post image
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka bersama BEM FH UBK
KOMENTAR

Mereka sebenarnya hanya mempraktikkan apa yang selama ini sering dianjurkan oleh aktivis-aktivis pro-demokrasi dalam setiap perhelatan Pemilu. 

Oleh: Ristiyanto, Ketua Dewan Pertimbangan Gerakan Pemuda Marhaen dan mantan Wakil Rektor UBK

TERKAIT penyikapan terhadap oknum BEM UBK, jagat maya saat ini sedang menjadi sangat hingar-bingar oleh kecaman netizen yang dialamatkan kepada adik-adik aktivis mahasiswa tersebut. 

Namun, menurut saya, penilaian terhadap peristiwa ini hendaknya tetap terukur dan tidak berlebihan. Dalam hal ini, sudut pandang saya mungkin agak unik dan tergolong minoritas. 

Apa yang dilakukan oleh BEM UBK sebenarnya merupakan cerminan akurat dari kondisi masyarakat Indonesia yang sedang sakit akibat virus liberal-kapitalisme di bidang politik dan ekonomi, terutama sejak diamandemennya UUD 1945. 

Kita harus jujur bahwa dalam setiap pesta demokrasi, baik Pileg maupun Pilpres, praktik politik uang seolah-olah bukan lagi hal yang diharamkan. Secara berseloroh, bisa disimpulkan bahwa BEM UBK justru berhasil menyerap kebiasaan buruk masyarakat yang sedang sakit tersebut.

Mereka sebenarnya hanya mempraktikkan apa yang selama ini sering dianjurkan oleh aktivis-aktivis pro-demokrasi dalam setiap perhelatan Pemilu. 

Jika dahulu ada slogan yang berbunyi "Ambil uangnya, tapi jangan pilih orangnya", oleh BEM UBK slogan tersebut digeser sedikit menjadi "Ambil uangnya, tapi jangan ubah titik tujuan demonya". 

Terbukti, mereka tetap konsisten melakukan aksi ke Istana dan bukan beralih ke Gedung DPR. Melihat fenomena ini, rasanya pagi ini saya terpaksa harus menggaungkan sebuah seruan keras untuk menghentikan semua bentuk kemunafikan dan hipokrisi yang terjadi di tengah kita.

Jika dianalisis dari kacamata politik, peristiwa yang kemudian saya sebut sebagai "BEM UBK Gate" ini secara jelas memperlihatkan siapa yang mendapat keuntungan dan siapa yang tertinggal. 

Pihak yang mendapatkan keuntungan politik terbesar adalah Wakil Presiden Gibran, yang berhasil digambarkan sebagai sosok aspiratif dan komunikatif dengan rakyat yang saat itu diwakili oleh mahasiswa BEM UBK. Di sisi lain, Presiden terhitung kalah satu langkah karena respons yang lambat. 

Kelambatan ini juga menular pada Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco, Gerindra, serta partai-partai pendukung Presiden lainnya yang sangat terlambat bergerak. Mereka baru menginisiasi pertemuan dengan kelompok aksi di Gedung DPR setelah momentumnya basi. 

Sebagai catatan penutup, jika cara mengantisipasi peristiwa politik di lingkaran kekuasaan masih selambat ini, maka langkah Prabowo untuk bisa melaju ke periode kedua akan terasa agak berat, sehingga seruan "Save Prabowo" menjadi sangat relevan.


PBHI: Kematian 5 Peserta SPPI Bukan Kematian Biasa!

Sebelumnya

Menjaga Gerbang Negeri dari Siem Reap: Indonesia dan Politik Baru Perbatasan Keimigrasian

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Nasional