post image
Terdakwa kasus dugaan korupsi pengadaan Chromebook dan Chrome Device Management (CDM) dalam program digitalisasi pendidikan di Kemendikbudristek Nadiem Makarim (kanan) memeluk istrinya Franka Franklin Makarim (kiri) seusai mengikuti sidang tuntutan di Pen
KOMENTAR

Oleh: Jaya Suprana, Budayawan dan Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan

BERITA tentang Nadiem Makarim membuat saya prihatin. Bukan karena saya mengenalnya secara pribadi, tapi karena setiap saat saya sendiri bisa terkena musibah yang sama. Juga karena saya melihat seorang manusia yang dulu dipanggil untuk membantu, kini sedang melewati masa yang paling berat dalam hidupnya.

Bayangkan duduk di kursi yang dulu penuh harapan, lalu tiba-tiba ruang itu menjadi dingin. Semua kerja, semua niat, semua malam tanpa tidur untuk program yang ingin menjangkau anak di pelosok, seolah dipertanyakan dalam satu tarikan napas. Itu bukan hanya persoalan hukum. Itu musibah.

Saya menulis ini bukan untuk melawan proses hukum. Para penegak hukum sedang menjalankan tugas berat menjaga uang negara. Saya hormat pada kerja itu. Tapi sebagai warga awam, saya juga percaya bahwa tidak semua yang tampak salah di atas kertas adalah kejahatan.

Keyakinan saya sederhana: Nadiem tidak korupsi.

Yang mungkin terjadi adalah kekeliruan akuntantif, kesalahan tata buku di bagian keuangan Kemendikbud. Di kementerian sebesar itu, uang bergerak melewati puluhan meja. Satu kode anggaran salah ketik, satu laporan telat masuk, dan seluruhnya bisa terlihat berantakan. Di dunia audit, ini disebut temuan yang perlu diperbaiki. Bukan dosa yang harus dihukum seperti pencuri.

Korupsi itu ada niat jahat. Kalau yang ada hanya kelalaian administrasi, maka tempat menyelesaikannya adalah perbaikan sistem, bukan jeruji besi.

Musibah ini terasa lebih berat karena Nadiem datang dengan tangan kosong, tanpa jaringan lama. Ia datang dari luar, membawa cara kerja cepat, lalu terjun ke birokrasi yang lambat dan rumit. Gesekan itu wajar. Tapi jangan sampai gesekan itu membuat seseorang harus membayar dengan nama baiknya.

Saya berharap penegak hukum diberi ruang untuk memeriksa semuanya dengan tenang. Lihat aliran uang, periksa orang-orang di bagian akuntansi, tanyakan niatnya. Kalau ternyata tidak ada uang yang mengalir ke kantong pribadi, maka berilah keadilan secepatnya.

Yang dipertaruhkan bukan hanya nasib satu orang namun adalah kepercayaan orang-orang baik di luar sana untuk mau masuk ke pemerintahan. Kalau setiap kekeliruan administrasi langsung disebut korupsi, siapa lagi yang berani datang?

Karena itu saya berharap Nadiem Makarim bisa dibebaskan. Bukan karena ia kebal hukum, tapi karena setelah semua diperiksa, ternyata tidak ada kejahatan yang dilakukan. Kalau ada kesalahan teknis, selesaikan dengan audit dan koreksi. Manusia boleh salah, tapi jangan biarkan kesalahan itu menghancurkan hidupnya. Hukum harus tegak. Tapi hukum juga harus punya hati.

Semoga proses ini segera terang. Dan semoga kita, sebagai publik, bisa menunggu dengan kepala dingin dan hati yang tidak cepat menghakimi. Karena di balik nama besar itu, ada seorang ayah, seorang anak, seorang manusia yang sedang menanggung beban yang mungkin tidak pantas ia pikul sendirian.


Filsafat Sastra Dan Sastra Filsafat

Sebelumnya

Setan Tidak Butuh Prada

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Jaya Suprana