Pemerintah Kuba secara terbuka menuduh Amerika Serikat terus mendanai dan mengorkestrasi kampanye media secara masif. Langkah tersebut dinilai bertujuan untuk menggiring opini publik global agar memandang rencana agresi militer terhadap Havana sebagai hal yang wajar dan tak terelakkan.
Kecaman keras ini disampaikan langsung oleh Wakil Menteri Luar Negeri Kuba, Carlos R. Fernández de Cossío, melalui pernyataan resmi kementerian. Ia menyoroti pola pemberitaan internasional terkini yang dinilai sengaja dibentuk untuk membenarkan intervensi militer terhadap kedaulatan negaranya.
Cossío menggarisbawahi bahwa fokus pemberitaan yang sedang gencar dipromosikan media saat ini adalah pergerakan dan manuver militer AS di Puerto Riko. Narasi tersebut disusun sedemikian rupa guna menanamkan persepsi bahwa eskalasi bersenjata terhadap Kuba tinggal menunggu waktu.
Diplomat senior Kuba tersebut mengkritik keras absennya pembahasan mengenai hukum internasional dalam gelombang pemberitaan tersebut. Menurutnya, tidak ada satu pun artikel yang mengulas status kriminal dan ilegalitas dari ancaman agresi militer terhadap negara berdaulat.
Selain persoalan hukum, narasi publik yang dibangun AS dinilai sengaja menutup mata terhadap dampak nyata peperangan. Tidak ada pembahasan mengenai dalih invasi yang tidak masuk akal, serta besarnya korban jiwa dan kehancuran materiil yang pasti akan ditimbulkan.
Cossío juga memperingatkan bahwa agresi militer semacam itu akan langsung memicu instabilitas geopolitik yang parah di seluruh kawasan Karibia dan Amerika Latin. Ia menyebut pemaksaan narasi perang ini sebagai tindakan yang sangat tidak bermoral dan berbahaya bagi perdamaian kawasan.
Dalam pernyataannya, Cossío mengungkapkan bahwa strategi Washington juga dilengkapi dengan penyebaran artikel opini dari pihak-pihak yang ia sebut sebagai penulis bayaran. Tugas utama mereka adalah mengarang dan membesarkan kebohongan bahwa Kuba merupakan ancaman bagi keamanan nasional AS.
Kuba secara tegas menolak klaim tersebut dan menyebut perbandingan kekuatannya sangat tidak masuk akal. Cossío menegaskan bahwa Kuba mustahil mengancam AS, yang merupakan kekuatan nuklir terbesar di dunia dengan kepemilikan lebih dari 5.200 hulu ledak nuklir dan 11 armada kapal induk.
Ia turut menyinggung hegemoni militer AS yang memiliki jaringan pangkalan di seluruh belahan bumi, kemampuan operasi klandestin melalui badan intelijen, praktik terorisme negara, serta kapasitas penuh untuk mengintimidasi perekonomian negara lain secara global.
Melalui rilis resmi ini, Havana menegaskan sikap perlawanannya terhadap manipulasi informasi dan intimidasi militer AS. Kuba menyerukan penghentian propaganda permusuhan demi menjaga kedaulatan nasional serta stabilitas politik di kawasan Karibia.



KOMENTAR ANDA