post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Oleh: Jaya Suprana, Budayawan dan Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan

MOHON dimaafkan oleh para ilmuwan filsafat dan sastrawan, saya yang awam filsafat dan sastra nekad memaksakan diri menelaah Filsafat Sastra dan Sastra Filsafat.

Menurut KBBI, filsafat adalah pengetahuan dan penelaahan dengan akal budi mengenai makna segala yang ada maupun tidak ada, sebab, asal, dan hukumnya. Definisi ini menekankan penggunaan rasio (akal budi) secara mendalam untuk memahami dasar dari segala sesuatu.

Sementara sastra menurut KBBI adalah bahasa (kata-kata, gaya bahasa) yang digunakan bukan sebagai bahasa sehari-hari. Sastra juga diartikan sebagai karya tulis yang memiliki keunggulan seperti keaslian, keartistikan, dan keindahan isi serta ungkapannya, yang sering disebut sebagai kesusastraan.

Pada hakikatnya, filsafat dan sastra lahir dari rahim yang sama yakni kegelisahan manusia di hadapan hidup. Bedanya hanya pada cara menjawab.

Filsafat sastra berdiri di luar karya. Ia bertanya : apa yang disembunyikan karya sastra ini? Ia membedah novel untuk mencari ideologinya, memeriksa puisi untuk melacak bias zamannya, menguji sosok tokoh untuk menakar keberadaan maupun ketidak-beradaan.

Di sini filsafat jadi pisau bedah. Ia tak puas dengan keindahan, ia menuntut ketulusan. Ia berani berkata bahwa cinta dalam sajak mungkin hanya kesepian yang memakai parfum atau bahkan deodoran. Tugas filsafat justru mencegah sastra terlelap dalam estetikanya sendiri. Filsafat sastra adalah alarm yang berbunyi tiap kali keindahan dipakai meninabobokan nalar.

Sastra filsafat menempuh jalan sebaliknya. Ia tak menjelaskan dunia, ia menghadirkannya. Filsafat berkata “manusia terlempar ke dunia”. Sastra filsafat memperlihatkan Meursault yang menembak di pantai silau dalam L’Étranger. Tanpa argumen, hanya panas, keringat, dan keputusan absurd yang tiba-tiba masuk akal. Di sini kebenaran tidak dibuktikan, tetapi dirasakan.

Satu adegan ibu menyuapi anak yang sekarat lebih kuat dari 300 halaman etika kepedulian. Karena itu Platon menulis dialog, Nietzsche menulis aforisme, Kant menulis trilogi kritik, Romo Magnis menulis “Etika Jawa”, Pramoedya menulis dari dalam penjara, Riantiarno menggagas “Opera Kecoak”, laskar Pancho Villa berpadu-suara “La Cucaracha”. Para beliau sadar bahwa ada hal yang hanya dapat dipahami setelah kita meratapinya.

Filsafat sastra = berpikir tentang sastra. Sastra filsafat = berpikir lewat sastra. Yang satu menjaga jarak demi objektif. Yang satu menceburkan diri demi otentik. Yang satu takut air mata mengaburkan analisis. Yang satu takut analisis mengeringkan air mata.
Namun keduanya saling butuh.

Filsafat tanpa sastra jadi kerangka tanpa daging: hafal definisi cinta, tapi tak pernah gemetar menyebut nama. Sastra tanpa filsafat jadi daging tanpa tulang: indah, tapi ambyar ketika ditanya “indahmu untuk siapa?” Bhagavad Gita adalah filsafat yang menyamar sebagai dialog tentang perang.

Divina Commedia adalah teologi yang menyamar sebagai suatu perjalanan. Keduanya merupakan bukti bahwa pikiran paling dalam dan paling luas membutuhkan narasi agar pesan sampai ke lubuk sanubari manusia. 

Filsafat sastra membawa Google-Map dan kompas agar manusia tidak tersesat. Sastra filsafat membawa obor dan kotak PPK agar manusia berani terus berjalan meski tersesat. Kita butuh keduanya.

Sebab untuk memahami hidup, manusia perlu membedahnya seperti ilmuwan. Tapi untuk sanggup menjalani hidup, manusia perlu menari-narikannya seperti penyair: sarat beban kemelut deru campur debu berpercik keringat, air mata dan darah, namun tetap gagah perkasa menghentak bumi sambil menjunjung langit.

Berbekal keyakinan bahwa kemanusiaan adalah mahkota peradaban.

 


Setan Tidak Butuh Prada

Sebelumnya

Mengharap Nadiem Dibebaskan

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Jaya Suprana