post image
Presiden AS Donald Trump dan Menlu AS Marco Rubio
KOMENTAR

Media Spanyol di Madrid, Diario Red atau Jurnal Merah, menyoroti sepak terjang Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, di balik berbagai kebijakan luar negeri AS di era Donald Trump kedua. 

Dalam editorial Jurnal Merah, Kamis, 4 Juni 2026, Marco Rubio disebut sebagai sosok sentral kebijakan intervensionisme di Amerika Latin. Sepanjang karier politiknya, ia dikenal sebagai arsitek utama di balik berbagai kampanye tekanan, sanksi, dan strategi ideologis yang dirancang untuk mendisiplinkan negara-negara yang menolak mengikuti agenda Washington.

Karier politik Rubio sering kali mendapat kritik tajam terkait sikap oportunisnya. Setelah sebelumnya menjadi penentang keras Donald Trump, perubahan haluan Rubio menjadi sekutu terdekat sang presiden dianggap sebagai bukti nyata kemampuannya dalam menyesuaikan prinsip demi kelangsungan karier. Bagi para kritikus, Rubio dipandang tidak memiliki pendirian tetap, melainkan menyesuaikan ideologinya dengan siapa pun yang berkuasa di Gedung Putih.

Lahir di Miami pada tahun 1971 dari keluarga imigran Kuba sebelum Revolusi 1959, Rubio membangun narasi politik yang sangat bergantung pada sentimen anti-komunisme. Ia dikenal mahir menggunakan kisah latar belakang keluarganya untuk memikat basis pemilih di Florida. Sejak muda, Rubio telah memahami bahwa politik identitas dan narasi viktimisasi adalah alat yang sangat efektif untuk memuluskan langkahnya dalam meniti tangga kekuasaan di Amerika Serikat.

Perjalanan Rubio menuju posisi puncak dimulai saat ia aktif di Komisi Intelijen Senat. Di sana, ia memposisikan dirinya secara strategis sebagai "ahli kebijakan luar negeri Amerika Latin". Fokus utamanya kala itu adalah Venezuela dan obsesi pribadinya terhadap Kuba. Perannya sangat terlihat ketika ia menjadi salah satu pendukung utama upaya kudeta yang gagal di Venezuela pada tahun 2019, bahkan hingga turun langsung ke perbatasan untuk melakukan koordinasi.

Sejak dilantik sebagai Menteri Luar Negeri pada November 2024, Rubio meluncurkan serangkaian kebijakan agresif untuk menghambat kedaulatan negara-negara Amerika Latin. Salah satu langkah paling kontroversial adalah upayanya memasukkan kembali Kuba ke dalam daftar "negara pendukung terorisme". Kebijakan ini dinilai cacat secara hukum namun memiliki dampak destruktif nyata terhadap ekonomi Kuba karena memicu ketakutan bagi investor dan lembaga keuangan global.

Dampak kebijakan Rubio tidak berhenti pada level negara, melainkan menyasar sektor ekonomi dan sosial. Ia mendorong undang-undang yang menghalangi akses pinjaman multilateral, mempromosikan pembatasan digital, serta membuat daftar hitam bagi akademisi dan jurnalis yang dianggap mendukung kedaulatan nasional. Strateginya mencakup penyebaran narasi yang menempatkan model neoliberal sebagai satu-satunya "tatanan alami" bagi kemajuan kawasan.

Posisi agresif yang diambil Rubio telah memicu kecaman keras dari para pemimpin regional. Presiden Brasil, Lula da Silva, secara terbuka melabeli menteri luar negeri AS tersebut sebagai sosok yang anti-Amerika Latin. Menurut Lula, kebijakan-kebijakan yang dijalankan Rubio menjadikannya ancaman nyata bagi kedaulatan dan stabilitas di banyak negara kawasan, yang berujung pada penderitaan rakyat sipil.

Ketegangan semakin memuncak ketika Rubio mulai membawa isu keamanan ke level yang lebih ekstrem. Dalam kesaksiannya di Senat, ia menempatkan kartel Meksiko sebagai ancaman keamanan nasional AS dan memberikan sinyal kemungkinan penggunaan drone. Bahkan, ia sempat membenarkan tindakan militer terhadap kapal-kapal sipil di perairan internasional, sebuah kebijakan yang dilaporkan telah mengakibatkan 200 korban jiwa tanpa adanya bukti yang kuat.

Perlu dipahami bahwa tindakan Rubio bukanlah upaya tunggal, melainkan bagian dari jaringan kekuasaan yang lebih luas. Ia didukung oleh ekosistem yang melibatkan lembaga intelijen, think tank, perusahaan lobi, dan konglomerasi media. Kolaborasi ini bekerja secara sistematis untuk menghubungkan setiap gerakan atau pemerintahan yang berupaya mandiri dengan stigma kriminalitas, kemiskinan, dan ancaman global.

Sebagai kesimpulan, Marco Rubio kini dipandang sebagai simbol dari doktrin intervensionisme modern yang memandang Amerika Latin sebagai wilayah yang harus dikontrol. Dengan menggunakan ketakutan sebagai instrumen utamanya, Rubio berupaya memastikan bahwa tidak ada ruang bagi negara-negara di kawasan tersebut untuk menentukan nasibnya sendiri tanpa persetujuan mutlak dari kepentingan strategis Amerika Serikat.


Satu Orang Tewas Akibat Serangan Drone di Bandara Internasional Kuwait

Sebelumnya

Menlu Singapura di Pyongyang Ajak Dialog Konstruktif di Tengah Ketegangan Semenanjung Korea

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Dunia