post image
KOMENTAR

Kini tekanan itu juga tumbuh dari dalam.

Dari kampus. Dari kelompok masyarakat sipil. Dari pemilih muda. Dari politisi progresif. Dan perlahan masuk ke kotak suara.

Indonesia seharusnya membaca perubahan ini bukan dengan euforia, melainkan dengan strategi.

Hubungan dengan Amerika tidak cukup hanya dikelola melalui Gedung Putih dan Departemen Luar Negeri. Politik Amerika jauh lebih kompleks. Kongres memiliki pengaruh besar. Pemerintah negara bagian, universitas, lembaga pemikir, komunitas agama, media, diaspora dan organisasi masyarakat sipil ikut membentuk arah kebijakan.

Diplomasi Indonesia perlu masuk lebih jauh ke ruang-ruang itu.

Bukan untuk ikut campur dalam politik domestik Amerika. Bukan pula untuk mendukung Partai Demokrat melawan Republik.

Indonesia justru harus mampu berbicara dengan keduanya.

Jika pemerintahan Amerika dipimpin Republik, Jakarta harus mampu menjaga hubungan baik dengan Republik. Jika Demokrat menguat, komunikasi dengan Demokrat juga harus terbuka. Pada saat yang sama, hubungan dengan kelompok progresif, konservatif moderat, akademisi dan masyarakat sipil harus dibangun terus-menerus.

Inilah arti kebijakan luar negeri yang benar-benar bebas aktif.

Bebas bukan berarti menjauh dari semua pihak. Bebas berarti tidak membiarkan kepentingan nasional dikendalikan oleh satu kekuatan.

Aktif bukan berarti hadir dalam setiap pertemuan internasional. Aktif berarti mampu memengaruhi percakapan dan membangun koalisi untuk mencapai tujuan tertentu.

Palestina dapat menjadi salah satu arena utama diplomasi tersebut.

Indonesia mempunyai modal yang tidak kecil. Kita merupakan negara berpenduduk Muslim terbesar, demokrasi besar, anggota G20, bagian penting ASEAN dan salah satu negara yang semakin diperhitungkan di Global South.

Modal itu akan kehilangan nilai apabila hanya digunakan untuk mengulang pernyataan solidaritas.

Yang dibutuhkan adalah kemampuan menghubungkan kekuatan-kekuatan yang selama ini berjalan sendiri-sendiri.

Negara-negara Islam mempunyai pengaruh ekonomi. Eropa memiliki kepentingan terhadap stabilitas Timur Tengah. Global South memiliki kekuatan moral dan jumlah suara besar dalam forum multilateral. Sementara di Amerika sendiri muncul generasi politik yang lebih berani mempertanyakan kebijakan lama terhadap Israel.

Indonesia dapat menjadi salah satu jembatan di antara mereka.

Tentu El-Sayed tidak boleh dibebani harapan yang terlalu besar. Ia bahkan masih harus memenangkan pemilihan November. Satu senator pun tidak akan serta-merta mengubah kebijakan Amerika.

Zohran Mamdani juga tidak bisa sendirian mengubah Washington.

Tetapi sejarah politik jarang bergerak melalui satu ledakan besar. Sering kali perubahan dimulai ketika hal-hal yang sebelumnya dianggap mustahil perlahan menjadi normal.

Dulu kritik keras terhadap Israel dianggap hampir pasti menghancurkan karier politik seorang kandidat Amerika. Sekarang asumsi itu mulai dipatahkan.

Itulah bagian yang seharusnya dibaca Indonesia.

Pertanyaannya bukan apakah Amerika telah berubah sepenuhnya. Jelas belum.

Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah Indonesia cukup cepat membaca arah perubahan itu.

Prabowo memiliki kesempatan untuk menjadikan politik bebas aktif lebih dari warisan doktrin diplomatik. Indonesia dapat menggunakannya sebagai alat untuk membangun pengaruh dalam dunia yang sedang berubah.


Trump Batasi Hak Kewarganegaraan Lewat Kelahiran dan Larang “Wisata Bersalin”

Sebelumnya

Masuki Fase Penting, Ini Posisi Iran, AS, dan Oman dalam Perjanjian Selat Hormuz

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Dunia