Oleh: Jaya Suprana, Budayawan dan Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan
HOLYWOOD bikin film berjudul “Devil Wears Prada” bahkan sampai dua jilid. Namun tampaknya setan zaman sekarang tidak butuh Prada maupun Channel, Dior, Hermes dan sejenisnya.
Coba pikir: setan kerjanya menggoda manusia. Kalau dia nongol bawa tas 80 juta, yang terjadi bukan godaan, tapi interogasi. "Mbak, kerja di mana?". "Ini hasil nabung 3 tahun, mas”. "Oh... jadi godaan hidup hemat ya?”.
Maka judul yang lebih benar mungkin: Devil Does Not Need Prada. He Needs Credit Card.
Tidak ada yang salah dengan menyukai barang bagus. Manusia memang makhluk estetika. Masalahnya muncul ketika tas berhenti jadi benda, dan berubah jadi bahasa. "Lihat tas saya. Artinya: saya berhasil. Saya berkelas. Saya layak diperlakukan berbeda di lift."
Padahal isinya sama: dompet, lipstik, power bank, dan tisu basah untuk menyeka ingus. Tas bermerek jadi stempel sosial. Masalahnya, stempel itu mahal, dan tinta-nya luntur kalau dipakai buat bayar kos.
Perempuan yang menyukai tas bermerek biasanya dibagi dua: Yang beli karena suka desainnya, bahannya, ceritanya. Ini namanya kolektor. Yang beli karena takut nggak dianggap ada di grup arisan. Ini namanya pejuang diplomasi sosial.
Yang lucu, sering kali orang yang paling nggak peduli merek justru yang paling dipercaya. Karena dia ngobrolnya tentang ide, bukan tentang diskon mid-season sale.
Setan tidak akan buang waktu menggoda manusia dengan Prada. Terlalu ribet. Cukup bisikkan: "Kamu belum cukup kalau belum punya Prada." Lalu setan duduk, nonton manusia kerja lembur, utang paylater, demi benda yang tiga bulan lagi turun harganya 40%.
Tas bagus itu seperti makeup: menyenangkan, sah-sah saja, bisa menambah percaya diri. Tapi kalau satu-satunya alasan orang ngobrol denganmu adalah karena tasmu, mungkin yang perlu diperiksa bukan tasnya.
Tapi lingkaran pertemanannya. Perempuan hebat jarang pamer tas. Mereka pamer ide, pamer kerjaan yang selesai, pamer anak yang tumbuh waras di tengah dunia yang berisik. Jadi, buat para perempuan yang suka tas bermerek: silakan. Nikmati. Rawat. Itu uang dan kerja kerasmu.
Tapi jangan lupa, nilai kamu tidak pernah ada di jahitan kulit sapi Italia. Nilai kamu ada di cara kamu memperlakukan orang yang nggak bisa beliin kamu apa-apa. Dan buat setan: tenang saja sebab nggak perlu Prada. Manusia sudah cukup kreatif untuk menggoda dirinya sendiri.
Selesai. Sekarang saya mau cek dompet. Isinya cuma kartu ATM dan struk beli sate kambing. Tapi hati tenang. Itu juga merek mahal, yaitu: CUKUP.




KOMENTAR ANDA