post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Sebuah Tragikomedi Absurd ala Zaman Now. Kemiripan dengan Menunggu Godot karya Samuel Beckett sama sekali bukan kebetulan sebab memang disengaja.

Oleh: Jaya Suprana, Budayawan dan Pendiri MURI

Adegan 1. (Di pinggir jalan, senja Jakarta. AQI 157)

VLADIMIR: Kita di sini lagi ngapain ya, Estragon?
ESTRAGON: Menunggu. Katanya sebentar lagi ada pengumuman resmi.
VLADIMIR: Pengumuman apa?
ESTRAGON: Pengumuman PPN. Eh, bukan. PPU. Pajak Pemakaian Udara.
VLADIMIR: Oh iya. Pajak Napas.

(Mereka diam. Hanya terdengar suara motor lewat dan batuk seorang bapak)

VLADIMIR: Kalau beneran jadi, kita bayar pakai apa? Saldo GoPay nggak cukup buat napas sebulan.
ESTRAGON: Katanya bisa cicil. 12 kali. Bunga 2,5% per bulan.
VLADIMIR: Jadi napas pun sekarang punya tenor? Hebat. Dulu cuma utang motor yang bikin sesak. Sekarang napasnya juga.

(Mereka tertawa. Tawa yang getir, karena mereka tahu: ini bukan lelucon. Di grup WhatsApp RT sudah rame. “Info A1: uji coba Pajak Oksigen di DKI Q1 2027.” A1 yang sama yang 3 tahun lalu bilang “Besok BBM turun.”)

Adegan 2. (Masuk POZZO dan LUCKY. POZZO bawa dokumen tebal, LUCKY digiring pakai tali)

POZZO: Saya konsultan fiskal! Saya datang membawa pencerahan!
ESTRAGON: Pencerahan apa?
POZZO: Bahwa udara yang kalian hirup selama ini adalah aset negara yang belum termonetisasi.
LUCKY: Berbayar! Berbayar! Berbayar!
VLADIMIR: Kenapa kami yang bayar?
POZZO: Karena user pays principle. Kalian pakai, kalian bayar. Seperti tol. Seperti parkir. Seperti cinta sepihak.

(POZZO membuka dokumen. Di dalamnya ada tabel: Tarif Napas Reguler Rp500/m³, Napas Premium di Mall Rp1200/m³, Napas Malam Hari +20% karena dianggap barang mewah)

ESTRAGON: Kalau saya napas pendek-pendek biar hemat, kena denda nggak?
POZZO: Itu namanya tax avoidance. Nanti diaudit.

(Mereka pergi. Meninggalkan Vladimir dan Estragon dengan oksigen gratis yang sebentar lagi jadi barang kena cukai.)

Adegan 3. (Kembali ke dua orang itu. Malam makin gelap)

VLADIMIR: Dulu kita nunggu Godot. Dia nggak datang-datang.
ESTRAGON: Sekarang kita nunggu Pajak Napas. Dia pasti datang.
VLADIMIR: Ironis ya. Godot nggak ada, tapi kita tetap nunggu. Pajak Napas belum ada, tapi kita sudah ketakutan.
ESTRAGON: Itulah kreativitas fiskal. Membuat yang belum ada terasa nyata.

(Mereka diam lagi. Di kejauhan terdengar pengumuman dari pengeras suara kelurahan: "Warga dihimbau untuk bernapas dengan tertib, hemat, dan sesuai peruntukan. Napas berlebihan akan ditindak.")

VLADIMIR: Gimana cara napas tertib?
ESTRAGON: Mungkin harus daftar dulu di aplikasi. Scan wajah. Bayar. Baru boleh tarik napas dalam-dalam. Mereka saling pandang. Lalu tertawa. Tertawa karena kalau tidak tertawa, mereka akan menangis. Atau sesak napas. Yang bayarnya mahal.

Epilog:
Homo hoaxiensis bilang ini naskah hoax. Homo sapiensis bilang naskah ini absurd. Tapi Homo fiscalis bilang: “Semua bisa jadi objek pajak, asal ada peraturan dan meterannya.”

Kita menertawakan Godot karena dia tak kunjung datang.
Kita menertawakan Pajak Napas karena takut dia beneran datang.
Tapi sampai hari itu tiba, mari kita hirup udara ini dalam-dalam. Gratis. Terakhir kali. Layar turun. Vladimir dan Estragon tetap di tempat. Menunggu.


Para Mahamatematikawan Abad XXI

Sebelumnya

Teori Kepribadian Dan Kecerdasan Eysenck

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Jaya Suprana