post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Kota Bukan Seuah Etalase

Jakarta sudah memiliki banyak proyek yang lahir dari keinginan untuk tampil modern. Gedung tinggi, jalan layang, pusat belanja, apartemen, dan kawasan komersial terus tumbuh. Namun modernitas kota tidak diukur dari banyaknya beton dan kaca.

Modernitas sejati terlihat dari kualitas perencanaan, keselamatan warga, kejujuran tata kelola, dan keberanian menolak proyek yang tidak mendesak.  Kota bukan sekadar etalase. Kota adalah tempat hidup jutaan manusia. Setiap proyek publik di ruang strategis harus menjawab kebutuhan warga, bukan hanya kebutuhan investor atau ambisi pencitraan.

Air Mancur Selamat Datang bukan sekadar titik lalu lintas. Ia adalah ruang simbolik. Di sana ada memori sejarah, identitas kota, dan wajah Jakarta di mata publik. Karena itu, setiap intervensi di kawasan tersebut harus dilakukan dengan sangat hati-hati.

Membangun di bawah tanah memang bukan mustahil. Banyak negara telah melakukannya. Tetapi negara yang berhasil biasanya memiliki disiplin perencanaan kuat, tata kelola ketat, standar keselamatan tinggi, dan budaya pemeliharaan konsisten. Pertanyaannya: apakah kita sudah berada pada tingkat kedisiplinan seperti itu?  Jangan sampai kita pandai membangun, tetapi lemah merawat. Jangan sampai kita hebat meresmikan, tetapi gagap mengoperasikan. Jangan sampai kita berani menggali, tetapi tidak siap menghadapi akibatnya.

Jangan Terburu-buru

Kita tidak boleh anti-pembangunan. Tetapi kita juga tidak boleh mabuk proyek. Sikap kritis terhadap pembangunan bukanlah sikap menolak kemajuan. Justru kritik diperlukan agar pembangunan tidak berubah menjadi beban.

 Sebelum mal bawah tanah di Bundaran HI bergerak lebih jauh, pemerintah perlu menjawab secara terbuka tentang apa urgensinya, apa manfaat publiknya, apa risikonya, siapa yang menanggung biayanya, siapa yang mengelolanya, bagaimana skenario keselamatannya, dan bagaimana pertanggungjawabannya bila terjadi kegagalan?  

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak boleh dianggap sebagai gangguan. Itulah inti demokrasi perencanaan. Pembangunan yang menggunakan ruang publik, memengaruhi keselamatan publik, dan menyentuh simbol kota harus tunduk pada akal sehat publik.  Indonesia berada di atas Ring of Fire. 

Jakarta berdiri di atas tanah yang tidak sederhana. Bundaran HI adalah wajah kota yang tidak boleh diperlakukan sembarangan.  Maka sebelum terlalu bersemangat membangun mal di bawah Air Mancur Selamat Datang, sebaiknya kita berhenti sejenak dan bertanya: apakah ini benar-benar kebutuhan kota, atau hanya ambisi baru yang sedang mencari pembenaran?

Sebab ketika tanah berguncang, ketika air masuk, ketika sistem gagal, dan ketika kepanikan terjadi, yang diuji bukan lagi keindahan desain. Yang diuji adalah kualitas perencanaan.  Pembangunan yang bijak bukanlah pembangunan yang paling cepat dimulai, melainkan yang paling matang dipikirkan. Jangan bangun di atas mimpi semata. Bangunlah di atas perhitungan, disiplin, dan akal sehat.

 


Prabowo Sudah Benar MBG Dihentikan Sementara Karena Memang Perlu Dievaluasi Menyeluruh

Sebelumnya

Stop Bunuh Karakter Kampus!

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Nasional