannya: perang Iran hanya mempercepat proses itu.

Bagaimanapun juga realitas 2026 lebih kompleks dari model 2001. China tidak ingin perang langsung dengan AS. Fokusnya adalah menjaga stabilitas Teluk untuk melindungi pasokan energi dan jalur dagang. Karena itu Beijing memilih jalur mediasi bersama Pakistan: gencatan senjata, pembukaan Hormuz, dan negosiasi nuklir.

Iran sendiri menggunakan jalur darat Caspian dan Pakistan untuk menghindar dari blokade AS. Ini menunjukkan bahwa perang telah menciptakan multipolaritas ekonomi baru, di mana China, Rusia, dan Turki menjadi penopang logistik Iran.

Bagi Indonesia, dinamika ini adalah peringatan dan peluang. Perang Iran telah menaikkan harga energi dan mengguncang rantai pasok global. Stabilitas ASEAN bergantung pada apakah AS dan China bisa menahan eskalasi di Teluk.

Presiden Prabowo berada pada posisi unik. Indonesia tidak berada dalam blok militer AS maupun China. Indonesia mendorong diplomasi inklusif dan penolakan terhadap blokade yang merugikan negara berkembang.

Posisi yang bisa diambil Indonesia adalah tiga hal. Pertama, memperkuat ASEAN sebagai zona netral yang tidak memihak dalam konflik AS-China. Kedua, menggunakan jalur diplomasi multilateral di PBB dan G20 untuk mendesak pembukaan Hormuz dan perlindungan jalur energi. Ketiga, menjaga jarak dari jebakan “kartu Iran” atau “kartu Pakistan” dengan fokus pada ketahanan ekonomi nasional.

Pertemuan Trump-Xi di Beijing 2026 tidak menyelesaikan dilema Perangkap Thucydides. Untuk sementara dapat dikatakan baru sekadar menundanya.

Pelajaran dari Allison dan Mearsheimer sama: tanpa manajemen struktural yang sadar, kartu itu bisa berubah menjadi pemicu perang yang tidak diinginkan siapa pun. Indonesia dan Presiden Prabowo harus memastikan Jakarta tidak menjadi papan catur, melainkan menjadi penengah yang menjaga ruang damai di tengah persaingan adikuasa.

 


Xi Jinping Beri Peringatan Keras Terkait Isu Taiwan

Sebelumnya

Timur Tengah Masih Membara: Ambisi “Board of Peace” AS Persulit Kemerdekaan Palestina

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Dunia